KSP

Marhaban ya Syahrul Sya’ban 

Oleh KH Bachtiar Nasir

Ini bukan sekadar pergantian bulan pada penanggalan kita. Ini adalah waktu yang merupakan pintu gerbang menuju ke Ramadhan.

Bulan Sya’ban telah tiba, saat di mana aroma Ramadhan sudah mulai tercium.

Inilah bulan diangkatnya amalan, dan masa persiapan ibadah menyambut Ramadhan, di mana umat muslim dianjurkan memperbanyak amal saleh seperti ibadah-ibadah sunah.

Bulan Sya’ban saatnya menyiram apa yang sudah kita tanam di Bulan Rajab.

Harumnya Sya’ban menjadi barokah tersendiri memasuki Ramadhan.

Sya’ban, bulan menyiram

Abu Bakar Al-Balkhi dalam kitab Lathaiful Maarif mengatakan,

Rajab adalah bulan untuk menanam kebaikan atau ibadah).

Sya’ban adalah bulan untuk menyirami, memupuk tanaman kebaikan tersebut.

Ramadhan adalah bulan untuk memanen hasil dari ibadah yang dilakukan.

Bayangkan jika ada tanaman mulai layu karena tanah yang kering kerontang. Lalu, apa yang terjadi jika disiram dan dipupuk? Sya’ban datang untuk menyiram jiwa yang masih kering.

Setiap sujud shalat-shalat kita, setiap ayat Al-Qur’an yang dibaca, setiap sedekah yang kita keluarkan, dan setiap amalan baik yang kita lakukan adalah pupuk yang akan dipanen di Ramadhan nanti.

Mengapa Sya’ban harus kita persiapkan dengan bahagia?

Pertama, Sya’ban adalah bulan di mana diangkatnya semua amalan. Mari kita hiasi amalan dengan doa yang tulus dan optimisme bahwa Allah akan mengampuninya kita.

Kedua, karena Sya’ban adalah momen latihan yang sangat menyenangkan.

Dulu para salafussaleh menutup toko dunia mereka dan membuka toko akhirat.

Bagaimana dengan kita? Apakah bulan-bulan Januari, Februari rasant sama saja dengan bulan-bulan di tahun lalu?

Sya’ban adalah waktunya melatih jiwa. Ketika datang Ramadhan kita sudah memiliki mesin yang panas dan siap untuk berlari, karena sudah ada persiapan.

Kalau masuk Ramadhan kita tidak menyiapkan hangatnya suhu iman kita, bagaimana rasanya? Berbeda dengan mereka yang sudah mendapatkan banyak amunisi kebaikan di Bulan Sya’ban, amunisi jiwa memasuki Ramadhan sudah siap.

Ketiga, harus ada solidaritas tanpa batas. Tetapi juga jangan membebani diri sampai melewati ambang batas kemanusiaan kita.

Sya’ban, bulan berbagi

Inilah bulan berbagi. Para orang kaya di zaman Rasulullah, mereka membayar zakatnya dipercepat di bulan Sya’ban untuk membantu sesama.

Membantu dan memberi zakat kepada orang lain, adalah bahagia bentuk lain yang benar.

Mari kita sambut dengan lisan basah dengan zikir.

Mari kita sambut dengan hati yang lapang agar beban jiwa kita sirna menghadapi Bulan Ramadhan.

Jangan membawa beban ke Ramadhan, dan Sya’ban ini adalah bulan di mana dilipatgandakan pahala dan dosa.

Jangan menunggu Ramadhan, tetapi nikmatilah setiap detik di Bulan Sya’ban dengan amalan kebaikan.