Merendahkan dan Menghinakan Diri di Hadapan Allah

Oleh KH Bachtiar Nasir
Setiap kita menyaksikan dari bagian terkecil dari diri ini, baik lahir maupun batin, bahwa kita memiliki kebutuhan yang sangat sempurna kepada Rabbul’alamiin.
Tidak ada jalan keluar untuk mendapatkannya kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah. Keadaan itu yang membuahkan rasa hina yang rendah di hadapan Allah Subhana Wa Ta’ala.
Gambaran diri ini seperti anak kecil yang lemah dan berada di bawah pengawasan sang ayah. Anak kecil ini tidak bisa menolak bahaya, tidak bisa mengelak dari mudharat kecuali dengan bantuan perlindungan ayahnya. Begitulah anak yang tidak berdaya ketika masih kecil. Bahkan untuk mengambil makanan di depannya pun dia tak sanggup.
Bandingkan kita sebagai hamba, tidak akan mampu keluar dari kemaksiatan dan kemungkaran jika Allah tidak memaksanya dan mengalihkan perhatiannya kepada Sang Khalik.
Misalkan anak balita yang akan buang air besar, dia tak mampu membersihkannya, kecuali bantuan ibu atau ayahnya. Anak-anak seperti ini tidak mampu menyelesaikan persoalannya sendiri kecuali dipaksa oleh orang tuanya belajar mandiri.
Begitu juga seorang hamba tidak akan mampu keluar dari hal yang tidak baik kecuali Allah paksa dia.
Dia merasa hina dan pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari Allah. Dia akan merasa malu kepada Tuhannya, merasa tidak pantas mendapatkan kebaikan sedikitpun apalagi banyak. Dia akan menyerahkan semua dirinya kepada Allah azza wa jalla demi kebaikan untuk dirinya.
Dikatakan kepada sebagian ahli makrifattullah, “Apakah hati yang hancur bersujud di hadapan Allah?”
Dijawab, “Ya, ia bersujud dengan satu sujud yang tidak mengangkat kepalanya sampai hari pertemuan. Itulah sujudnya hati.”
Bagi ahli makrifattullah, beda sujud kepala dan sujud hati. Sekali sujud hati, dia menunduk di hadapan Allah dan tidak bangun sampai kelak datang Hari Perjumpaan.
سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ المَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ
Subhan, quddūsun, rabbunā wa rabbul malā’ikati war rūh.
Artinya: Suci dan qudus Tuhan kami, Tuhan para malaikat dan Jibril. (HR Al-Baihaqi dan Ad-Daruqutni).
Jika hati tidak tersentuh oleh rasa hancur karena tawadhu atau hina di hadapan Allah, maka dia seperti orang-orang yang tidak bersujud hatinya dan terus koma sampai lelah.
Dalam sujud ada kebahagiaan. Sujud adalah posisi paling rendah di hadapan Allah. Hati yang bersujud adalah hati yang paling hina di hadapan Allah.
Jika hati tersentuh oleh rasa remuk dan hancur, dia akan sujud bersama seluruh badannya, ruhnya, kepada Yang Maha Hidup dan Maha Menegakkan semua makhluk.
Ruh pun sujud di hadapan Ya Hayyu Ya Qoyum, Zat yang Maha Hidup, Zat Yang Maha Berdiri Sendiri. Dia sebagai pribadi yang mengihiba, mengharapkan ridho.
رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا
Rodhitu billahi rabba, wa bil-islami dina, wa bi Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallama nabiyyan wa rasula.
Artinya: “Tuhanku, aku sungguh rida Engkau sebagai Rabb-ku. Aku sungguh rida Islam sebagai agamaku, dan aku sungguh ikhlas Muhammad Rasulullah sebagai nabi dan rasul panutanku.” (HR. Ahmad)
