Jangan Gantungkan Hatimu pada Validasi Orang Lain

Oleh KH Bachtiar Nasir
Kata ulama, kalau mau jadi orang bahagia di antara semua manusia, jangan menggantungkan hatimu pada ucapan terima kasih dari orang lain.
Kenapa harus bergantung pada validasi orang lain?
Selanjutnya, kata ulama, merasa cukuplah hanya kepada Allah Yang Maha Memberi semua balasan.
Jangan biarkan dirimu terbebani oleh mereka yang ingkar, benci, dan dengki terhadapmu.
Jika waktu pagi menyapamu, jangan menunggu hatimu di waktu senja. Artinya kalau sekarang hari pagi, jangan menunggu sore.
Hiduplah menurut batas hari ini saja. Satukan seluruh potensi dan energimu untuk memperbaiki dan menuntaskan harimu di hari ini.
Bayangkan, apa yang paling sering menguras kebahagiaanmu? Sebetulnya bukan karena kurangnya kebaikan yang kamu lakukan, tetapi harapan pengakuan orang yang tak kunjung datang.
Ketika kita terjebak dengan validasi external, butuh pujian dari orang lain, butuh ucapan terima kasih, inilah masalah kita. Padahal ketenangan itu lahir ketika pusat kendali datang dari diri kita sendiri. Pusat kendali bukan muncul dari luar, tetapi dari hati kita sendiri. Jadikanlah diri kita menjadi pusat kendali kebahagiaan kita.
Saat kebaikan kita tidak dibalas oleh orang lain, jangan tafsirkan itu sebagai kerugian. Kalau perbuatan baik kita tidak dibalas, dan kita merasa dirugikan, pikiran dan kebahagiaan kita akan terganggu.
Harusnya, camkan dalam hati, “Aku beramal karena Allah bukan kerena mengharap tepuk tangan manusia. Aku berbuat baik dalam sunyi karena aku tidak butuh decak kagum atau dua jempol orang lain.” Inilah yang namanya kita menjadi pusat kendali diri kita.
Kalau tidak demikian, akan terkuras beban-beban emosi kita karena tidak mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Bagusnya, tanamkan bahwa aku berbuat karena Allah dan aku risih kalau dipuji. Dengan begitu beban-beban negatif yang menyelimuti hati kita akan hilang.
Kecemasan seringkali muncul bukan karena merasa hari ini berat dan panjang. Tetapi karena pikiran melompat ke hari esok atau lusa, kadang lompat ke kemarin. Semuanya ditumpuk pada hari ini. Yang sudah terjadi dan yang belum dipikirkan, semua menumpuk di hari ini. Padahal kekuatan sejati ada pada masa sekarang atau present moment.
Selesaikan satu per satu secara bertahap, sehingga yang besok tidak menjadi beban dan yang kemarin menjadi ringan.
Begitulah orang-orang yang bertaubat terhadap masa lalunya dan bertawakal untuk hari esok.
Jadi kecemasan bukan muncul karena hari ini berat, tetapi karena pikiran kita melompat pada esok hari dan masih kepikiran dengan hal kemarin.
Pikirkan apa yang membuat kita bahagia hari ini, dan apa yang bisa kita benahi agar pikiran kita bahagia.
Kebahagiaan bukan hidup tanpa masalah, tetapi tentang menyederhanakan fokus, meluruskan niat , dan menenangkan hati. Sehingga hal-hal berat menjadi ringan.
Ingatlah, hari ini cukup untuk hari ini, dan Allah cukup untuk segalanya.
