Muhasabah Diri: Penyelamat Paling Mudah adalah Taubat

Oleh KH Bachtiar Nasir
Bulan Rajab adalah bulan yang baik untuk mulai membenahi diri, agar di Bulan Sya’ban tinggal meneruskan kebiasaan baik, dan di Bulan Ramadhan sudah terbentuk keistiqomahan.
Mari pertanyakan kepada diri sendiri, apa kabar Bulan Rajab kita?
Astaghfirullah al’adziim, betapa bodohnya kami, Ya Rabb. Di bulan ini di mana Engkau mengingatkan kami untuk tidak menganiaya diri sendiri, justru kami masih terperosok dan berlaku zalim kepada diri kami sendiri.
Harusnya bulan ini kami jaga untuk tidak menzalimi diri sendiri. Tetapi kami adalah makhluk kotor dan lemah, tak luput dari salah dan dosa.
Kerja kami hanya membuat dosa dan sesal. Betapa banyak malam-malam yang kami lewatkan, seharusnya kami habiskan dengan ayat-ayat panjang, dan harusnya kami banyak meminta kepada-Mu, tetapi kami lewatkan begitu saja.
Di siang hari, harusnya kami gunakan sebaik-baiknya, tetapi kami larut dengan kesibukan dunia dan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Jika di Bulan Rajab ini hati kami masih lalai dan keras, dan Bulan Rajab ini kami tidak menanam, bagaimana kami bisa memanen kelak di Ramadhan?
Robbana, kalau bukan karena ampunan dan Rahmat-Mu, betapa kotor dan hinanya kami.
Engkau sudah ingatkan kami dan melarang kami untuk tidak menzalimi diri sendiri, tetapi masih saja kami langgar. Kalau bukan rahmat dan ampunan-Mu, sudah gagal kami di bulan ini.
Ya Allah, maksiat adalah kezaliman pada diri sendiri. Ajari kami, agar kami menghargai waktu, ajari kami untuk berhenti menzalimi diri sendiri.
Rajab datang bukan saja sebagai penanda waktu, tetapi sebagai alarm kasih sayang-Mu. Tapi masih saja kami lewatkan dengan kelalaian.
Tidak ada dosa karena Engkau, ya Allah. Dosa kami adalah karena perbuatan kami sendiri. Kegagalan dan kesulitan senantiasa hadir dalam diri kami, jika kami tidak mawas diri terhadap peringatan Engkau.
Rajab adalah bulan penangguhan. Selama napas masih ada, pintu taubat belum ditutup. Menunda taubat di Bulan Rajab sama saja merugikan diri sendiri.
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”
رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
Ya Allah, hentikan kezaliman terhadap diri kami sendiri sebelum ia menjadi kebiasaan yang membinasakan.
Kalau benar-benar kita sayang pada diri sendiri dan tidak mau mencelakakan diri sendiri, kita akan berani mengatakan TIDAK pada semua ajakan maksiat.
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
“Hai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau.” (HR Bukhari)
Ketahuilah, penyelamat paling mudah dalam kondisi sudah terjerumus dosa adalah bertaubat.
Rajab mengajarkan kita, siapa yang menyambut peringatan Allah, hidup akan tenang.
Semoga Rajab menjadi kesempatan untuk menanam, bulan depan untuk menyiram, dan Ramadhan kita akan memanen.
