Tadzkirah

Hidup Bersama Allah

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.” (QS. Al-Anfal ayat 12).

Ini adalah fragmen ketika perang Badar berkecamuk. Ketika itu, jumlah pasukan kaum Muslimin kalah jauh dibandingkan dengan bala tentara kaum kafir Quraisy. Pasukan Muslim berjumlah 313 orang sementara jumlah pasukan kafir Quraisy 1000 orang.

Persenjataan juga jauh tertinggal. Namun, di saat itulah Allah Azza wa Jalla memerintahkan kepada malaikat-malaikat-Nya untuk turun ke bumi dan mengisi hati-hati orang beriman dengan keyakinan bahwa Allah Ta’ala membersamai mereka. Allah Ta’ala tidak membiarkan mereka berperang sendirian dan pertolongan-Nya selalu dekat untuk memenangkan orang-orang beriman.

Pengawasan Allah Ta’ala

Kebersamaan dengan Allah atau yang seringkali dikenal dengan ma’iyatullah ini adalah adanya Allah beserta orang-orang yang beriman, membersamai mereka, dan benar-benar memberikan perlindungan kepada orang beriman dalam setiap amal saleh yang mereka kerjakan. Bukan seperti orang-orang yang merasa bersama Allah, tetapi sesungguhnya Allah Ta’ala justru membenci apa yang mereka kerjakan.

Seperti orang-orang yang mengucapkan “Alhamdulillah” ketika korupsi, tapi berhasil lolos dari jerat KPK. Ini bukan karena mereka bersama Allah Ta’ala kemudian dilindungi; hanya saja Allah memberi mereka waktu untuk bertaubat atau mereka malah menambah timbunan kemaksiatan, hingga kemudian Allah menimpakan azab yang seberat-beratnya.

Pada dasarnya setiap manusia tidak dapat melepaskan dirinya dari Allah Azza wa Jalla. Allah senantiasa bersama hamba-Nya untuk memberi rezeki dan mengawasinya. Ini adalah arti bersama Allah Ta’ala secara umum. Seorang hamba tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari pengawasan Allah Azza wa Jalla, tidak bisa mengelak dari ketentuan dan aturan Allah terhadap dirinya, juga tidak bisa menghindar manakala Allah Ta’ala berkehendak menjatuhkan hukuman atau musibah atas dirinya.

Oleh karena itu, akan sangat bodoh, bila seseorang merasa tidak ada yang tahu apa yang diperbuatnya; semata hanya karena tidak ada CCTV, pengawas di dekatnya, atau tidak ada hukum manusia yang akan mengadilinya.

Kisah Umar bin Khaththab dan seorang anak gembala, kiranya dapat menjadi pelajaran. Umar bin Khaththab suatu hari bertemu dengan seorang anak gembala yang tengah menggiring domba-dombanya yang sangat banyak dan gemuk.

Sang Amnirul Mukminin kemudian mendekati anak tersebut dan bertanya, “Kambingmu banyak dan terlihat gemuk-gemuk. Bolehkah saya membelinya satu ekor?” tanya Khalifah untuk menguji kejujuran anak tersebut. Di luar dugaan, anak itu menjawab, “Ini bukan kambing-kambing saya, Tuan. Saya hanya disuruh untuk menggembalakan saja. Tidak boleh menjualnya.”

Sang Khalifah yang semakin penasaran akan kejujuran anak gembala, kemudian membujuk, “Katakan saja pada tuanmu bahwa seekor kambingnya dimakan serigala.”

Anak itu memandang wajah sang Amirul Mukminin, lalu dengan tegas menjawab, “Fa’ainnallah (lalu dimanakah Allah)? Majikan saya memang tidak melihat, tetapi Allah senantiasa melihat hamba-Nya. Dan, siksanya sangat keras bagi para pendusta.”

Jawaban itu sungguh membuat sang Khalifah terharu. Beliau mendekap sang anak gembala dan bangga akan kejujurannya, meski di usia yang masih sangat belia. Saat bertemu dengan majikannya, Umar kemudian memerdekakan sang anak.

Pertolongan Allah

Kebersamaan dengan Allah Ta’ala selain menumbuhkan rasa takut kepada-Nya, kejujuran, dan sikap amanah; juga akan membuat orang beriman akan senantiasa dekat dengan pertolongan, perlindungan, dan rahmat Allah Azza wa Jalla.

Kekuatan energi kebersamaan Allah Ta’ala dengan hamba-Nya yang beriman, jauh lebih besar dibandingkan pasukan terkuat manapun yang ada di muka bumi. Ini dapat kita saksikan secara langsung di Bumi Palestina. Ketika pasukan Hamas dapat bertahan bahkan memukul mundur pasukan gabungan Israel dan negara-negara penyokongnya tanpa kesulitan dan pasukan gabungan itu merasakan tangguhnya kekuatan pasukan orang-orang mu’min.

Inilah yang dikenal sebagai kebersamaan khusus antara Allah Azza wa Jalla dengan orang-orang yang beriman. Bentuknya berupa pertolongan, taufik, dan penguatan hati. Khusus hanya untuk orang-orang yang beriman.

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. An-Ankabut: 69).

Syarat untuk dapat dibersamai oleh Allah Ta’ala secara khusus ini juga bukan biasa-biasa saja. Hanya orang-orang yang bertakwa, berbuat kebaikan, dan sungguh-sungguh berjuang, memberikan yang terbaik untuk Islam; barulah mereka akan mendapatkan pertolongan, perlindungan, dan kemenangan bersama Allah Azza wa Jalla.

Dalam perjalanan dakwah dan jihad kita, berhasil atau tidaknya – kalah atau menang, seringkali dipengaruhi dengan kadar ma’iyah kita dengan Allah Ta’ala di hari ini. Kadang kala, kita tidak menyadari bahwa niat di hati kita telah berbelok pada sanjungan sesama atau keuntungan dunia. Inilah yang seringkali membuat langkah kita tidak lagi tegak, arah kita tidak lagi lurus, dan menjauhnya pertolongan Allah Azza wa Jalla. Hingga membuat kita tersesat dari jalan Allah dan hilangnya kekuatan untuk memenangkan urusan. Karena kemenangan orang beriman itu, sejatinya bukan karena pedang, melainkan karena wahyu dan ma’iyah dari Allah Ta’ala.

Ketahuilah bahwa perang itu dimulai dengan langkah hati, bukan langkah kaki. Bila langkah hati kita sudah tidak lagi menuju kepada-Nya, langkah kaki kita pun tidak akan pernah sampai pada kemenangan yang diridhai-Nya.*

 

 

 

 

Exit mobile version