Seruan KH Bachtiar Nasir agar Al-Qur’an sebagai Sistem Operasi Peradaban pada Acara Wisuda ke-6 STIQ Ar-Rahman

Pagi hari, 26 Agustus 2026 para calon wisudawan sudah berdiri rapi di anak tangga menuju lantai 4 gedung serbaguna STIQ Ar-Rahman, Jonggol, Bogor. Mereka siap diwisuda.
Sebanyak 53 wisudawan dan wisudawati dari dua program studi, yakni Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, serta Prodi Ilmu Hadis dikukuhkan dalam proses Sidang Senat Terbuka dan Wisuda Sarjana, dan kuliah kehormatan.
Ketua Senat STIQ Ar-Rahman, Dr (HC) KH Bachtiar Nasir Lc, MM menyampaikan kuliah kehormatan dengan tema “Al-Qur’an sebagai Operating System Peradaban: Dari Tadabbur Menuju Transformasi”. UBN, sebutan untuk KH Bachtiar Nasir menegaskan, pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan.
“Ketika kita mengatakan menjadikan Al-Qur’an sebagai operating system kehidupan, artinya nilai-nilai yang di-istinbat-kan secara sahih dari ayat harus difungsikan sebagai sistem kendali keputusan, evaluasi, dan kebiasaan seorang mukmin, bukan sekadar informasi yang disimpan,” ujar UBN dalam orasi ilmiahnya.
Menurut UBN, tantangan yang dihadapi umat saat ini bukan semata-mata keterbatasan akses terhadap teks suci, melainkan persoalan metodologi dalam berinteraksi dengan Alquran.
Karena itu, gerakan tadabur perlu diarahkan menjadi jembatan yang menghubungkan pemahaman terhadap makna Alquran dengan perwujudan amal yang terukur di tengah masyarakat.
Sementara itu, Ketua STIQ Ar-Rahman, Dr Haris Renaldi, MPd, menyampaikan apresiasi atas capaian akademik para lulusan. Menurut dia, STIQ Ar-Rahman berkomitmen melahirkan sarjana yang tidak hanya memiliki kemampuan teoritis, tetapi juga mampu berkontribusi dalam membangun peradaban Islam di Indonesia.
“Alhamdulillah, dari 53 mahasiswa yang diwisuda hari ini, 50 persen di antaranya telah berhasil mempublikasikan tugas akhirnya di jurnal ilmiah terakreditasi Sinta 4 dan Sinta 3. Ini merupakan kebanggaan bagi tradisi keilmuan di . STIQ Ar-Rahman,” kata Haris. Prosesi wisuda turut dihadiri sejumlah ulama dan akademisi nasional. KH DeeenDi antaranya Guru Besar Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor Prof Dr KH Didin Hafidhuddin, MSc, Guru Besar Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Prof Dr Syamsuddin Arif, MA, serta perwakilan Kopertais Wilayah II Jawa Barat, Dr Deden Supena, MAg, dan juga Dr Deden M. Makhyaruddin.

Prof Didin Hafidhuddin mengapresiasi konsep tadabur yang dikembangkan STIQ Ar-Rahman. Ia berharap kampus tersebut terus berkembang menjadi pusat peradaban yang memadukan pemahaman terhadap wahyu atau ayat tanziliyah dengan ilmu pengetahuan dan alam semesta atau ayat kauniyah.
Menurut dia, pendekatan tersebut penting untuk memperkuat tradisi keilmuan Islam sekaligus menghadapi arus sekularisasi.
Momen haru turut mewarnai prosesi wisuda. Salah seorang wisudawan Program Studi Ilmu Hadis, Andika Adre Putra, mengikuti prosesi wisuda secara daring dari halaman rumahnya di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Andika tidak dapat hadir langsung di Bogor karena tengah menjalankan tugas dari kampus sebagai relawan kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores Timur.
Keputusan Andika mengikuti wisuda dari lokasi bencana dinilai menjadi salah satu bentuk nyata pengamalan Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Langkah tersebut sekaligus mencerminkan semangat tadabur Alquran yang diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata di tengah masyarakat.*
