Global Sumud Flotilla Masuki Zona Kuning, UBN: Relawan Tetap Semangat Meski Dihujani Serangan

JAKARTA–Rombongan Tim Global Sumud Flotilla yang membawa misi kemanusiaan menuju Gaza kini telah memasuki zona kuning. Meskipun dihadang berbagai bentuk intimidasi, termasuk serangan drone, semangat para relawan tidak goyah.
Hal ini disampaikan oleh Pembina Indonesia Global Peace Convoy (IGPC), Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), dalam konferensi pers bertajuk “Mengawal Global Sumud Flotilla” yang digelar di Jakarta, Selasa (30/9) malam.
“Alhamdulillah, sekarang kapal sudah berada di zona kuning. Sebenarnya dalam kondisi seperti ini, saya pribadi dan teman-teman diliputi kegelisahan bukan karena takut, tetapi karena kepedulian terhadap rekan-rekan yang sudah berlatih dan menjalin kerja sama erat selama ini,” ungkap UBN.
Ia menjelaskan, memasuki zona kuning berarti memasuki wilayah dengan risiko tinggi. Namun, tantangan sesungguhnya justru akan dihadapi ketika kapal memasuki zona merah, yakni perairan Gaza antara Mesir dan Siprus.
“Kalau sudah masuk zona merah, Israel itu tidak ada ampun. Tidak ada ampun kecuali untuk yang punya kekuatan politik besar,” tegasnya.
UBN menambahkan, situasi sangat bergantung pada kondisi geopolitik yang labil, bahkan menyebut keputusan militer Israel bisa berubah tergantung “mood Netanyahu, sama seperti Trump.”
Kapal Kecil, Misi Besar
Menanggapi pertanyaan publik mengenai ukuran kapal yang relatif kecil, UBN menekankan bahwa tujuan utama flotilla bukanlah mengangkut bantuan dalam jumlah besar, melainkan mengampanyekan akses kemanusiaan ke Gaza.
“Target kita sebenarnya ada di kampanyenya, bukan seberapa besar muatannya. Kapal ini adalah simbol untuk menembus blokade dan membuka jalur kemanusiaan,” jelas UBN.
Masing-masing kapal hanya mengangkut maksimal 30 orang dengan logistik terbatas. Sebagian besar kapal yang digunakan adalah kapal bekas, dibeli dengan harga sekitar USD 100.000 (sekitar Rp1,6 miliar) termasuk biaya nahkoda dan perlengkapan bantuan.
Sejak keberangkatan dari Barcelona, armada flotilla sudah menghadapi berbagai ancaman. Di antaranya serangan drone yang diluncurkan dari pangkalan militer Amerika Serikat di Sicilia, yang menyasar kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan.
“Masuk perairan Tunisia dihajar, besoknya di Qatar dihajar, lusa saat bersandar, dihajar lagi lewat drone,” kata UBN berdasarkan laporan yang ia terima dari Tunisia.
Namun, kondisi ini tidak membuat para relawan Indonesia mundur. Dari 30 orang relawan yang disiapkan, sebanyak 23 orang masih bersiaga di Tunisia, menunggu kesempatan untuk bergabung dalam armada.
“Kami standby. Kalau memang ada kapal pengganti, kami siap berangkat, meskipun banyak kapal yang sudah rusak. Kami tahu kemungkinan kecil, tapi kami tetap berharap,” ujarnya.
Disisi lain, UBN mengapresiasi langkah awal pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri yang telah menghubungi sejumlah kedutaan besar di negara-negara yang dilewati flotilla.
Ia juga menyebut bahwa Indonesia sudah mengirim kapal rumah sakit yang sebelumnya merupakan kapal perang, dan kini telah dicat putih dan membawa bantuan ke Mesir.
“Indonesia sudah lebih dulu maju. Tapi kami berharap Presiden juga bisa bersuara untuk mengawal misi ini, walaupun kami mengerti beliau baru kembali dari PBB dengan beban kerja yang besar,” tutup UBN.*
