Artikel

Indonesia Peace Convoy: Arak-Arakan Nurani Bela Palestina

Oleh:
Bachtiar Nasir | Insiator Indonesia Peace Convoy

Indonesia Peace Convoy (IPC) bukanlah sekadar touring, bukan pula sekadar iring-iringan kendaraan yang melaju di aspal. Ia adalah kafilah nurani—sebuah arak-arakan kesadaran yang membawa suara umat, jerit kemanusiaan, dan doa-doa sunyi dari negeri jauh yang dilanda derita: Palestina.

Gerakannya bukanlah formalitas, melainkan panggilan jiwa. Sebab suara yang hanya bergema di ruang digital, di media massa tak selalu menjangkau telinga hati. Maka IPC memilih turun ke jalan. Ia mengetuk pintu-pintu kota, menyusuri desa, menyapa pasar, menyusup di sela keramaian, menyampaikan kabar bahwa ada luka besar di bumi para nabi—luka yang tak boleh dilupakan.

Arak-arakan ini berakar pada sejarah. Di masa kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara pernah memimpin iring-iringan sepeda mengelilingi Yogyakarta saat Jakarta mengumandangkan Proklamasi 17 Agustus 1945. Bukan semata menyampaikan kabar kemerdekaan, tetapi menyalakan semangat: bahwa negeri ini telah lahir, dan rakyat berhak tahu. Dari denyut arus rakyat itulah kemudian lahir pernyataan agung: Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII menegaskan, Yogyakarta berdiri tegak bersama Republik Indonesia.

Begitu pula dengan IPC hari ini. Ia tak sekadar berkendara—ia menyampaikan pesan. Ia tak berjalan kaki, karena kendaraan menjadikan gerakannya tertib, terarah, dan mampu menjangkau lebih luas. Bukan simbolis semata, melainkan strategis, agar suara tentang penderitaan Palestina tak berhenti di ruang-ruang elit. Tapi mengalir hingga ke lorong-lorong kehidupan rakyat.

Menuju Kesadaran Kolektif

Di setiap persinggahannya, IPC mendekap umat. Ia datang ke masjid-masjid. Menyapa pesantren, duduk bersama para tokoh dan santri. Ia membawa semangat dakwah, menyerukan ukhuwah, membangkitkan empati. Dalam setiap tabligh akbar yang menyertainya, ada ajakan untuk peduli, untuk bergerak, untuk tidak diam ketika bumi suci diinjak oleh ketidakadilan.

IPC adalah wajah modern dari semangat zaman. Ia menyulam benang sejarah, strategi dakwah, dan cinta kemanusiaan dalam satu jalan panjang menuju kesadaran kolektif. Sebab dalam deru motornya, ada harapan. Dalam langkah rodanya, ada perjuangan. Dan dalam setiap sapaannya, ada ajakan, mari bela Palestina, bukan dengan teriakan kosong. Tapi dengan gerakan nyata yang menghidupkan nurani bangsa.

Hingga hari ini, Indonesia Peace Convoy telah menempuh 15 putaran, melintasi sejumlah kota besar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Dan setiap putaran adalah babak baru perjuangan nurani bangsa Indonesia untuk Palestina yang merdeka.*