Mulia dengan Sunah Rasulullah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ
ٱلَّذِىٓ أَنقَضَ ظَهْرَكَ
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan, telah kami ringankan beban darimu yang telah memberatkan punggungmu, dan Kami tinggikan namamu bagimu.” (QS. Al-Insyirah ayat 1-4).
Inilah tiga nikmat kenabian yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mengemban tugas menyampaikan risalah kepada manusia. Tiga nikmat kenabian itu adalah:
Pertama, kelapangan dada dalam menghadapi segala macam urusan dan tantangan. Nikmat ini Allah nyatakan di ayat pertama. Sesaknya jiwa Rasulullah saw tak lain adalah akibat dari perilaku masyarakat Quraisy dimasa itu. Perilaku mereka telah melampaui batas kemanusiaan dan semakin hari semakin menjadi. Yang benar dianggap salah dan yang salah diagungkan sebagai kebenaran. Yang benar dianggap sebagai kebohongan dan kebohongan mereka anggap sebagai kebenaran.
Kondisi ketuhanan mereka pun semakin menyimpang dari ajaran Ibrahim Alaihissalam Berhala bertebaran dimana-mana, bahkan Ka’bah dijadikan penyimpanan berhala-berhala mereka. Kondisi-kondisi ini membuat dada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salamm bagaikan terhimpit oleh beban berat. Namun, dengan kenabian yang diamanahkan kepadanya, Allah Azza wa Jalla berkehendak untuk melapangkan jiwa beliau dengan cahaya petunjuk Alquran untuk menerangi jalan yang benar. Sekaligus menuntun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang beriman untuk selalu berada di atas jalan yang lurus.
Kedua, beban yang diringankan dari punggung. Segala beban dan kesulitan ini hendak Allah angkat dari punggung beliau (Rasulullah) dengan berbagai pertolongan Allah yang tidak pernah jauh dari langkah Rasulullah Muhammad dan para sahabat. Selain itu, janji surga Allah adalah hal yang begitu berarti dalam meringankan beban dakwah yang begitu besar dirasakan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kepastian bahwa surga adalah ganjaran yang menanti di kehidupan akhirat yang abadi adalah penyemangat yang selalu dirindukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.
Ketiga, nama yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala. Orang yang bersungguh-sungguh di jalan Allah dan ikhlas berjuang tidak akan pernah mendapatkan kerugian. Termasuk namanya yang akan selalu diakui oleh sesama manusia sebagai orang yang benar dan mulia. Walaupun musuh-musuh Allah senantiasa berusaha melakukan pembunuhan karakter dan melenyapkan kebenaran yang disampaikan, kemuliaan itu akan senantiasa Allah tampakkan. Dan, inilah yang Allah lakukan kepada nabi dan rasul-Nya. Termasuk kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tiga nikmat inilah yang Allah berikan kepada Rasulullah saw ketika beliau telah resmi dilantik sebagai rasul-Nya. Tiga hal ini pula yang menjadikan Rasulullah saw senantiasa hidup dengan tenang meskipun berbagai cobaan dan permasalahan besar menghadang.
Hidup di Jalan yang Sama
Lalu, apakah kita mungkin untuk mendapatkan tiga nikmat yang luar biasa ini, sementara kita bukanlah nabi dan rasul-Nya? Jawabannya adalah ya, selama kita hidup di atas jalan yang sama dengan yang Rasulullah Muhammad saw dan para sahabatnya tapaki.
Dalam kehidupan kita sebagai muslim, tak pernah kita terputus dari pertalian hubungan iman dan ketergantungan kita pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syahadat kita untuk menjadi seorang muslim barulah dianggap benar dan lengkap manakala kita telah mengakui seorang Muhammad bin Abdullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita akan tetap dianggap kafir manakala tidak bersyahadat lengkap dengan mengucapkan kalimat syahadat Rasul. Ini juga jelas menjadi pertanda bahwa kebahagiaan hidup tidak akan pernah kita dapatkan manakala kita tidak mengikuti tuntunan hidup yang telah diberikan oleh Rasulullah saw. Suka atau tidak suka. Menerima atau tidak menerima.
