Sibuk Memperbaiki Catatan Amal

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
KALAU suatu hari ada yang bertanya, “Sekarang sibuk apa?” mungkin jawaban paling jujur dan paling menenangkan adalah, “Lagi sibuk memperbaiki catatan amalku.”
Sebab cepat atau lambat, kita semua akan sampai pada satu momen yang tak bisa ditunda. Allah SWT akan berfirman, “Iqra` kitabak”, bacalah catatan amalmu sendiri. Bukan catatan orang lain. Bukan ringkasan. Tapi seluruh rekam jejak hidup kita, sejak niat yang paling sunyi sampai perbuatan yang paling terang.
Al-Qur’an menggambarkan dengan sangat personal: “Wa kulla insānin alzamnāhu ṭā’irahu fī ‘unuqih”, setiap manusia telah digantungkan catatan amalnya di lehernya sendiri (QS. Al-Isra: 13). Dua malaikat mencatat, rapi tanpa lupa. Dan kelak, setelah kehidupan ini selesai, catatan itu dibentangkan di hadapan mata. Terbuka. Jelas. Tak ada yang bisa disembunyikan.
Menariknya, kita bukan hanya pembaca. Kita juga diminta menjadi auditor bagi diri sendiri. Menghisab diri kita dengan mata kepala sendiri. Di titik itu, tak ada ruang berkilah, tak ada alasan pembelaan. Kita sendirilah yang paling tahu dan paling tak bisa mengelak.
Ada gambaran yang menyejukkan tentang orang-orang beriman. Cara mereka membaca catatan amal di akhirat mirip dengan cara mereka hidup di dunia. Mereka terbiasa bercermin pada kekurangan, rajin mengoreksi dosa, dan tidak mudah puas pada kebaikan diri. Maka ketika membaca catatan amalnya, mereka justru membuka halaman keburukan lebih dulu. Sedih. Tertunduk. Padahal sebenarnya mereka orang baik.
Lalu, saat beralih ke catatan amal baik, tertulis kalimat yang membahagiakan, semua keburukan itu telah diampuni dan dihapuskan. Bahagia yang tak bisa dilukiskan. Barulah setelah itu, satu per satu amal diterima oleh Allah SWT.
Sebaliknya, orang yang di dunia sibuk memuja kebaikan diri dan lupa menyesali dosanya, di akhirat pun membaca catatan dengan cara yang terbalik. Awalnya senang melihat amal baik. Bangga. Sampai tiba pada catatan buruk, dan di situlah keterkejutan terjadi. Tertulis, seluruh amal baik tertolak. Syok. Dan setelahnya, lembar demi lembar penolakan.
Mungkin memang seperti itu hukum keadilan Allah, cara kita hidup, itulah cara kita dihisab.
Maka sebelum sampai pada hari itu, sebelum catatan itu dibentangkan, bukankah lebih bijak jika dari sekarang kita rutin membukanya sendiri? Mengoreksi, menyesali, memperbaiki. Bukan untuk merasa paling suci, tapi agar tak kaget saat semuanya tak bisa lagi diedit.
Semoga kita termasuk orang yang sibuk memperbaiki catatan amalnya, sebelum diminta membacanya.*
