Meniti Rida Ilahi di Bulan Kelahiran Nabi

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
ADA cara sederhana untuk memulai hari, tetapi memiliki makna yang begitu dalam: menghadirkan rida dan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika mata terbuka dan kita kembali diberi kesempatan menjalani kehidupan, semestinya yang pertama hadir dalam hati adalah kesadaran bahwa kita masih berada dalam limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya.
Syukur bukan sekadar ucapan yang berhenti di bibir. Ia adalah “sarapan” ruhani yang menguatkan jiwa sebelum menjalani berbagai aktivitas. Dengan syukur, seseorang belajar melihat kehidupan bukan hanya dari apa yang belum dimiliki, tetapi dari begitu banyak nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan.
Di atas rasa syukur itu tumbuh sikap rida. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi orang yang menanamkan keridaan kepada Allah, Islam, dan Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan, siapa yang mengucapkan, “Radhitu billahi rabba, wabil islami dinan, wabi Muhammadin nabiyyan”—aku rida Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai nabi—maka baginya surga.
Kalimat tersebut memang ringan di lisan. Namun, kandungannya menuntut pembuktian dalam kehidupan. Rida kepada Allah bukan sekadar menerima takdir, melainkan juga bersedia tunduk kepada aturan-Nya. Mengakui Islam sebagai agama berarti menjadikan syariat sebagai pedoman hidup. Sementara mencintai Rasulullah SAW menuntut kesediaan untuk mengikuti jalan yang beliau contohkan.
Karena itu, memasuki Rabiul Awal, bulan yang lekat dengan momentum kelahiran Nabi Muhammad SAW, semestinya tidak berhenti pada kegembiraan seremonial. Bulan ini dapat menjadi momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana cinta kepada Rasulullah SAW telah membentuk perilaku kita?
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 31,“Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”
Ayat tersebut memberikan ukuran yang jelas tentang cinta. Cinta kepada Allah SWT dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah SAW. Dengan demikian, kecintaan kepada Nabi tidak cukup hanya dengan memperbanyak ungkapan kecintaan, tetapi harus menjelma menjadi akhlak dan amal nyata.
Sunah Rasulullah SAW semestinya hadir dalam keseharian. Berdakwah dengan santun, menyayangi sesama, menjaga amanah dalam pekerjaan, menghormati orang lain, membantu mereka yang membutuhkan, serta memperkuat kepedulian sosial merupakan bagian dari upaya menghadirkan keteladanan Nabi dalam kehidupan.
Al-Qur’an dan sunah juga tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan. Keduanya perlu diturunkan menjadi kebiasaan baik. Dari pemahaman lahir pembiasaan, dari pembiasaan tumbuh amal, dan dari amal yang dilakukan secara konsisten terbentuklah karakter seorang Muslim.
Namun, perjalanan menuju kebaikan membutuhkan hati yang bersih. Hati yang dipenuhi amarah, dendam, iri, kecewa, kesedihan yang berkepanjangan, dan kecemasan akan sulit menjadi tempat tumbuhnya ketenangan dan kebaikan.
Karena itu, membersihkan hati merupakan bagian penting dari perjalanan spiritual. Belajar memaafkan, melapangkan dada, tersenyum, dan mengucapkan alhamdulillah wa syukrulillah bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, kemampuan memaafkan menunjukkan keluasan jiwa dan kekuatan batin.
Momentum Rabiul Awal pun dapat menjadi ajakan untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT sekaligus hubungan dengan sesama manusia. Sebab, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW seharusnya melahirkan pribadi yang semakin lembut dalam bertutur, amanah dalam menjalankan tanggung jawab, dan bermanfaat bagi lingkungan.
Pada akhirnya, perjalanan rida bukan sekadar berhenti pada pengakuan bahwa Allah SWT adalah Pencipta dan Pengatur kehidupan. Keyakinan itu harus berlanjut pada ketundukan dalam ibadah dan seluruh aspek kehidupan. Dari pengakuan terhadap rububiyah Allah menuju penghambaan yang tulus dalam uluhiyah.
Di situlah cinta menemukan pembuktiannya. Di situlah rida menemukan maknanya.
Semoga momentum bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW mengantarkan kita untuk kembali menata hati, memperkuat syukur, memperbanyak amal saleh, dan menghidupkan sunah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba yang istikamah meniti jalan keridaan-Nya, mencintai Rasul-Nya dengan sebenar-benarnya cinta, serta kelak mempertemukan kita dengan beliau di tempat terbaik yang telah dijanjikan-Nya. Aamiin ya Rabbal Alamin.*
