Kapal Ikhlas di Lautan Syukur

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.” Qs. Luqman ayat 31
-Barang siapa yang menolong Palestina, Gaza, dan Baitul Maqdis maka sesungguhnya kita sedang menolong diri sendiri untuk lebih dekat dengan Allah Azza wa Jalla-
Pejuang Nusantara di zaman nenek moyang kita dahulu selalu berkata, jangan takut pada ombak, angin, bahkan musuh; tetapi takutlah hanya kepada Allah Yang menguasai bumi, lautan, dan langit serta segala hal yang ada di alam semesta ini. Maka hadapkanlah sepenuh hatimu kepada Allah Ta’ala. Allah tidak melihat sebesar apa kapal yang kita tumpangi. Allah Ta’ala juga tidak melihat sejauh apa jarak yang akan ditempuh untuk sebuah amal. Namun, yang paling mendasar adalah Allah Ta’ala melihat apa niat kita melakukan sebuah amal; yang ada di dalam hati. Ikhlaslah karena Allah Ta’ala dan bertawakallah.
“Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan” (HR Bukhari)
Bekal Tawakal
Orang yang berlayar di samudera lautan di atas 10 jam baru akan merasakan hantaman gelombang yang bisa membuat seseorang memuntahkan seluruh isi perutnya tanpa ampun. Bila berlayar hanya satu atau dua jam, itu hanya berlayar untuk bersenang-senang. Belum merasakan gelombang, angin, badai, sengatan matahari, dan kehidupan laut yang sesungguhnya. Oleh karena itu, dalam kehidupan nyata, seseorang baru akan memahami makna badai, terpaan angin, dan kuatnya gelombang yang menghantam manakala ia telah menempuh perjalanan jauh, memikul banyak amanah, menjejaki sunah perjalanan Rasul-Nya tanpa menawar, dan hanya bertawakal kepada Allah Ta’ala – seperti apa pun bentuk kondisi yang dihadapinya.
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq ayat 3).
Mengenal Allah Ta’ala, memahami maksud-Nya, hingga bertawakal sepenuhnya kepada Allah inilah bekal yang sesungguhnya. Ini prinsip dasar dalam menempuh perjuangan, khususnya dalam upaya menolong saudara-saudara kita di Gaza dengan berusaha menembus blokade demi menyampaikan bantuan.
Ingatlah bahwa hanya dengan bertawakal kepada-Nya, menyandarkan hati kepada-Nya seraya mengupayakan yang terbaik, maka Allah Ta’ala akan menghindarkan kita dari berbagai gangguan dan perlawanan mahluk; sebagaimana Ibnu Qayyim berkata, “Tawakal adalah sebab terbesar yang membuatnya bisa mengatasi gangguan, kezholiman dan perlawanan dari makhluk terhadapnya. Tawakal itulah sebab utama yang bisa menolong, dengan sikap ini pun akan mencukupi hamba. Jika Allah telah mencukupi, maka lawan pun mustahil untuk menundukkan hamba. Tidak ada pula yang bisa me-mudhorot-kan kecuali hal yang mesti ada seperti tertimpa panas, dingin, kelaparan atau kehausan…. Bahkan disebutkan balasan dari tawakal adalah Allah sendiri yang mencukupinya. Jika seseorang benar-benar bertawakal pada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar melalui langit dan bumi serta setiap makhluk di dalamnya yang Allah tundukkan, Allah akan mencukupi dan menolong orang yang bertawakkal tersebut.”
Mengapa gerakan dalam upaya menembus blokade Gaza ini dinamai Global Sumud Flotilla Gaza? Karena gerakan ini benar-benar hanya menyandarkan setiap upaya dan ikhtiar kita kepada Allah Azza Wajalla. Allahush-Shamad, Allah tempat bergantung. Bila dalam perjalanan tetiba terjebak dalam kegelapan, apa yang dapat membuat Allah tetap membersamai kita? Sabar. Karena Allah bersama orang-orang yang sabar. Faktor sabarlah yang menentukan kita dibersamai atau tidak dibersamai oleh Allah Ta’ala.
“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” Qs. Al-Baqarah ayat 153
Bersyukur akan Kebesaran-Nya
Dari laut dan dinamika yang terjadi di permukaan atau dasarnya, kita dapat merenungkan bahwa setiap apa yang tampak di atasnya atau masih tersembunyi di dasarnya adalah lambang dari keagungan dan kekuasaan Allah Azza wa Jalla.
“Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” Qs. An-Nahl ayat 14
Di laut, kita dapat berlayar dari satu daratan ke daratan lainnya, menghubungkan apa yang terpisah dan mengambil manfaat daripadanya. Mendapatkan daging ikan yang segar dan bergizi, menemukan perhiasan berupa mutiara yang berharga. Semua untuk keuntungan dan manfaat. Itu semua dari laut yang Allah Ta’ala tundukkan untuk kita. Tidak lain agar kita merasa bahagia menjadi mahluk-Nya, merasa difasilitasi, dan disayangi. Hingga kemudian tunduk bersyukur kepada-Nya.
Maka, di atas segala alasan yang mendorong kita melakukan misi untuk membela saudara kita di Palestina dan Baitul Maqdis; sejatinya adalah bersyukur kepada Allah Ta’ala. Janganlah gentar pada kematian karena kematian di jalan Allah adalah kemenangan besar yang abadi.*
