Hikmah Mengimani Allah sebagai Al-Khabir

Oleh:
KH. Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ
“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (Surat Al Mulk ayat 14).
Al-Khabir adalah salah satu asma Allah yang terdapat dalam Asmaul Husna yang di dalamnya terkandung sifat Al-Khibrah yang artinya adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Menurut ahli tafsir, Allah-lah pemiliki sifat Al-Khabir. Sesuai dengan sifat ini, pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu yang tampak dan semua yang tersembunyi. Beserta semua ilmu-ilmu yang tinggi yang tidak terjangkau manusia dan ilmu-ilmu yang tidak mampu dijamah oleh manusia karena saking berat dan berada di dasar. Tidak ada sesuatu pun yang terluput darinya.
Semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi, Dia mengetahui apa yang telah terjadi, tengah terjadi, dan belum terjadi. Tingkat kesempurnaan pengetahuan Allah meliputi semua yang tersembunyi dan tidak terdeteksi. Tidak ada bisa tersembunyi apa pun dari Allah.
Perbedaaan Al-Aliim dan Al-Khabir
Apa bedanya Al-Ilmu dari sifat-Nya Al-Aliim dengan Al-Khibrah dari sifat-Nya Al-Khabir? Allah Al-Ilmu adalah Allah yang Maha mengetahui segala sesuatu yang nampak dan terkadang juga apa yang tidak nampak. Sedangkan Al-Khibrah adalah hanya Dia yang Maha sempurna mengetahui segala sesuatu. Baik yang nampak dan tidak nampak; yang terkabar dan yang tersembunyi dengan segala esensi yang terdapat di dalamnya. Khususnya, dalam rujukan ayat Al-quran, maka Al-Khibroh akan sangat terkait dengan perbuatan manusia. Segala perbuatan manusia sangat dikenali dan diketahui oleh Allah sebagai Al-Khabir.
Seperti apa perasaan yang ada di dalam hati, meski tidak ditampakkan maka Allah tahu rasa itu apa. Apa namanya, berapa kadarnya, dan dari sisi yang sebelah mana; Allah sebagai Al-Khabir mengetahuinya dengan pasti.
Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Aisyah ra pernah menguntit Rasulullah saw pergi ke Baqi dengan sembunyi-sembunyi. Namun, dengan kabar yang didapat dari Allah Azza wa Jalla, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentu saja mengetahui perbuatan Aisyah ra. Rasulullah kemudian bertanya kepada Aisyah ra untuk apa mengikuti beliau. Aisyah kemudian menjawab tidak ada hal khusus yang mendorongnya untuk mengikuti Rasulullah saw.
Maka Rasulullah kemudian berkata, “Beritahu kepadaku atau aku akan meminta kebenarannya kepada Allah Yang Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati dengan sebenar-benarnya.”
Allah Menilai yang Ada di Hati
Saat kita telah mengetahui tentang karakteristik sifat Allah Al-Khabir ini, maka yang selanjutnya menjadi tuntutan bagi kita adalah menjadi manusia yang jujur. Yang sesuai antara perkataan dan perbuatan. Yang sejalan antara apa yang ada di dalam hati dengan apa yang kita lontarkan. Karena, Allah Ta’ala Mahatahu yang sebenarnya bahkan sampai yang sedetail-detailnya. Tidak ada celah bagi dusta maupun rekayasa yang mungkin tidak dapat diketahui oleh manusia. Namun, bagi Allah semua terang-benderang dan sangat jelas kebenarannya.
Malulah kita menjadi pembohong. Malulah kita, jika masih saja bersikap munafik. Malulah kita untuk korupsi. Karena Allah tidak mungkin dapat dibohongi. Allah Mahatahu apa yang sebenarnya ada di dalam hati dan apa yang menjadi konspirasi.
Ingatlah bahwa Allah Ta’ala tidak pernah menilai kita dari sisi luar. Allah Maha menilai diri kita dari apa yang ada di dalam hati. Apa yang menjadi esensi pendorong kita melalukan suatu aksi. Bukan apa yang terlihat oleh mata kepala. Seperti apa pun kita mendandani diri atau setebal apa pun kita menyelimuti yang ada di dasar hati, Allah Ta’ala akan tetap tahu dengan sejelas-jelasnya. Dan, dari itulah Allah menilai dan membalas apa yang kita lakukan. Bukankah Dia yang Maha mengetahui semua yang diciptakan-Nya dan Dialah Yang Maha mendeteksi semua yang sangat lembut dan pengetahuan-Nyalah Yang Mahasempurna?
