Menggali Nasihat dari Gurindam Dua Belas

Oleh: KH Bachtiar Nasir
Bismillahirrohmanirrohiim,
Kita mengenal bait-bait berupa nasihat dalam Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yang beliau tulis sekitar 178 tahun yang lalu. Untaian nasihat indah ini beliau tulis sebagai bentuk tanggungjawab moral, dan dengan hikmahnya dituangkan keprihatinannya dalam bentuk sastra. Saat itu Raja Ali Haji merasa ada keperluan untuk menjaga eksistensi agama Islam yang saat itu sudah menjadi panduan hidup masyarakat tanah Melayu.
Waktu itu beliau menulis karena ada pengaruh Barat yang masuk ke tanah Melayu. Raja Ali Haji prihatin dengan kehidupan masyarakat Melayu terhadap pengaruh dari Barat.
Ada beberapa kosa kata dan diksi yang sudah tidak lagi dikenal oleh generasi sekarang, seperti tegah artinya larangan. Namun nasihat-nasihat dalam Gurindam Dua Belas ini menggunakan bahasa yang begitu simple dan mudah dipahami.
Berikut untaian sajak dari Gurindam Dua Belas pasal 1:
Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat, maka ia itulah orang yang ma’rifat.
Barang siapa mengenal Allah, suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia, tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat, tahulah ia dunia mudarat.
Gurindam isinya berupa nasihat. Arti gurindam adalah kata bersajak yang terdiri dari dua baris yang berisi petuah atau nasihat. Adapun, gurindam juga merupakan puisi lama yang terdiri dari dua bait. Dalam tiap baitnya terdiri dari dua baris kalimat dengan rima yang sama dan menjadi satu kesatuan yang utuh.
Mari kita pelajari isinya baris demi baris.
Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Maksudnya adalah setiap manusia harus memiliki agama, karena agama sangat penting bagi kehidupan manusia, orang yang tidak mempunyai agama akan buta arah menjalankan hidupnya.
Barang siapa mengenal Allah, suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Artinya, barangsiapa mengenal Allah, menjalankan perintahnya dan dia mencegah orang lain berbuat dosa, dia tidak menyalahi aturan Tuhannya.
Barangsiapa yang mengenal Allah, maka perintah dan larangan-Nya tidak akan menyelisihi aturan-aturan Tuhannya. Inilah pentingnya mengenal aturan Allah.
Barang siapa mengenal yang empat, maka ia itulah orang yang ma’rifat.
Empat zat tersebut tersebut, yaitu syari’at, tarikat, hakikat dan makrifat. Artinya jika kita mengenal makrifat Allah adalah orang yang mulia. Tetapi dalam kehidupan yang lebih luas, isi gurindam dua belas ini menjadi nasihat bagi kita semua.
Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.
Maksudnya adalah orang yang mengetahui dirinya, dia paham bahwa di dalam dirinya banyak sekali ayat-ayat Allah sebagai tanda tentang kekuasaan Tuhannya. Kalau kita perhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki, kita akan paham bahwa kekuasaan Allah itu sempurna zat-Nya, sempurna nama-Nya, sempurna Allah dengan sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya.
Barangsiapa mengenal dunia, tahulah ia barang yang teperdaya.
Maksudnya adalah kita sudah tahu kalau mau sukses kita harus tahu dan paham lingkungan. Dunia tidak akan memperdayakannya. Mereka yang hanya mencari kebahagiaan di dunia saja, sebenarnya ia akan tertipu dan menyadarinya bahwa di dunia itu hanya sesaat saja.
Barang siapa mengenal akhirat, tahulah ia dunia mudarat.
KIta hidup di dunia ini hanya sesaat. Setelah kita wafat, setiap diri kita akan dimintakan pertanggung jawabannya kelak di akhirat.
Jadi, Inti gurindam dua belas pasal 1 adalah anjuran untuk:
Mengenal agama.
Mengenal makrifat.
Mengenal Allah
Mengenal diri
Mengenal dunia
Mengenal akhirat. (*)
