KSPTadzkirah

Dopamine dan Puasa

Oleh KH Bachtiar Nasir

Saat kita puasa, kita mengendalikan diri. Tidak makan, tidak ngopi, tidak scrolling, tidak nonton. Saat itu ada aliran kenikmatan instan yang terputus.

Perlu kita ketahui, otak kita punya sistem reward atau hadiah. Sains menyebutnya reward System. Misalnya kita menang debat di komentar, perut kenyang, ada kenikmatan tersendiri. Itulah kenikmatan berupa hadiah atau reward untuk otak.

Di era digital sekarang, kita hidup di mana era banjir reward di otak.

Makan gula, ngemil snack tanpa henti, main games, nonton drama masalah orang -orang di sosial media, ini yang kita konsumsi sehari-hari. Ini membuat kita kebal terhadap nikmat-nikmat sederhana.

Contoh kasus, soal bernapas kita bisa bebas tanpa tabung tanpa selang. Adakah kita mensyukuri ini? Mungkin tidak, karena setiap hari kita melakukannya tanpa hambatan.

Kenapa otak jadi kebal terhadap nikmat sederhana? Air putih akan terasa biasa saja. Kurma juga standar saja. Padahal proses air sampai ke hadapan kita, dan bagaimana kurma ditanam dan akhirnya sampai di tangan kita, tidak terpikirkan nikmat sederhana ini.

Dengan berpuasa, otak sedang istirahat dari kenikmatan instan yang biasa bisa kita lakukan sesuka hati. Kita tidak bisa melakukan hal seperti makan minum saat lapar dan haus di siang hari. Saat inilah otak sedang istirahat.

Jika kita berbuka puasa, air putih akan terasa nikmat begitu masuk kerongkongan. Kurma akan terasa nikmat untuk berbuka.

Menurut sains, nikmat sederhana itu terasa istimewa karena sensitivitas otak kita kembali bangkit.

Bedanya orang yang berbuka puasa tetapi tidak mengumbar buka puasanya dengan orang yang puasa mengendalikan diri, tidak sepening kepala orang-orang yang fokus memikirkan nanti buka puasa dengan makan apa?

Dopamine Fasting
(Puasa hadiah otak)

Puasa dopamine adalah praktik umum untuk menahan diri dari segala kecanduan impulsif dan perilaku guna mengatasi kecanduan tersebut dan dengan demikian mencoba untuk kembali ke gaya hidup yang lebih sehat. Beberapa contoh perilaku adiktif dan impulsif saat ini yang menjadi sasaran puasa dopamin antara lain: pemakaian smartphone dan media sosial, makan karena emosi, internet atau bermain game, berjudi atau berbelanja,

Secara ilmiah istilah ini tidak tepat.
Tetapi puasa adalah menguatkan kontrol diri atau prefrontal cortex.

Prefrontal cortex merupakan bagian penting dari otak manusia yang memegang peranan kunci dalam mengatur perilaku, emosi, dan pengambilan keputusan.

Bagaimana Ramadhan memutus instant reward (hadiah cepat) di otak? Ada makanan modern seperti junk food, minuman manis, ultra process food, dan sejenisnya. Semua itu tidak sehat, dan saat kita puasa akan dibersihkan.

Puasa memberi ruang dari otak untuk kembali memimpin.
Puasa Ramadhan membuat kita cerdas, karena otak diberi ruang untuk berpikir positif dan benar, bisa menimbang dan mengambil keputusan dengan tepat.

Puasa seolah-olah otak kita diservis, dan kembali pada tugas sebenarnya. Kita tidak mau lagi kecanduan dopamine atau  instan reward di otak.

Secara sains, puasa jadi ajang bersih-bersih diri di tubuh kita atau autophagy (autofagi). Proses tubuh membersihkan diri saat kita berpuasa, dimulai sejak awal puasa. Sekitar 13- 14 jam kita berpuasa. Dalam sehari-hari jarang sekali kita mengistirahatkan badan kita, kecuali mereka yang terbiasa puasa Sunah.

Puasa Ramadhan meskipun secara fisik sama dengan puasa di luar Ramadhan, tetap berbeda. Puasa di bulan Ramadhan memiliki keberkahan waktu. Ada rahmat dari langit yang disediakan oleh Allah.

Puasa dengan sistem autofagi seolah-olah sedang melakukan cleaning service di tubuh kita. Autofagi adalah proses alami tubuh untuk membuang sel-sel yang rusak dan tidak berfungsi, sekaligus menggantinya dengan sel-sel baru yang sehat. Mekanisme ini meningkatkan kemampuan sel tubuh untuk melawan racun penyebab penyakit dan menjaga organ tubuh tetap berfungsi dengan baik.

Oleh sebab itu dengan puasa banyak orang sembuh dari penyakitnya, karena sel-sel tubuh yang rusak diganti dengan sel-sel baru.

Dalam konteks religi, bersih-bersih atau pembersihan jiwa namanya tazkiyatunnafs.

Tazkiyatunnafs adalah proses penyucian jiwa dan hati dari penyakit hati (seperti sombong, hasad, riya) dan dosa, serta mengisinya dengan akhlak terpuji untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.

Percuma berpuasa di Bulan Ramadhan jika kita tidak membersihkannya hati dengan tazkiyatunnafs.

Puasa akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan menahan diri dari perbuatan dan perkataan tercela. Sebagaimana hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَل َبِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan zur, maka Allah tidak membutuhkan sedikitpun terhadap puasanya.” (HR. Al Bukhari).

Makna tazkiyatunnafs dari sisi sains

Soal perkataan dan perbuatan dosa, kalau tetap dilakukan saat berpuasa, Allah tidak butuh puasa kita. Artinya Allah tidak memberi rahmat meskipun kita puasa tidak makan minum.

Jadi puasa perlu niat agar puasa kita diterima Allah. Kita bisa saja membersihkan sel-sel tubuh, tetapi kita harus bersihkan niat juga dengan tazkiyatunnafs atau pembersihan jiwa.

Sama saja misalnya puasa menurunkan gula darah, menurunkan berat badan yang berlebihan, tetapi kalau hatinya kotor berbuat maksiat, puasanya tidak mendapat keberkahan.