KSP

Jangan Memohon Tanpa Ilmu, Jangan Berjalan Tanpa Petunjuk

Oleh KH Bachtiar Nasir

Andai kita punya waktu terbatas, kejarlah Allah Yang Maha Dekat. Kita mohonkan doa-doa kepada-Nya dengan merendahkan diri. Dan tidak meminta sesuatu yang kita tidak ketahui hakikatnya.

Lihat Surah Hud ayat 47:

قَالَ رَبِّ اِنِّيْٓ اَعُوْذُ بِكَ اَنْ اَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِيْ بِهٖ عِلْمٌۗ وَاِلَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْٓ اَكُنْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ ۝٤٧

(Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi.”

Berbeda dengan doa Nabi Adam yang memohon ampunan dosanya, doa Nabi Nuh di sini memohon perlindungan dari sesuatu yang tidak diketahui (hakikatnya).

Muhasabah ayat

Secara umum, isi ayat 47 Surah Hud ini berupa permohonan kepada Allah dari sesuatu yang kita tidak tahu hakikatnya.

Pernahkah anak kita meminta sesuatu yang dia tidak tahu hakikatnya, dan kita sebagai orang tua tidak mengabulkan permintaannya karena kita tahu apa itu diminta itu tidak bermanfaat untuk si anak?

Demikian pula jika kita meminta kepada Allah akan sesuatu yang kita tidak tahu kebaikannya untuk kita. Justru bisa jadi kita sedang menganiaya diri sendiri karena meminta kepada Allah yang tidak kita ketahui hakikatnya.

Inti ayat ini adalah, jangan meminta hal-hal yang kita tidak mengerti.

Untuk itu memohonlah kepada Allah berupa perlindungan dari permintaan yang kita tidak ketahui hakikatnya.

Ayat 47 ini adalah doa Nabi Nuh ketika Allah menegurnya. Nabi Nuh memohon keselamatan untuk anaknya. Tetap Allah menjelaskan bahwa anak tersebut bukanlah anak yang dijanjikan keselamatannya karena dia kufur.

Keselamatan itu ada syarat yang mengikat. Salah satu anak Nuh tidak mendapatkan hak itu karena dia kufur.

Nabi Nuh ditegur oleh Allah, tetapi dia tidak membela diri, tidak protes. Nabi Nuh datang merendahkan diri, dia mengakui keterbatasan ilmunya. Dia memohon perlindungan atas sesuatu yang tidak diketahui hakikatnya.

Nabi Nuh tidak mendahului keinginannya, tidak memaksakan kehendaknya kepada Allah.

Muhasabah pertama

Apakah selama ini kita bertindak dengan ilmu? Berapa banyak di antara kita bertindak tanpa kita ketahui kebenarannya? Berapa banyak berita yang kita sebar tanpa kita ketahui kebenarannya? Berapa banyak keputusan yang diambil dengan emosi tanpa petunjuk Allah?

Inilah pertanyaan mendasar, tanpa kita sadari kita melakukan itu semua.

Begitu banyak perkataan yang kita sampaikan tanpa kita ketahui kebenarannya. Banyak berita hoax yang kita ikut sebarkan dan ini merugikan banyak orang dan mendatangkan penyesalan.

Begitu banyak penilaian terhadap orang lain hanya berdasarkan prasangka. Ini sangat berisiko.

Hati-hati memberi penilaian terhadap saudara kita sendiri berdasarkan prasangka. Ini akan menutup pintu rezeki kita.

Berapa banyak keputusan yang sudah kita ambil berdasarkan emosi; benci, iri, hasad?

Berbicara dan bertindak tanpa ilmu adalah kesalahan. Risiko ini akan dipertanggungjawabkan.

Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak ketahui ilmunya.

Lihat Surah Al-Isra ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا ۝٣٦

Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

Mengakui ketidaktahuan lebih selamat daripada berbicara dengan keyakinan palsu. Jal ini bisa membuat kita tertutup dari rahmat Allah.

Muhasabah kedua

Apakah kita memaksakan keinginan kepada Allah atas nama doa-doa?

Renungkan, kadang kita berdoa tetapi mengatur Allah agar doa dikabulkan, karena kita merasa apa yang kita minta pasti benar dan baik untuk kita.

Padahal apa yang baik bagi kita belum tentu baik di mata Allah.

Allah mengetahui yang tampak dan tersembunyi, rahasia masa depan Allah tahu. Boleh jadi apa yang kita minta membahayakan masa depan kita.

Terutama di dalam keluarga-keluarga, soal materi hati-hatilah. Juga tentang jodoh anak. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

Boleh jadi yang kita tidak sukai itu justru menjadi jalan keselamatan.

Kita berharap agar Allah senantiasa memberikan ilmu-Nya pada tindakan dan keputusan kita. Sebelum berdoa, mintalah kepada Allah yang baik menurut ilmu-Nya.

Muhasabah Ketiga

Maukah kita menerima teguran? Misalnya, teguran Allah berupa kerugian dan ujian, penyakit, musibah besar.

Nabi Nuh adalah seorang nabi dan Rasul. Tetapi ketika Allah menegurnya, Nuh langsung tunduk.

Lalu bagaimana kita saat ditegur? Dengan kesombongan kita, ketika ditegur akan merasa gelisah, marah, mencari-cari alasan.

Tanda keikhlasan bukanlah tidak pernah salah, tetapi segera kembali kepada Allah. Segera bertaubat ketika menyadari dirinya keliru. Dia termasuk orang yang dekat dengan Allah.

Muhasabah keempat

Tanpa muhasabah diri kita termasuk orang yang merugi. Dengan memohon dan mengemis kepada Allah untuk mendapatkan maghfiratullah.

Tanpa ampunan dan rahmat Allah kita termasuk orang merugi. Bahkan Nabi Nuh dalam ayat ini berkata, “Jika Engkau tidak mengampuni aku, maka aku termasuk orang-orang yang merugi.”

Ayat ini mengajarkan, bahwa keselamatan tidak tergantung kepada ilmu, amal, dan pengetahuan dan pemahaman kita. Tetapi kita keselamatan berdasarkan pada ampunan dan rahmat Allah.

Muhasabah kelima 

Betapa pun tinggi kedudukan seseorang, kaya harta, kuat kekuasaannya, tetap ada kelemahannya. Kita tidak bisa selamat tanpa rahmat dan ampunan Allah. Amal kita tidak akan mampu menyelamatkan kita.

Jangan pernah merasa aman dari dosa dan jangan pernah abaikan untuk memohon rahmat-Nya.

Pertanyaan kepada diri sendiri:

1. Apakah kita pernah berbicara tentang sesuatu yang kita tidak ketahui kebenarannya?

2. Apakah kita pernah menyebarkan berita atau informasi tanpa memeriksa sumber dan kebenarannya?

3. Apakah kita sering memaksa Allah dalam doa-doa kita?

4. Apakah kita ridho dengan keputusan Allah?

5. Apakah kita lebih membela ego atau mengakui kesalahan sendiri?

Semoga Surah Hud ayat 47 ini membawa kita untuk bebenah dan muhasabah diri.*