Mewariskan Kebaikan kepada Anak

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
SETIAP orang tua tentu berharap anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salehah. Anak-anak yang kelak menjadi penyejuk hati, membawa kebaikan bagi keluarga, sekaligus meneruskan amal baik yang telah dirintis orang tuanya.
Namun, kesalehan ternyata bukan sesuatu yang otomatis diwariskan melalui darah dan keturunan. Anak dari orang tua yang saleh tetap memiliki pilihan hidupnya sendiri. Karena itu, menjadi orang tua bukan hanya tentang mewariskan harta, nama baik, atau pendidikan, tetapi juga tentang meninggalkan jejak kebaikan yang dapat diteladani.
Allah SWT mengingatkan hal tersebut dalam Surah As-Saffat ayat 113:
“Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya (Ibrahim) dan kepada Ishak. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik (muhsin) dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim kepada dirinya sendiri.”
Ayat ini mengandung pelajaran penting. Nabi Ibrahim AS adalah seorang nabi yang diberkahi Allah. Demikian pula keturunannya. Namun, dari keturunannya tetap ada yang menjadi orang baik dan ada pula yang memilih jalan yang salah.
Artinya, nasab yang baik bukan jaminan seseorang akan otomatis menjadi baik. Kesalehan membutuhkan perjuangan, pendidikan, keteladanan, dan tentu saja doa.
Di sinilah tanggung jawab orang tua menjadi sangat besar. Kita tidak cukup hanya berharap anak menjadi baik. Kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri: kebaikan seperti apa yang sedang kita contohkan kepada mereka?
Sebab, anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat yang kita sampaikan. Mereka juga belajar dari cara kita berbicara, bersikap, menghadapi masalah, memperlakukan orang lain, bahkan dari bagaimana kita bersikap ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Sering kali kita berpikir bahwa warisan terbaik untuk anak adalah rumah, tabungan, tanah, atau usaha yang sudah mapan. Semua itu memang penting. Tetapi ada warisan yang nilainya jauh lebih panjang: kebiasaan berbuat baik.
Ada orang tua yang meninggalkan pesan sederhana kepada anaknya, “Jangan pernah lupakan orang-orang kecil.”
Pesan itu bukan sekadar kalimat. Semasa hidup, ia membiasakan diri membantu tetangga yang kesulitan, bersedekah tanpa banyak diketahui orang, dan membantu pendidikan anak-anak dari keluarga yang tidak mampu.
Kebaikan-kebaikan itu mungkin tidak tercatat dalam surat wasiat. Tidak pula terpampang dalam bentuk harta benda. Tetapi ia tinggal dalam ingatan anak-anak dan perlahan menjadi teladan yang mereka teruskan.
Inilah salah satu bentuk warisan yang tidak mudah habis. Ketika anak mengikuti kebaikan orang tuanya, lalu kebaikan itu diteruskan kepada orang lain, jejak amal tersebut dapat terus mengalir.
Karena itu, jangan meremehkan kebaikan yang dilakukan secara sederhana dan diam-diam. Bisa jadi, justru dari sanalah keberkahan sebuah keluarga bermula.
Tetap Menjadi “Gula” di Tengah Kepahitan
Dalam kehidupan, tidak semua orang akan memperlakukan kita dengan baik. Ada yang mengecewakan, menyakiti, bahkan berbuat buruk kepada kita.
Namun, orang tua memiliki kesempatan untuk menunjukkan kepada anak bagaimana menghadapi kepahitan tanpa ikut menjadi pahit.
Ada sebuah perumpamaan sederhana: jika orang lain menjadi kopi yang pahit, maka kita tetap harus menjadi gulanya.
Maknanya bukan berarti kita membiarkan kezaliman atau tidak boleh tegas. Tetapi keburukan orang lain tidak harus mengubah kita menjadi buruk pula.
Jika anak melihat orang tuanya tetap mampu memaafkan, membantu orang lain, menjaga lisan, dan membalas keburukan dengan kebaikan, sesungguhnya ia sedang mendapatkan pelajaran yang jauh lebih kuat daripada nasihat panjang.
Anak sedang belajar bahwa menjadi baik bukan hanya ketika diperlakukan baik. Menjadi baik justru diuji ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan.
Memulai dari Doa dan Keteladanan
Mendidik anak menjadi pribadi yang baik tidak pernah selesai hanya dengan memberikan perintah. Ia harus dimulai dari doa dan keteladanan.
Nabi Ibrahim AS memberikan contoh doa yang sangat indah:
“Rabbi hab li minas-shalihin.”
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku anak yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS ash-Saffat: 100).
Kita juga dapat memanjatkan doa yang Allah abadikan dalam Alquran:
“Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj’alna lil-muttaqina imama.”
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS al-Furqan: 74).
Ada pula doa Nabi Ibrahim AS agar dirinya dan keturunannya senantiasa mendirikan shalat:
“Rabbij’alni muqimash-shalati wa min dzurriyati, rabbana wa taqabbal du’a.”
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS Ibrahim: 40).
Doa-doa tersebut mengajarkan bahwa mendidik keluarga harus berjalan bersama ikhtiar dan ketergantungan kepada Allah SWT.
Kita mendidik dengan ilmu. Kita mengarahkan dengan nasihat. Kita menjaga dengan perhatian. Tetapi pada akhirnya, hidayah adalah milik Allah.
Karena itu, jangan pernah bosan mendoakan anak-anak. Mintalah agar Allah menambahkan iman, ilmu, adab, dan amal saleh kepada mereka. Mintalah agar mereka dijauhkan dari perbuatan yang menzalimi diri sendiri dan dijadikan manusia yang kehadirannya membawa manfaat bagi orang lain.
Pada saat yang sama, orang tua juga perlu terus melakukan muhasabah. Sebab, bisa jadi kita terlalu sibuk meminta anak menjadi saleh, tetapi lupa memperbaiki kesalehan diri sendiri.
Kita ingin anak rajin shalat, tetapi bagaimana dengan shalat kita? Kita ingin anak menjaga ucapan, tetapi bagaimana dengan lisan kita? Kita ingin anak menghormati orang lain, tetapi bagaimana cara kita memperlakukan orang-orang di sekitar?
Anak-anak mungkin lupa sebagian nasihat yang kita sampaikan. Tetapi mereka akan lebih mudah mengingat apa yang setiap hari mereka lihat.
Maka, warisan terbaik sesungguhnya bukan hanya apa yang kita tinggalkan setelah meninggal dunia. Warisan terbaik adalah kebaikan yang hidup dalam diri anak-anak dan terus mereka bawa setelah kita tiada.
Semoga Allah SWT menjadikan kita dan keturunan kita termasuk orang-orang yang muhsin, orang-orang yang senantiasa berbuat baik, serta menjadikan keluarga kita sumber keberkahan bagi lingkungan di sekitarnya.
Sebab, boleh jadi rumah yang sederhana, tetapi di dalamnya tumbuh anak-anak yang mencintai Allah, menjaga shalat, berakhlak baik, dan gemar menolong sesama. Itulah keluarga yang sesungguhnya sedang membangun warisan—bukan sekadar untuk dunia, tetapi untuk kehidupan yang lebih panjang di hadapan Allah SWT.*