Syarat diterimanya amal shalih kita juga terkait dengan dua hal: ikhlas karena Allah dan ittiba’ (mengikuti) kepada Rasulullah Muhammad saw. Inilah kaidahnya. Inilah kata kunci yang harus kita miliki bila ingin mendapatkan kebahagiaan hidup. Begitu pula dengan penderitaan kita terima. Manakala tidak meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hidup kita akan kehilangan arah serta bergerak menuju kesedihan dan penderitaan.
Singkatnya seluruh aspek kehidupan kita, jika ingin dilapangkan dalam menghadapi semua tekanan aspek kehidupan, bila ingin diringankan segala beban hidup, kalau ingin nama kita terhormat dan bermartabat; maka hanya satu caranya, ikutilah risalah yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tegakkanlah agama yang dibawa oleh Rasulullah, dan perjuangkanlah agama yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabarlah diatas syariat yang dibawa olehnya; ditengah tantangan sekularisme, materialisme, hedonisme, dan berbagai isme yang kini tengah menjangkiti masyarakat kita.
Jangan sampai langkah kita terpengaruh oleh mereka yang kini tengah berusaha menyeberang ke sisi musuh, sekaligus merobohkan dinding-dinding agama ini. Karena, hidup kita tidak akan bahagia. Beban kita akan semakin berat, nafas kita akan semakin terhimpit oleh masalah hidup, dan harkat kita akan direndahkan orang lain.
Lihatlah mereka yang lebih memilih untuk mengikuti nafsunya dan meninggalkan jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat-sahabatnya. Orang-orang yang bahkan berlembut-lembut pada kekafiran dan mengikuti cara-cara orang kafir, apakah mereka semakin mulia? Jawabannya: Tidak!
Setiap hidup Anda pasti akan diuji oleh Allah dengan setiap hal yang kita cintai. Seorang istri akan diuji oleh suaminya, begitu juga sebaliknya. Seorang ayah akan diuji oleh anak yang dicintainya. Anak juga diuji dengan kehendak orangtuanya. Begitu pula dengan karier, harta, dan assetmu. Semua diri akan diuji dengan apa yang dicintainya. Setiap kita akan menghadapi tantangan yang membuat kehidupan kita terasa berat.
Lalu, bagaimana seorang manusia dapat keluar dari ujian yang menghimpitnya dalam kehidupan? Percayalah, selama kita konsisten menempuhi jalan yang pernah dijalani oleh Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa sallam maka dada kita akan dilapangkan, beban kehidupan kehidupan kita akan diringankan, bahkan sebutan nama kita akan ditinggikan oleh Allah Azza wa Jalla.
Caranya, minimal berselawatlah kepada Rasulullah dan perbaharuilah syahadat dengan tekad lebih taat kepada-Nya. Insyaallah hidup kita akan lebih lapang. Mari menata kembali kehidupan kita dengan melaksanakan seluruh sunah yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Insyaallah seluruh aspek dalam kehidupan kita akan kembali dalam keadaan yang terbaik.
Lalu bagaimana kita agar kita mampu menjadi penerus risalah yang diajarkan oleh beliau dan menjadi “ring satu” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kelak berbaris di belakang beliau, memasuki surga yang dijanjikan Allah?
Maka, berdakwaklah dan bersungguh-sungguhlah. Ajaklah anak-anak dan keluarga kita untuk mengamalkan Alquran dan menjalankan sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalan setiap lini kehidupan. Bertekadlah agar bagaimana kita sebagai suami dan ayah dari anak-anak, mampu membacakan satu ayat Alquran dan satu hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap harinya. Ajak anak-anak untuk memahami ayat-ayat Alquran dan mendekatkan diri kepada Allah serta menjalani sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kehidupan sehari-hari. Inilah dakwah terdekat sekaligus terpenting kita.
Semoga kita termasuk mereka yang diberi nikmat kelapangan hidup dan nama yang bermartabat di kehidupan dunia ini dan menjadi orang-orang akhir zaman yang dinantikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari kiamat untuk berbaris bersama beliau memasuki surga Allah Ta’ala.*
