Peluang Emas di Bulan Rajab

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
“Bila terbuka bagi salah seorang di antara kalian pintu kebaikan, hendaknya bersegera memasukinya. Sebab, sesungguhnya ia tidak tahu kapan pintu itu akan tertutup baginya.” (Khalid bin Ma’dan)
Islam tidak hanya membebankan kewajiban untuk beribadah, tetapi juga menjamin dan memfasilitasi umatnya agar dapat beribadah dengan aman dan nyaman. Oleh karena itu, selain memberikan perlindungan berupa penetapan bulan-bulan haram, Islam juga menekankan agar umatnya tidak menzalimi diri sendiri dengan bermaksiat selama bulan-bulan tersebut.
Energi yang ada diarahkan untuk beribadah dan berbuat kebaikan sepanjang bulan haram. Tiga bulan, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharam, merupakan masa yang difokuskan untuk pelaksanaan ibadah haji. Bulan Dzulqa’dah adalah masa persiapan menuju Dzulhijjah sebagai bulan puncak ibadah haji, sementara Muharam merupakan bulan kepulangan dari ibadah haji. Pada masa-masa ini dibutuhkan perlindungan agar jamaah haji dapat kembali ke kampung halaman dengan aman.
Demikian pula bulan Rajab, bulan ketujuh dalam penanggalan Hijriah. Pada bulan ini umat Islam diberi proteksi sebagai bulan haram agar dapat melaksanakan ibadah umrah dengan aman dan tenang. Dengan demikian, orang-orang beriman dapat mengagungkan Allah Ta’ala dan beribadah ke Baitullah sepanjang tahun.
Amaliah Terbaik
Saat ini, di bulan Rajab yang membentang dari akhir Desember 2025 hingga Januari 2026, umat Islam di Indonesia menapaki perjalanan waktu yang sangat menguras energi kesabaran dan empati. Di penghujung tahun 2025, tiga provinsi di Sumatera diterjang banjir bandang yang meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan. Kehilangan orang-orang tercinta, tempat tinggal, dan mata pencaharian menjadi kesedihan mendalam yang memukul nurani bangsa ini, terutama kaum Muslimin yang kembali harus menyaksikan Aceh berduka setelah berupaya pulih dari bencana tsunami 12 tahun silam.
Di bulan Rajab yang hanya tersisa tiga hari ke depan ini, umat Islam Indonesia ditantang untuk mewujudkan energi perdamaian yang dibawa bulan Rajab menjadi amaliah nyata: memeluk, meringankan derita, dan membuka jalan masa depan yang lebih baik bagi saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Agar mereka tidak merasa sendirian diterjang bencana dan tidak berputus asa menghadapi lambannya penanganan bencana dari pemerintah pusat.
Bencana di Sumatera sejatinya juga mengingatkan kita, yang selama ini terlena oleh kemajuan infrastruktur dan kemudahan teknologi bahwa kita adalah khalifah yang diamanahi untuk menjaga bumi dan kelestarian ciptaan Allah Azza wa Jalla di dalamnya. Teknologi secanggih apa pun, jika tidak selaras dengan alam sebagai ayat kauniyah Allah Ta’ala, akan hancur diterjang keperkasaan hukum-Nya.
Energi damai untuk beribadah dan berbuat baik di bulan yang mulia ini sejatinya adalah energi agar kita tetap bertahan dan terus berupaya terbaik mengawal masa depan saudara-saudara kita di Sumatera, terutama dalam menyambut bulan Ramadhan dan menjalaninya hingga Syawal. Ini adalah tanggung jawab kita bersama melalui amaliah-amaliah nyata agar mereka tetap dapat beribadah dengan khusyuk di bulan Ramadhan.
Agar kita tercatat sebagai orang-orang yang berani membenarkan ayat-ayat-Nya dan tidak kikir, berani membenarkan ayat-Nya bahwa Dialah Pemberi rezeki dan Yang Maha Melapangkan rezeki bagi siapa saja yang Dia ridhai—serta tidak kikir terhadap saudara-saudara kita yang tengah dilanda musibah dan derita.
Waspada Tipu Daya Setan
Bulan Rajab adalah bulan di mana amal-amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya, dan amal-amal keburukan diperbesar pula dosanya. Sebagaimana Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci. Melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan saleh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”
Oleh karena itu, tiga hari terakhir di bulan Rajab ini marilah kita manfaatkan sebaik mungkin untuk melakukan amal-amal saleh dan ibadah terbaik yang mampu kita kerjakan. Menjalankan ibadah di bulan Rajab sejatinya membutuhkan kesungguhan lebih, karena sebagaimana pahala besar yang disediakan, berlipat pula upaya yang dilancarkan setan untuk membuat manusia malas dan lalai.
Apabila timbul rasa malas untuk beramal dan bisikan untuk menganggap remeh maksiat, sadarilah bahwa semua itu berasal dari godaan setan yang ingin menjauhkan kita dari ibadah yang khusyuk. Mohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala agar kita diberi obat dari rasa malas dan lalai tersebut, serta jalan keluar dari godaan yang membutakan.
“Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah; maka ketika itu juga mereka dapat melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf: 200–201)
Latihlah diri di bulan yang agung ini untuk melakukan amal-amal yang dicintai-Nya. Selain karena kemuliaan bulan ini dan karena Ramadhan yang sebentar lagi menjelang, ini adalah peluang emas untuk meraih kenikmatan kedekatan dengan Allah Azza wa Jalla, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Seorang ulama dari generasi tabi’in, Khalid bin Ma’dan rahimahullah, berpesan, “Bila terbuka bagi salah seorang di antara kalian pintu kebaikan, hendaknya bersegera memasukinya. Sebab, sesungguhnya ia tidak tahu kapan pintu itu akan tertutup baginya.”
Kesibukan kita dalam berbuat baik dan beribadah akan menghindarkan kita dari perbuatan maksiat. Karena itu, pergunakanlah energi kedamaian yang menjadi warna bulan Rajab ini untuk mendorong terciptanya kebaikan-kebaikan bagi semesta.
Ketika warga dunia tengah tercekam oleh kesewenang-wenangan Amerika terhadap Venezuela, marilah kita warnai sisa hari Rajab dan bulan Sya’ban yang akan datang dengan amal-amal saleh terbaik serta semangat mengagungkan aturan Allah Ta’ala. Dengan demikian, hari-hari menjelang Ramadhan benar-benar menjadi momentum kebahagiaan, kemudahan, dan keberkahan bagi semesta alam.*