Jangan Pernah Berputus Asa dari Rahmat Allah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
HIDUP tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan. Ada kalanya perjalanan terasa mudah, tetapi ada pula saat kita harus melewati jalan yang penuh tanjakan dan tikungan.
Hari ini mungkin kita masih bisa duduk nyaman di rumah, tidur dengan tenang, menikmati makanan, dan berkumpul bersama keluarga. Untuk semua itu, sudah semestinya lisan kita tidak berhenti mengucapkan, Alhamdulillah wa syukurillah.
Sebab, di tempat lain, ada saudara-saudara kita yang sedang menghadapi ujian berat. Ada yang harus tinggal berminggu-minggu di tenda pengungsian karena bencana. Ada pula yang tiba-tiba kehilangan kesehatan, pekerjaan, rumah, bahkan orang yang dicintainya.
Kehidupan memang penuh dengan ketidakpastian. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi beberapa jam atau beberapa hari ke depan.
Karena itu, selain berusaha dan berhati-hati, seorang Muslim membutuhkan tawakal. Kita juga perlu menumbuhkan empati. Kesulitan yang menimpa orang lain seharusnya mengingatkan kita untuk bersyukur atas nikmat yang masih kita rasakan.
Namun, ada satu hal yang jauh lebih penting untuk selalu kita pegang: jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT.
Allah memberikan kabar yang sangat menenangkan dalam Alquran. Dalam Surah Al-A’raf ayat 156, Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki, dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
Ayat ini mengajarkan kepada kita betapa luasnya rahmat Allah. Ketika berbicara tentang siksa, Allah menyebutkannya secara khusus: kepada siapa yang Aku kehendaki. Namun, ketika berbicara tentang rahmat, Allah mengatakan bahwa rahmat-Nya meliputi segala sesuatu.
Artinya, jangan melihat kehidupan hanya dari sisi kesulitan dan dosa yang kita miliki. Jangan sampai kesalahan masa lalu membuat kita merasa tidak lagi pantas mendapatkan ampunan Allah.
Manusia memang tempat salah dan lupa. Tidak ada seorang pun yang amalnya benar-benar sempurna. Ibadah kita masih banyak kekurangan, sementara dosa dan kesalahan mungkin terus bertambah.
Tetapi Allah tidak pernah menutup pintu kembali.
Dalam Surah Al-An’am ayat 12, Allah berfirman bahwa Dia telah menetapkan rahmat atas diri-Nya: Kataba ‘ala nafsihir-rahmah.
Ini menunjukkan betapa luas kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Tidak ada satu pun yang dapat memaksa Allah melakukan sesuatu. Namun, dengan kehendak dan kemurahan-Nya sendiri, Allah menetapkan rahmat bagi diri-Nya.
Maka, tidak ada alasan bagi seorang Mukmin untuk menyerah.
Ketika jatuh dalam dosa, bangkitlah dengan tobat. Ketika mendapatkan musibah, bersabarlah. Ketika menerima nikmat, bersyukurlah. Ketika melihat orang lain tertimpa kesulitan, ulurkanlah tangan dan doakanlah.
Kita tidak pernah tahu bagaimana akhir perjalanan hidup kita. Karena itu, jangan merasa terlalu aman dengan amal yang telah dilakukan. Sebaliknya, jangan pula merasa terlalu hina karena dosa yang pernah diperbuat.
Yang harus kita lakukan adalah terus mendekat kepada Allah.
Jika kelak Allah mengizinkan kita memasuki surga-Nya, itu bukan semata-mata karena hebatnya amal kita. Amal kita penuh kekurangan. Ada lalai di dalamnya, ada riya yang mungkin menyelip, dan ada banyak kesempatan berbuat baik yang kita lewatkan.
Namun, kita berharap surga itu menjadi bagian dari kita karena rahmat Allah SWT.
Maka, selama masih diberi kesempatan hidup, mari memperbanyak syukur, memperbaiki diri, bertobat, dan memperbanyak istighfar.
Jangan pernah merasa dosa kita terlalu besar untuk mendapatkan ampunan Allah. Jangan merasa masalah kita terlalu berat untuk mendapatkan pertolongan-Nya.
Sebab, rahmat Allah jauh lebih luas daripada dosa dan kesulitan yang kita bayangkan.
Selama napas masih berembus, pintu untuk kembali kepada Allah masih terbuka. Wallahu a’lam bish-shawab.*