Jika Allah mengetahui semua yang kita tampakkan dan sembunyikan maka secara manusiawi, rasa apa yang timbul di hati kita? Tak lain, perasaan yang itu al-khosyyah, al-khauf, wal-hayya minaLlahi Ta’ala. Yaitu, orang yang senantiasa mengenali sifat Allah Ta’ala: Al-Khabir, maka ia akan melakukan segala sesuatu berdasarkan rasa tunduk dan takutnya kepada Allah dan juga rasa malunya yang besar kepada Allah.
Misalkan saja dalam kehidupan sehari-hari, shalatnya akan semakin khusyu karena ia tahu Allah mengetahui apa yang tersembunyi dan berbunyi di dalam hatinya. Ia juga segera melunasi hutang-hutangnya karena takut, hisab Allah lebih cepat mendatanginya. Ia juga berusaha memberikan perlakuan yang terbaik kepada anak dan istrinya karena sebagai ayah, suami, dan kepala keluarga; Allah Mahatahu apakah ia sudah menunaikan kewajibannya ataukah belum. Dari sinilah kemudian akan muncul rasa malu. Malu menjadi ayah yang durhaka, malu menjadi suami yang durhaka, dan malu menjadi kepala keluarga yang durhaka.
Bila selama ini kebanyakan orang hanya tahu kata anak yang durhaka. Padahal banyak sekali ayah yang juga durhaka. Sementara, seorang ayah dituntut menjadi teladan bagi anak-anakanya. Terutama teladan dalam shalat. Nabi Ibrahim as sampai berdoa kepada Allah Azza Wajalla dalam surat Ibrahim ayat 40-41:
رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ
رَبَّنَا ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ ٱلْحِسَابُ
“Ya tuhanku, jadikanlah aku sebagai orang yang mendirikan shalat dan juga keturunanku. Ya Tuhanku, terimalah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku dan orang-orang mukmin di hari perhitungan.” (Surat Ibrahim ayat 40-41).
Doa ini terucap karena Nabi Ibrahim as sangat mengetahui urgensi menjadi teladan shalat bagi anak dan keluarganya. Malu bagi ayah yang tidak menjadi teladan shalat berjamaah. Malu bagi ayah yang tidak menjadi teladan shalat yang khusyu bagi anak-anaknya. Malu bagi ayah yang tidak menjadi teladan shalat di awal waktu bagi anak-anaknya. Apabila ingin bercermin, apakah kita menjadi ayah yang durhaka atau tidak maka lihatlah shalat kita. Sudahkah rapi berjamaah, sudahkah khusyu, dan sudahkah di awal waktu.
Sementara, untuk menengahi apabila terjadi konflik di dalam eumah tangga, Allah menurunkan surat Annisa ayat 35:
وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَٱبْعَثُوا۟ حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِۦ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَآ إِن يُرِيدَآ إِصْلَٰحًا يُوَفِّقِ ٱللَّهُ بَيْنَهُمَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا
“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Jangan cepat melontarkan kata cerai kepada istri. Bila terdapat pertikaian, maka kedepankanlah orang-orang bijak yang dapat mewakili kedua belah pihak dengan itikad yang baik. Untuk mengadakan perbaikan di antara keduanya. Jangan hanya menuduhkan kesalahan kepada istri sementara dirinya sendiri tidak berlaku adil kepada istrinya. Ingatlah, sesungguhnya Allah Al-Khabir Maha mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hatimu dengan sedetail-detailnya.
Inilah tuntunan yang Allah berikan agar taufiq-Nya turun dan mengatasi seluruh pertikaian yang ada. Orang-orang yang menyerahkan urusannya pada prosedur yang Allah tetapkan akan mendapatkan pertolongan Allah dan urusan rumah tangganya akan diberikan jalan keluar yang terbaik. Karena, hanya Allah Al-Khabir lah yang Maha mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi dan apa yang terbaik untuk kedua belah pihak.
Mengetahui dan mengimani sifat Allah Al-Khabir, sejatinya akan membuat kita menjadi pribadi yang mawas diri. Karena Allah bahkan tidak memerlukan alat untuk mendeteksi apa yang ada di dalam hati dan apa yang kita sembunyikan di balik manisnya wajah dan kata-kata. Allah Azza Wajala Maha mengetahui apa yang sesungguhnya berbunyi di dalam hati dan hisab Allah sungguh lebih cepat dari apa yang dapat kita sangka.
Oleh karena itu, malulah untuk “bermain belakang” karena Allah tidak pernah bisa dibelakangi dan dibohongi. Juga segeralah bertaubat dan bertekad untuk melakukan perbuatan-perbuatan terbaik yang tulus, untuk membuat kasih sayang Allah mendahului murka-Nya atas kesalahan yang telah kita perbuat. Wallahu ‘alam bish shawab.*
