Berlapang Dadalah, Kemudahan Allah Itu Banyak

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfiman:
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah ayat 1-8).
Banyak hal yang ketika kita tidak tahu apa penjelasan di balik hal tersebut, maka kita tidak akan sabar menjalaninya. Sebagaimana Nabi Musa as manakala mengikuti Khidr Alahissalam. “Musa berkata kepada Khidhr, ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS. Al-Kahfi ayat 66-68).
Yang sedemikian itu juga pernah dialami oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam manakala menjalani tugas dakwahnya di Mekkah. Dadanya sempat terasa sesak karena beliau sendiri belum tahu apa yang harus dihadapi dan apa yang akan menjadi akhir dari apa yang dihadapinya. Seperti beberapa saat menjelang turunnya surat Al-Lahab.
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar ang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al-Lahab ayat 1-6).
Tekanan yang diberikan oleh Abu Lahab ketika itu memang sangat mengganggu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Namun, manakala Allah Azza wa Jalla memberikan informasi bahwa Abu Lahab kelak akan binasa dengan berbagai tipu daya yang telah dilakukannya, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam merasa tenang. Meskipun ketika surat Al-Lahab itu turun, Abu Lahab sedang berada di puncak kekuasaan dan kejayaannya.
Nah, sampai disini, kita tahu, bahwa yang membuat dada kita merasa sesak itu karena kita tidak tahu. Yang membuat dada kita sesak karena marah, kecewa, dan sedih, itu karena kita tidak tahu. Apa yang harus kita hadapi, bagaimana cara menjalaninya, dan apa yang akan menjadi akhir dari segala hal yang mau tidak mau kita jalani hari ini.
Kemudahan Itu Lebih Banyak
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS. Al-insyirah ayat 1).
Coba perhatikan baik-baik apa yang dikatakan oleh Nabi Musa as manakala diberi perintah oleh Allah untuk menghadap Firaun dan memberi tahukan bahwa dia telah melampaui batas. “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas.” (QS. Thoha ayat 43).
Status Musa Alaihissalam ketika itu adalah orang yang dalam buruan, “Wanted”. Sementara Firaun ketika itu adalah manusia dengan kekuasaan yang sangat besar. Pasukannya saja dzil autad (tidak tertandingi), “Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak),Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri,” (QS. Al-Fajr ayat 10-11).
Apa yang ditugaskan kepada Musa Alaihissalam sangatlah berat. Apalagi dengan kondisi Musa Alaihissalam ketika itu. Musa Alaihissalam adalah orang yang memiliki lisan yang cacat akibat ia harus menelan bara dimasa kecilnya. Dada Musa as bagaikan terhimpit batu besar, sesak.
Namun, Musa as tidak bisa mengelak dari tugas itu. Ia sendirian, tapi dia punya satu permintaan kepada Allah Azza wa Jalla, “Berkata Musa, ‘Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku’.” (QS. Thaha ayat 25-28).
Pada ayat 27 surat Thaha di atas, Musa as berdoa kepada Rabb-nya agar dilepaskan ikatan-ikatan yang ada di lisannya agar perkataannya kelak bisa dimengerti dan diterima oleh Firaun dan kaumnya. Yang menarik, para ahli tadabur mengatakan bahwa lisan yang lancar baru bisa didapatkan manakala dada merasa lapang dan tenang. Oleh karena itu, untuk mudah menjelaskan dan menerima penjelasan, seseorang harus memiliki dada yang lapang.
Berkaitan dengan surat Al-Insyirah ayat 1, maka kita memahami disini, pentingnya dada yang merasa lapang dan tenang.
Namun, ketenangan dan dada yang lapang ini memang tidak bisa didapatkan dari luar. Dia hanya bisa dirasakan dari Allah Ta’ala.
QS. Al-Insyirah ini turun manakala banyak sekali kesulitan yang ditimpakan kaum kafirin terhadap Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Ayat ini ditimpakan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan sahabat ketika dalam tekanan, kekejian, dan kemiskinan. Setelah ayat ini diturunkan kepada Rasulullah, maka lapanglah dada beliau dan kaum mu’minin ketika itu. Dengan ilmu, dengan janji Allah Azza wa Jalla, dan cahaya dalam surat Al-Insyirah yang Allah turunkan dalam dada mereka.
Oleh karena itu, bila ada di antara kita yang sedang menghadapi kesulitan saat ini, jangan fokus pada kesulitannya, tetapi fokuslah pada kemudahan yang Allah berikan bersama kesulitan tersebut. Sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan di ayat 1-3 surat ini. Maka, kesulitan yang kita rasakan, hanyalah sepertiganya. Hadapi dan yakinlah bahwa sebesar apa pun masalah yang kita hadapi, kita punya Allah Yang Maha Besar. Face it and fix it!
Sadarilah bahwa ketika kita dalam kesulitan maka Allah punya kemudahan yang bahkan tidak pernah bisa kita duga. Ketika semua orang “menjadi miskin” saat kita hendak meminta bantuan, yakinlah bahwa Allah-lah Yang Maha Kaya yang akan memberi pertolongan. Allah Ta’ala bahkan bisa memaksa siapa saja untuk menolong kesulitan yang kita hadapi. Yakinlah selalu dan bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla. Hanya takwa kepada-Nya saja yang bisa menjadi kunci penyelesaian segala masalah.*
