Memurnikan Tauhid di Madrasah Ramadhan

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Alhamdulillahirabbil ‘alamiin. Puji syukur kita haturkan kepada Allah Azza Wa Jalla yang masih mengizinkan napas kita bertemu dengan Ramadhan tahun ini.
Ramadhan kembali datang menyapa, menyentuh relung hati kita yang terdalam untuk bersimpuh dan bersujud. Kita datang menghadap-Nya dengan membawa tumpukan beban, memohon ampunan atas segala dosa, baik yang tampak kecil di mata manusia maupun yang besar dan menggunung.
Inilah saatnya kita bergegas. Di saat setan-setan terbelenggu, medan laga kini menyisakan kita dengan musuh terbesar: hawa nafsu diri sendiri.
Ramadhan, Momen Penaklukan Diri
Secara bahasa, Ash-shiyaam berarti Al-Imsak atau menahan diri. Ramadhan pada hakikatnya adalah ruang dan waktu yang Allah desain khusus agar kita mampu mengendalikan diri dan kembali fokus hanya kepada-Nya. Di sinilah tauhid kita dibersihkan dari karat-karat dunia.
Mengapa perut diistirahatkan? Mengapa syahwat dikendalikan? Tak lain agar ruh kita menguat, agar jiwa semakin suci, dan jarak antara hamba dengan Sang Khalik semakin terkikis. Kita sedang melatih diri untuk melepaskan keterikatan pada dunia yang selama ini menyesaki pikiran, agar cinta dunia itu perlahan memudar dan berganti dengan cinta kepada Sang Pemilik Semesta.
Menundukkan Sifat Kebinatangan
Seringkali kita merasa mampu mengendalikan diri, padahal hati kita sendiri pun tak sepenuhnya berada dalam genggaman kita. Ada sekat-sekat yang memisahkan kita dengan hati kita sendiri. Maka, satu-satunya cara untuk menguasainya adalah dengan menghadapkannya kepada Sang Pemilik Hati.
Ikhlaslah untuk diatur oleh aturan Allah. Tanpa rahmat-Nya, kita tidak akan pernah selamat melawan sifat kebinatangan dan ego yang telah dihiasi setan selama berbulan-bulan. Ramadhan adalah panggung pembuktian, manakah yang lebih dominan dalam diri kita, sifat kemalaikatan yang taat atau sifat kebinatangan yang liar?
Kita diciptakan bukan sekadar untuk menjadi “sesuatu” di mata dunia, melainkan sebagai makhluk ibadah.
Ramadhan adalah Syahrul Ibadah—bulan untuk menata ulang segala pola hidup kita; mulai dari pola makan, pola tidur, hingga pola pikir.
Mari perbaiki niat dan basahi lisan dengan kalimat tauhid, “Laa Ilaaha IllaLlah, Wahdahu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa ‘alaa kulli syain qodir…”
Ukuran keberhasilan Ramadhan tahun ini bukanlah pada seberapa meriah perayaannya, melainkan seberapa cerdas kita memposisikan diri sebagai hamba yang hina di hadapan-Nya. Itulah puncak dari ketakwaan: sebuah capaian yang harus dijaga dengan istiqomah hingga akhir hayat.
Pada akhirnya, biarlah segala hal di dunia ini datang dan pergi, namun pastikan Allah selalu bertahta di hati. Jangan sampai momen hebat ini terbuang sia-sia tanpa pemurnian tauhid. Tidak boleh ada yang lebih kita takuti, kita harapkan, atau kita jadikan sandaran melebihi Allah Ta’ala. Karena kebahagiaan sejati adalah saat kita menemukan Allah, dan kesedihan terdalam adalah saat kita kehilangan-Nya.
Allahumma rabbana taqabbal minna shalatana wa shiyamana wa ruku’ana wa sujudana wa qu’udana wa tadharru’ana wa takhasysyu’ana wa ta’abbudana wa tammim taqshirana ya Allah ya rabbal alamin.
”Ya Allah, terimalah shalat kami, puasa kami, ruku’ kami, sujud kami, pengabdian kami, dan sempurnakanlah segala kekurangan kami. Wahai Tuhan semesta alam.”
