Tadzkirah

Meniti Jalan Kesadaran Menuju Derajat Muhsin

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

SETIAP manusia sedang menempuh perjalanan. Kita datang dari tanah, hidup di atas tanah, kemudian kembali ke tanah. Setelah itu, Allah SWT membangkitkan kita untuk mempertanggungjawabkan seluruh perjalanan kehidupan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Thaha ayat 55, “Dari bumi (tanah) itulah Kami menciptakan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan dari padanya Kami akan mengeluarkan kamu sekali lagi.”

Ayat tersebut semestinya tidak hanya dibaca sebagai penjelasan tentang asal-usul dan akhir kehidupan manusia. Lebih dari itu, ia merupakan pengingat agar manusia menyadari ke mana sesungguhnya perjalanan hidup ini bermuara.

Setiap langkah yang kita ayunkan di muka bumi pada hakikatnya sedang mendekatkan kita kepada perjumpaan dengan Allah SWT. Harta, jabatan, popularitas, ilmu, bahkan usia yang terus bertambah, semuanya akan menjadi bagian dari pertanggungjawaban di hadapan-Nya.

Karena itu, kehidupan membutuhkan kesadaran. Bukan sekadar kesadaran bahwa kita hidup, tetapi kesadaran tentang siapa yang menciptakan kita, untuk apa kita hidup, dan kepada siapa kelak kita kembali.

 

Membaca Tanda-Tanda Kebesaran Allah

Jika alam semesta dipandang dengan kacamata iman, hampir tidak ada sesuatu pun yang hadir tanpa pesan. Langit dan bumi, air yang menjadi sumber kehidupan, gunung-gunung yang kokoh, hingga jalan-jalan yang terbentang di muka bumi merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.

Alam tidak hanya mengajarkan manusia tentang kebesaran Sang Pencipta. Ia juga mengajarkan arah.

Jalan yang terbentang di bumi semestinya mengingatkan manusia bahwa hidup pun membutuhkan arah. Bukan semata-mata arah untuk mencapai tujuan duniawi, melainkan arah tauhid: menuju penghambaan yang tulus kepada Allah SWT.

Demikian pula berbagai kenikmatan yang Allah tundukkan untuk manusia. Hewan ternak memberikan susu dan daging. Laut menyediakan ruang bagi bahtera untuk berlayar. Berbagai kemudahan itu bukan agar manusia semakin tenggelam dalam kenikmatan, melainkan agar ia semakin mudah menjalankan tujuan penciptaannya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa jin dan manusia diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada-Nya.

Dengan demikian, semakin banyak nikmat yang diterima, semestinya semakin kuat pula kesadaran untuk bersyukur.

 

Nikmat yang Sering Dilupakan

Allah SWT membekali manusia dengan pendengaran, penglihatan, dan hati. Ketiganya merupakan perangkat penting untuk mengenali kebenaran dan mengenal kebesaran-Nya.

Pendengaran dapat digunakan untuk menyimak ayat-ayat Allah. Penglihatan dapat digunakan untuk membaca tanda-tanda kebesaran-Nya. Sementara hati menjadi tempat manusia menerima kebenaran, tunduk, dan patuh kepada-Nya.

Namun, persoalannya bukan terletak pada ada atau tidaknya nikmat tersebut. Persoalannya adalah bagaimana manusia menggunakannya.

Tidak sedikit manusia yang memiliki mata, tetapi tidak mampu melihat kebenaran. Memiliki telinga, tetapi enggan mendengar nasihat. Memiliki hati, tetapi membiarkannya jauh dari Allah.

Karena itu, Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan manusia agar tidak menjadi orang yang kufur terhadap nikmat. Sebab, kekufuran pada hakikatnya tidak mengurangi sedikit pun kemuliaan dan kekuasaan Allah. Manusialah yang akhirnya menanggung akibat dari sikap tersebut.

Kezaliman terbesar bukan hanya ketika seseorang menyakiti orang lain. Manusia juga dapat menzalimi dirinya sendiri ketika menolak kebenaran, mengingkari nikmat, dan menjauh dari jalan Allah.

 

Muhasabah untuk Meningkatkan Kualitas Amal

Di sinilah muhasabah menjadi penting. Manusia perlu berhenti sejenak dari kesibukan dunia untuk bertanya kepada dirinya sendiri: sudah sejauh mana perjalanan ini membawa kita mendekat kepada Allah?

Tidak cukup hanya memperbanyak amal. Kita juga perlu memperbaiki kualitasnya.

Salah satu derajat yang semestinya menjadi tujuan seorang mukmin adalah menjadi muhsin—orang yang berbuat ihsan.

Ihsan bukan sekadar melakukan kebaikan. Ihsan adalah menghadirkan kesadaran bahwa Allah senantiasa mengetahui dan mengawasi setiap ucapan, niat, dan perbuatan kita.

Dengan kesadaran tersebut, seseorang tidak lagi menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran utama. Ia berbuat baik bukan karena ingin dipuji, dan meninggalkan keburukan bukan semata-mata karena takut diketahui orang lain.

Ia beramal karena Allah. Kesadaran semacam inilah yang membuat amal memiliki kedalaman. Ketika tidak ada manusia yang melihat, ia tetap berbuat baik. Ketika tidak ada yang memuji, ia tetap beramal. Ketika tidak ada yang mengetahui, ia tetap menjaga keikhlasan.

Sebab, ia menyadari bahwa ada Zat Yang Mahamelihat dan Mahamengetahui seluruh gerak-geriknya.

 

Pulang Membawa Cahaya

Pada akhirnya, kehidupan adalah perjalanan pulang. Kita tidak mengetahui berapa panjang jalan yang masih tersisa. Yang dapat kita lakukan adalah memastikan setiap langkah membawa kita semakin dekat kepada rida Allah SWT.

Karena itu, jangan sampai usia bertambah, tetapi kesadaran justru berkurang. Jangan sampai nikmat semakin banyak, tetapi rasa syukur semakin sedikit. Jangan sampai amal semakin banyak, tetapi keikhlasan semakin tipis.

Mari menjadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk bermuhasabah. Memperbaiki yang salah, mensyukuri yang telah diberikan, meninggalkan kezaliman terhadap diri sendiri, dan meningkatkan kualitas amal hingga kita termasuk golongan muhsinin.

Semoga Allah SWT membimbing langkah kita dengan hidayah Al-Qur’an, membersihkan hati dari kesombongan dan kekufuran, serta menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa berbuat ihsan.

Semoga ketika tiba saatnya pulang, kita tidak datang dengan tangan kosong, tetapi membawa amal saleh dan hati yang memperoleh cahaya serta rida-Nya. Wallahu a’lam bishawab.*