Nikmat yang Melalaikan

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dari Ibnu Abbas ra, Rasululllah saw bersabda, ‘Dua nikmat yang banyak manusia dilalaikan di dalamnya yaitu nikmat sehat dan waktu luang.’” (HR. Bukhari)
Kapan waktu tersibuk dalam kehidupan manusia? Apakah ketika sedang mengerjakan tender proyek? Apakah ketika sedang mengerjakan pekerjaan yang sudah memasuki waktu tenggat? Atau, ketika merawat bayi di awal kelahirannya? Tidak, sesungguhnya waktu tersibuk seorang manusia adalah saat sakaratul mautnya dan di saat sakitnya.
Luang dan Sehat
Di detik-detik Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menghadapi sakaratul mautnya, putri beliau, Fathimah ra, mendengar ketukan di pintu kamar Rasulullah dan segera membukakannya. Fathimah yang tidak tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah malaikat Jibril, berkata, “Maaf, ayahku sedang sibuk dengan sakitnya.”
Penggalan peristiwa saat Rasulullah yang mulia, Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sedang menghadapi sakaratul mautnya tersebut, memberitahukan kepada kita, bahwa sakaratul maut adalah waktu tersibuk seorang manusia. Tidak ada perkara lain yang dapat mengalahkan sibuknya manusia dengan dirinya saat itu. Tidak ada ibadah yang dapat dikerjakannya. Bahkan, orang-orang yang semasa hidupnya jauh dengan Allah Azza wa Jalla, akan melupakan Dzat yang telah menciptakan dan menghidupkannya itu. Rasa sakit yang dahsyat memisahkan manusia dengan segala perkara yang selama ini dikejar dan dicita-citakannya. Oleh karena itu, sangat penting seorang manusia diingatkan/ di-talkin pada Allah Swt dan Rasul-Nya saat berhadapan dengan sakaratul mautnya.
Begitu pula di saat sakitnya seseorang, maka ia akan sibuk dengan dirinya sendiri. Sibuk dengan rasa sakit yang dirasakannya. Tidak ada ibadah yang diinginkannya untuk dilakukan. Saat berusaha melakukannya pun terasa berat dan sakit, sehingga tidaklah maksimal ibadah yang diupayakannya. Badan terasa lemah dan dipikirkan hanyalah menghilangkan rasa sakit yang tengah mendera. Perkara apalagi yang bisa dikerjakannya? Dirinya sibuk. Tidak ada waktu yang bisa dialokasikannya untuk hal lain. Semua dikebelakangkan, semua dinomorduakan; dengan alasan menomorsatukan kesehatan. Waktu luang adalah waktu yang seharusnya menjadi bonus bagi kita untuk lebih banyak mengingat Allah, melalui berbagai bentuk ibadah dan kegiatan yang bermanfaat.
Waktu luang adalah waktu yang Allah Ta’ala berikan agar bertambah rasa damai dan kebahagiaan kita bersama-Nya. Waktu luang seharusnya menjadi moment yang membuat kita semakin meningkatkan kualitas ibadah dan kualitas hidup. Sangat disayangkan, bila waktu luang yang Allah Azza wa Jalla berikan, justru terbuang dengan berbagai kegiatan yang tidak bermanfaat, melalaikan dari mengingat Allah, apalagi berpeluang menambah dosa.
Ibnu Baththol mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”
Nikmat waktu luang dan nikmat sehat adalah nikmat yang sangat berharga. Di baliknya ada instrument yang sangat penting untuk tegaknya kekuatan dan semangat kita beribadah. Oleh karena itu, Rasulullah Muhammad saw mewanti-wanti agar kita tidak lengah dan tertipu oleh dua nikmat yang memang sungguh terasa nikmat ini.
Tertipu
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengatakan bahwa mereka tidak punya waktu untuk beribadah karena sibuknya mereka dengan pekerjaan? Itulah manusia yang dikatakan oleh Ibnul Jauzi sebagai manusia yang tertipu. Beliau berkata,
”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, tapi ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, tapi ia dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).”
Bila dalam keadaan sehat, ia sibuk dengan urusan dunianya. Dengan bisnis dan pekerjaannya. Padahal Allah Azza wa Jalla izinkan dia dalam keadaan sehat dan memiliki waktu yang digunakannya untuk mengurus segala yang dikatakannya sebagai “urusan penting”; tidak lain untuk bersyukur dan bertaubat kepada-Nya.
Bersyukur bahwa dengan kesehatan dan waktu luang yang dimilikinya, ia bisa mencapai keberhasilan-keberhasilan yang diinginkan. Semua itu Allah berikan agar dia bersyukur dan mengingat Allah Ta’ala. Selain itu, dia bertaubat atas segala kelalaian dan kesalahan yang sangat mungkin dilakukan selama ia bekerja dan berusaha.
Benarlah, bila orang-orang merasa sangat sibuk ini dikatakan sebagai orang yang tertipu. Karena, ia menjadi lupa bahkan buta, kemana dia seharusnya melangkah dan apa yang harus dipersiapkannya menuju tempat akhir hidupnya. Ia tidak dapat melihat kompas hidup yang seharusnya ia pegang erat agar tidak salah jalan.
Ibnul Jauzi memberikan nasihat yang sangat baik untuk kita renungkan, “Dunia adalah ladang beramal untuk menuai hasil di akhirat kelak. Dunia adalah tempat kita menjajakan barang dagangan, sedangkan keuntungannya akan diraih di akhirat nanti. Barangsiapa yang memanfaatkan waktu luang dan nikmat sehat dalam rangka melakukan ketaatan, maka dialah yang akan berbahagia. Sebaliknya, barangsiapa memanfaatkan keduanya dalam maksiat, dialah yang betul-betul tertipu. Sesudah waktu luang akan datang waktu yang penuh kesibukan. Begitu pula sesudah sehat akan datang kondisi sakit yang tidak menyenangkan.”
Pada akhirnya, haruslah kita pahami bahwa waktu luang dan kesehatan yang Allah Azza Wajalla karuniakan kepada kita, sejatinya adalah kesempatan dan kelapangan untuk mengingat-Nya, mengagungkan-Nya, dan melakukan berbagai hal yang dapat membuat-Nya ridha pada hidup dan adanya kita di dunia ini.
Barangsiapa yang memanfaatkan waktu luang dan nikmat sehat dalam rangka melakukan ketaatan, maka dialah yang akan berbahagia. Karena, ingatlah bahwa setelah waktu yang luang, pastilah akan datang waktu yang sempit dan setelah sehat yang memungkinkan segala hal dilakukan, akan datang waktu sakit yang menyulitkan.*
