Ini Hikmah Pengulangan Ayat dalam Surat Ar-Rahman

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ustaz, dalam Alquran surat Ar-Rahman kita melihat ada ayat yang sangat sering kali diulang-ulang, yaitu ayat “fa bi ayyi aalaai rabbikuma tukazziban”. Apakah hikmah dibalik diulang-ulangnya ayat itu, Ustaz?
Hamba Allah
Jawaban:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Ayat ini memang sering diulang-ulang dalam surat Ar-Rahman yang kalau dihitung semuanya berjumlah 31 kali. Arti dari ayat ini adalah: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Adapun lawan bicara yang Allah maksudkan disini adalah bangsa jin dan manusia.
Dalam surat Ar-Rahman ini, Allah Ta’ala menyebutkan nikmat-nikmat yang banyak sekali yang Dia limpahkan dan berikan kepada jin dan manusia agar mereka bersyukur dan tidak kufur terhadap nimat-nikmat tersebut. Banyaknya nikmat yang Allah limpahkan itu menunjukkan kekuasaan dan rahmat-Nya yang sudah sepantasnya dijadikan sebagai satu-satunya yang berhak disembah.
Adapun hikmah dibalik pengulangan ayat ini antara lain adalah:
Pertama, sebagaimana yang kita ketahui bahwa al-Qur`an diturunkan dalam bahasa Arab dan diantara gaya (uslub) dalam bahasa Arab adalah pengulangan (tikrar) untuk menguatkan dan menambah pemahaman terhadap makna yang dimaksudkan.
Al-Suyuthi dalam kitabnya al-Itqan fi ‘ulumil quran menyebutkan bahwa di antara hikmah atau manfaat dari pengulangan yang ada dalam Alquran adalah untuk pemantapan pemahaman, menambah tekanan terhadap masalah yang dijelaskan, mengingatkan kembali serta menunjukkan kebesaran dan pentingnya masalah yang dijelaskan.
Imam al-Baghawi ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa pengulangan ayat ini dalam surat Ar-Rahman ini merupakan penegasan akan nikmat-nikmat Allah dan anjuran untuk selalu mengingat nikmat-nikmat tersebut.
Gaya pengulangan ini merupakan gaya bangsa Arab dalam penyampaian dan untuk memuaskan pendengarnya, di mana di sini Allah menyebutkan nikmat-nikmat-Nya kepada makhluknya dan setiap menyebutkan dua nikmat Allah mengingatkan hambanya untuk selalu mengingat dan tidak mendustakan nikmat-nikmat tersebut.
Hal itu sama seperti perkataan seseorang kepada orang yang selalu ditolong dan dibantunya tapi dia mengingkarinya: “Bukankah kamu dahulu fakir kemudian saya kasih kamu harta, apakah kamu mengingkari itu? Bukankah kamu dahulu tidak punya pakaian kemudian saya beri kamu pakaian, apakah itu juga kamu ingkari? Gaya bahasa seperti ini biasa dalam bahasa Arab.
Kedua, pengulangan ayat ini sehabis penyebutan setiap nikmat dan bukan hanya sekali saja, ini juga menunjukkan bahwa satu saja nikmat dari nikmat yang banyak itu sudah cukup bagi seorang hamba untuk selalu ingat dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mendustakannya, tanpa harus menunggu dan menghitung nikmat-nikmat Allah lainnya yang tidak akan bisa kita hitung. Wallahu a’lam bish shawab.
KH Bachtiar Nasir
