Membaca Pesan Allah di Balik Erupsi

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
LANGIT yang biasanya terbentang luas tiba-tiba berubah. Di sejumlah wilayah Sumatera dan Jawa, dari Lampung, Banten, hingga Jakarta, aktivitas gunung api membuat udara dan pandangan warga terganggu oleh abu vulkanik. Penerbangan tertunda, sejumlah bandara mengalami gangguan operasional, dan aktivitas masyarakat pun ikut terdampak.
Secara ilmiah, erupsi gunung api merupakan bagian dari dinamika geologi bumi. Magma, gas, dan tekanan di dalam perut bumi bergerak melalui proses alamiah yang dapat dipelajari dan dipantau. Namun, bagi seorang mukmin, fenomena alam tidak berhenti pada penjelasan ilmiah. Ia juga dapat menjadi momentum untuk bertafakur dan membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Alquran bahkan secara khusus mengajak manusia memperhatikan gunung. Allah SWT berfirman dalam Surah al-Ghasyiyah ayat 19, “Dan kepada gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan?”
Gunung yang dari kejauhan tampak kokoh ternyata menyimpan kekuatan luar biasa di dalamnya. Ada magma, gas, dan tekanan yang dapat menghasilkan letusan dahsyat. Di hadapan kekuatan alam seperti itu, manusia kembali diingatkan bahwa betapa pun maju teknologi dan ilmu pengetahuan, kemampuan manusia tetap memiliki batas.
Alquran menggambarkan kegelisahan manusia ketika menghadapi perubahan dahsyat pada bumi. Dalam Surah az-Zalzalah ayat 3 disebutkan, “Dan manusia bertanya, ‘Apa yang terjadi pada bumi ini?’”
Pertanyaan itu terasa begitu dekat ketika manusia berhadapan dengan gempa, erupsi, banjir, atau berbagai fenomena alam lainnya. Ada rasa takut, cemas, bahkan tidak berdaya.
Namun, Islam tidak mengajarkan manusia untuk berhenti pada kepanikan. Justru dalam keadaan seperti itu, seorang Muslim dituntun untuk menata sikap: merenungkan kebesaran Allah, melakukan ikhtiar, lalu bertawakal kepada-Nya.
Pertama, tafakur.
Erupsi mengingatkan kita bahwa bumi bukanlah milik manusia secara mutlak. Manusia memang diberi amanah untuk mengelolanya, tetapi tidak diberikan kekuasaan penuh untuk mengendalikan seluruh mekanisme alam.
Kesadaran ini seharusnya melahirkan kerendahan hati. Di tengah kemajuan teknologi, manusia tetap makhluk yang lemah. Ada banyak hal yang belum mampu diprediksi secara sempurna, apalagi dikendalikan sesuka hati.
Karena itu, fenomena alam semestinya tidak hanya membuat mata kita melihat abu yang beterbangan, tetapi juga membuat hati melihat kebesaran Sang Pencipta.
Kedua, ikhtiar dan mitigasi.
Tafakur tidak boleh berubah menjadi fatalisme. Islam justru mengajarkan manusia untuk melakukan berbagai upaya perlindungan.
Mematuhi arahan pemerintah dan petugas kebencanaan, menggunakan masker dan pelindung mata ketika diperlukan, membatasi aktivitas di luar ruangan sesuai kondisi, serta mengikuti informasi resmi mengenai aktivitas gunung api dan kualitas udara merupakan bagian dari ikhtiar.
Ilmu pengetahuan dan agama tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama. Sains membantu manusia memahami ancaman dan mengambil langkah mitigasi, sedangkan agama memberikan orientasi moral dan spiritual agar ikhtiar tersebut dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Dengan demikian, kesiapsiagaan menghadapi bencana bukan tanda kurangnya tawakal. Justru ikhtiar yang sungguh-sungguh merupakan bagian dari tawakal yang benar.
Ketiga, tawakal dan zikir.
Setelah melakukan berbagai upaya, manusia menyadari bahwa hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah SWT. Di sinilah tawakal mendapatkan tempatnya.
Dalam suasana penuh kecemasan, seorang Muslim dapat memperbanyak doa, istighfar, zikir, dan memohon perlindungan kepada Allah. Membaca Al-Mu’awwidzat, seperti Surah al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas, juga menjadi bagian dari ikhtiar spiritual yang dapat menenangkan hati.
Yang perlu diingat, doa bukan pengganti mitigasi. Sebaliknya, mitigasi juga bukan alasan untuk melupakan doa. Keduanya semestinya berjalan beriringan.
Abu vulkanik yang menyelimuti udara akhirnya dapat menjadi cermin bagi manusia. Ia mengingatkan bahwa di balik kehidupan yang tampak tenang, bumi menyimpan dinamika yang berada di luar kendali manusia.
Karena itu, setiap kali alam menunjukkan kekuatannya, jangan hanya bertanya bagaimana fenomena itu terjadi. Seorang mukmin juga patut bertanya: apa yang dapat saya pelajari dari peristiwa ini?
Mungkin Allah sedang mengingatkan kita untuk tidak sombong dengan kekuatan yang kita miliki. Mungkin Dia sedang mengajarkan pentingnya menjaga sesama. Atau mungkin peristiwa itu menjadi kesempatan bagi kita untuk kembali mendekat kepada-Nya setelah terlalu lama terlena oleh kesibukan dunia.
Pada akhirnya, abu vulkanik bukan sekadar material yang mengganggu pandangan. Ia dapat menjadi pengingat agar mata lahir kita melihat fenomena alam, sementara mata batin kita menangkap pesan kebesaran Allah SWT.
Mari memperkuat kewaspadaan, menjalankan ikhtiar dengan ilmu, saling menjaga, dan tidak pernah berhenti memohon perlindungan kepada Allah. Sebab manusia boleh berusaha sekuat tenaga, tetapi tetap harus menyadari bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya.*
