Perlunya Sinerga Dakwah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
BERJUANG pada zaman ini, memang lebih diutamakan dalam bentuk bersama dan bekerjasama. Perjuangan yang dilakukan secara sendiri-sendiri, betapapun semangat dan ikhlasnya tidak membawa perubahan dan pengaruh yang diharapkan, baik dari segi waktu maupun luasnya cakupan dakwah. Hal itu karena terbatasnya kemampuan dan kekuatan individu-individu tersebut.
Begitu juga, meskipun orang yang berdakwah itu banyak, namun jika semuanya jalan sendiri-sendiri tanpa ada sinergi dan kerjasama, bahkan mungkin saling menjatuhkan, tentu itu juga melemahkan pengaruh dakwah itu sendiri di tengah masyarakat. Agama kita memerintahkan kita untuk selalu bekerja sama dalam kebaikan, Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۖ إِنَّ اللَّـهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. al-Maidah [5]: 2).
Dalam ayat di atas Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk selalu tolong-menolong dan bahu membahu dalam melakukan kebaikan dan untuk ketakwaan. Berdakwah di jalan Allah Azza wa Jalla merupakan salah satu amal kebaikan dan ketaqwaan yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 104).
Kalau kita melihat kepada pihak yang menentang dan memusuhi dakwah Islam itu, kita dapat melihat bahwa meskipun nama, tujuan dan cara mereka berbeda antara satu dengan yang lain, namun mereka bekerjasama, bersinergi dan membentuk organisasi yang mempersatukan usaha dan perjuangan mereka. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal [8]: 73).
Ayat di atas menegaskan bahwa jika umat Islam tidak saling menolong dan tidak saling membantu di antara mereka sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang kafir maka akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa di antara yang dimaksudkan dengan fitnah dalam ayat ini adalah menyebarnya kekufuran dan kesyirikan, sedangkan yang dimaksudkan dengan kerusakan yang besar adalah dikalahkan dan dikuasainya umat Islam oleh orang-orang kafir.
Disinilah diperlukannya organisasi atau kelompok dakwah yang menghimpun kekuatan dan kemampuan individu-individu umat Islam yang ingin berjuang dan berdakwah di jalan Allah. Sehingga dakwah yang dijalankan dapat mencapai tujuannya dalam waktu yang cepat dan dengan cakupan yang luas.
Namun, dengan banyaknya kelompok dan organisasi dakwah yang ada, meskipun itu suatu hal yang sangat baik yang menunjukkan ghirah dan semangat umat untuk bangkit, tetapi di sisi lain hal itu terkadang juga membingungkan umat, apalagi jika antara satu kelompok dengan kelompok lain tidak bersinergi tapi malah gontok-gontokan dan saling menjatuhkan. Inilah PR (pekerjaan rumah) setiap kelompok dan organisasi dakwah yang ada dan harus menjadi masalah utama yang seharusnya dicarikan solusinya.
Bagi individu yang ingin ikut atau masuk ke suatu organisasi dakwah untuk berjuang dan berdakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu hal itu juga harus menjadi perhatiannya sehingga betul-betul masuk ke dalam organisasi yang benar-benar menjadikan Islam dan umat Islam sebagai fokus perjuangannya. Bukan kebesaran nama organisasi atau pemimpinnya, apalagi hanya ingin mendapatkan materi dan kesenangan duniawi dengan menjual agama dan ayat-ayat Allah SWT. Di samping itu ada hal-hal yang harus menjadi perhatian kita yang ingin masuk ke dalam suatu organisasi dan kelompok dakwah, di antaranya adalah:
Pertama, selalu berpegang teguh kepada kebenaran, yaitu yang sesuai dan tidak bertentangan dengan al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu berarti selalu menjadikan kedua hal itu sebagai pegangan dan standar penilaiannya, dan tidak melihat kepada ucapan atau perkataan siapapun, meskipun dia adalah pimpinan organisasinya, jika ia bertentangan dengan al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah maka harus ditinggalkan.
Kedua, meninggalkan sikap fanantik terhadap organisasi atau kelompoknya yang mengakibatkannya selalu membela kelompoknya baik dalam kebenaran maupun kebatilan. Seharusnya yang selalu kita bela adalah Islam dan kepentingan umat Islam yang tentunya tidak terbatas kepada mereka yang ada dalam kelompok kita.
Ketiga, tidak menghina dan merendahkan orang lain berdasarkan organisasi atau kelompoknya, dan tidak menjadikan organisasi atau kelompoknya itu sebagai dasar loyalitas atau berlepas diri karena seharusnya yang menjadi dasar loyalitas seorang muslim adalah al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah. serta umat Islam. Maka, tidak boleh bagi seorang muslim membenci orang lain karena berbeda kelompok dengannya, atau hanya mencintai orang-orang yang satu kelompok dengannya. Karena seharusnya umat Islam itu adalah bersaudara sehingga mereka harus saling mengasihi dan saling menolong antara satu dengan yang lain.
Semoga setiap kelompok atau organisasi dakwah dan pergerakan umat Islam di tengah masyarakat kita bisa saling bersinergi dan saling bahu membahu membela dan memperjuangkan kepentingan umat Islam di manapun mereka berada. Allah SWT. berfirman:
وَأَطِيعُوا اللَّـهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّـهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal [8]: 46).
Wallahu a’lam bish shawab.*
