Tadzkirah

Nasihat untuk yang Durhaka pada Orang Tua

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustaz, ada seorang ibu yang meminta saya untuk menasehati anaknya yang dulunya begitu taat beribadah dan berbakti kepada orang tuanya. Tetapi sekarang berubah total. Dia sering menyakiti hati ibunya sampai dia jarang pulang ke rumahnya dan lebih memilih untuk tinggal di kos an. Padahal orang tuanya sangat menyayanginya, bahkan orang tuanya rela tidak makan demi untuk membayar biaya sekolahnya. Bagaimana caranya untuk menasehatinya, Ustaz?

Hamba Allah

Jawab:

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Sebelumnya sebagai muslim kita harus yakin bahwa sesungguhnya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Agar jangan sampai timbul keputus-asaan dalam diri kita ketika berdakwah dan memberikan nasehat kepada orang lain ketika orang itu tidak menerima atau malah marah ketika dinasehati. Dan untuk dapat memberikan nasehat yang tepat dan sesuai dengan masalah yang dihadapi seseorang tentu terlebih dahulu kita tahu permasalahan yang dihadapinya karena dengan mengetahui akar masalahnya berarti kita sudah setengah perjalanan dalam mencarikan solusinya.

Dalam hal ini, anak ibu ini yang dulunya taat dan berbakti kepada orang tuanya, tapi kemudian berubah total dan berperilaku sebaliknya tentu ada sesuatu hal yang membuatnya berubah total tersebut. Inilah yang terlebih dulu perlu kita ketahui agar kita dapat memberikan nasihat dan solusi yang tepat. Mungkin dia menghadapi suatu masalah besar yang membuatnya tertekan dan berubah seperti itu, atau mungkin dia terpengaruh atau mengikuti suatu aliran dan paham tertentu yang membuatnya berperilaku seperti itu kepada orang tuanya. Setelah mengetahuinya tentu kita bisa mulai dari permasalahan itu.

Dan untuk kedurhakaan terhadap orang tua, maka kita bisa mengingatkannya tentang pengorbanan dan bagaimana susah payahnya kedua orang tua kita dalam membesarkan dan mendidik kita tanpa memperdulikan kesenangan mereka. Juga dengan memberikan dalil-dalil dari al-Qur`an dan Sunnah Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perintah Allah Ta’ala untuk berbakti kepada orang tua kita, pahala dan kebaikan jika kita berbakti serta dosa besar dan kesengsaraan yang akan menimpa kita jika durhaka kepada mereka. Di antara Ayat-ayat itu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقَضَىٰ رَ‌بُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ‌ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْ‌هُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِ‌يمًا ﴿٢٣﴾ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّ‌حْمَةِ وَقُل رَّ‌بِّ ارْ‌حَمْهُمَا كَمَا رَ‌بَّيَانِي صَغِيرً‌ا ﴿٢٤﴾

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Isra` [17]: 23-24).

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّ‌مَ رَ‌بُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِ‌كُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa.” (QS. Al-An’am [6]: 151).

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ‌ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ‌

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman [31]: 14).

Sedangkan di antara Hadits-hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berbakti dan durhaka kepada orang tua adalah:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحب الى الله ُ قَالَ الصَّلَاة ُ على وَقْتِهَا قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, amal apakah yang paling dicintai oleh Allah  SWT. Beliau bersabda: ”Shalat pada waktunya.” aku bertanya lagi lalu apalagi? Rasul bersabda: “berbuat baik kepada orang tua.” lalu aku bertanya lagi, kemudian apa ya Rasulallah SAW.? Rasul bersabda: “ Jihad dijalan Allah”. (HR. Bukhari dan Muslim).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رَغِمَ أَنْفُهُ ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ، قِيلَ : مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ، ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim).

رضى الله في رضى الوالدين وسخط الله في سخط الوالدين

“Ridho Allah ada didalam ridho kedua orang tua dan murka Allah ada didalam murka kedua orang tua.” (HR. Tirmizi).

كُلُّ ذُنُوبٍ يُؤَخِّرُ اللَّهُ مِنْهَا مَا شَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، إِلا الْبَغْيَ ، وَعُقُوقَ الْوَالِدَيْنِ ، أَوْ قَطِيعَةَ الرَّحِمِ ، يُعَجِّلُ لِصَاحِبِهَا فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الْمَوْتِ

“Semua dosa itu akan Allah tunda hukumannya menurut kehendak-Nya sampai hari kiamat nanti kecuali hukuman terhadap perbuatan zina dan durhaka kepada kedua orang tua atau memutuskan silaturrahim, maka sesungguhnya Allah akan memperlihatkan kepada pelakunya di dunia sebelum datang kematian.” (HR. Bukhari dalam kitab al-Adab al-mufrad).

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا ؟ قَالُوا : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ ، وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا ، فَقَالَ : أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ ، قَالَ : فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ

“Maukah aku beritahukan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?” Beliau mengulangi tiga kali. Lalu mereka berkata: “Iya wahai Rasululah.” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua. Beliau lalu duduk yang tadinya bersandar seraya mengatakan: “Ketahuilah! dan persaksian palsu.” Abu Bakrah berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengulangi sehingga kami mengatakan: ‘seandainya beliau berhenti.” (HR. Bukhari dan Muslim).

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا الْكَبَائِرُ ؟ ، قَالَ : الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ ، قَالَ : ثُمَّ مَاذَا ؟ ، قَالَ : ثُمَّ عُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ ، قَالَ : ثُمَّ مَاذَا ؟ ، قَالَ : الْيَمِينُ الْغَمُوسُ ، قُلْتُ : وَمَا الْيَمِينُ الْغَمُوسُ ؟ ، قَالَ : الَّذِي يَقْتَطِعُ مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ هُوَ فِيهَا كَاذِبٌ

“Seorang arab badui menemui Nabi SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah dosa-dosa besar itu? ‘ Beliau menjawab, “Menyekutukan Allah.” Dia bertanya lagi, “Setelah itu apa?” Nabi menjawab, “Mendurhakai orang tua.” Dia kembali bertanya, “Selanjutnya apa?” Nabi SAW menjawab, “Sumpah ghamus.” Kami bertanya, “Apa makna sumpah ghamus?” Beliau menjawab, “Sumpahnya yang dengan dia menguasai harta seorang muslim, padahal sumpahnya itu bohong belaka.” (HR. Bukhari).

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلىَ وَلَدِهِمَا

“Ada tiga jenis doa yang mustajab (terkabul), tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya.” (Tirmizi, al-Baihaqi dan Bukhari dalam al-adab al-mufrad).*