Membangun SDM Tanpa Mengorbankan Kemanusiaan

LIMA nyawa melayang. Angka itu mungkin terlihat kecil dalam statistik sebuah program nasional, tetapi bagi lima keluarga, kehilangan itu tak tergantikan. Tragedi yang menimpa peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) semestinya tidak berhenti sebagai catatan evaluasi administratif. Ia harus menjadi momentum untuk mengkaji kembali bagaimana negara mempersiapkan sumber daya manusia bagi tugas-tugas sipil.
Program SPPI dirancang untuk melahirkan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih. Tugas mereka bukan berada di garis depan pertempuran, melainkan di garis depan pembangunan ekonomi rakyat. Mereka akan mengelola keuangan, membangun kepercayaan masyarakat, mengembangkan usaha desa, serta memastikan koperasi menjadi penggerak kesejahteraan.
Di sinilah muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana pendekatan pelatihan bergaya militer relevan bagi calon pengelola ekonomi masyarakat?
Tidak ada yang meragukan pentingnya disiplin. Kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, dan integritas merupakan modal utama setiap pemimpin. Nilai-nilai tersebut juga menjadi karakter yang selama ini dibangun dalam pendidikan militer. Karena itu, niat pemerintah memasukkan unsur pembinaan karakter melalui Latsarmil patut dipahami sebagai upaya membentuk aparatur yang tangguh.
Namun, pembentukan karakter tidak boleh mengabaikan tujuan utama pendidikan. Karakter yang baik justru harus lahir dari metode yang menghormati keselamatan manusia. Sebab, tidak ada keberhasilan program yang sepadan dengan hilangnya nyawa peserta.
Peradaban Modern vs Peradaban Islam
Dalam perspektif pembangunan modern, kualitas manusia diukur bukan hanya dari ketangguhan fisik, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kecakapan mengelola organisasi, integritas moral, serta kecerdasan sosial. Bagi seorang manajer koperasi, kemampuan membangun kepercayaan masyarakat jauh lebih menentukan daripada kemampuan bertahan dalam latihan fisik yang berat.
Peradaban Islam memberikan pelajaran berharga mengenai hal ini. Kejayaan ekonomi umat pada masa awal Islam tidak dibangun melalui kekuatan militer semata, tetapi melalui amanah, kejujuran, profesionalisme, dan keadilan. Nabi Muhammad SAW bahkan dikenal lebih dahulu sebagai pedagang yang dipercaya sebelum menjadi pemimpin negara. Gelar Al-Amin menjadi fondasi kepemimpinan beliau. Artinya, kepercayaan merupakan modal sosial terbesar dalam membangun peradaban.
Nilai-nilai itulah yang sesungguhnya menjadi soft power sebuah bangsa. Negara yang mampu melahirkan manusia berintegritas akan lebih kuat dibanding negara yang hanya mengandalkan simbol-simbol ketegasan. Karena itu, pembinaan karakter bagi calon pengelola ekonomi rakyat seharusnya lebih banyak diarahkan pada pendidikan etika publik, tata kelola keuangan, kepemimpinan kolaboratif, dan pelayanan kepada masyarakat.
Tragedi ini juga mengingatkan pentingnya akuntabilitas negara. Evaluasi yang dijanjikan Kementerian Pertahanan tidak boleh berhenti pada penyempurnaan prosedur. Publik berhak mengetahui secara terbuka hasil investigasi, kesiapan fasilitas kesehatan, standar mitigasi risiko, hingga mekanisme pertanggungjawaban penyelenggara. Transparansi merupakan syarat mutlak untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program strategis pemerintah.
Pada akhirnya, bangsa ini tidak sedang memilih antara disiplin atau kemanusiaan. Keduanya harus berjalan beriringan. Disiplin yang mengorbankan keselamatan bukanlah disiplin yang diharapkan. Sebaliknya, penghormatan terhadap martabat manusia justru menjadi ukuran tertinggi keberhasilan sebuah negara dalam membangun sumber daya manusianya.
Lima peserta SPPI telah gugur sebelum sempat mengabdi di desa-desa Indonesia. Kepergian mereka menjadi pengingat bahwa pembangunan manusia bukan sekadar mencetak individu yang kuat, melainkan membangun sistem yang mampu melindungi setiap warga negara. Sebab, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya banyaknya program yang dijalankan, tetapi juga seberapa tinggi nilai kehidupan manusia dijaga dalam setiap kebijakan.*
Laporan: Tim UBN Newsroom
