Menyikapi Kesulitan

Oleh:
KH. Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS Hud ayat 88).
Setiap persoalan sejatinya salah satu jalan perjumpaan dengan-Nya di dunia ini. Agar kita senantiasa dekat, senantiasa taat; hingga kita dapat merasakan dan mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya. Baik berupa jalan keluar maupun keikhlasan ketika harus menerima atau melepaskan.
Semua yang ada di dunia ini adalah kebaikan yang datang dari Allah Ta’ala. Tidak pernah ada maksud Allah Azza Wajalla untuk membuat hamba-Nya dalam kesulitan karena di baliknya, pasti ada kebaikan dan pertolongan-Nya. Intinya, apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan; semuanya adalah pancaran dan manifestasi dari asma dan sifat Allah yang Mahasuci dari kesalahan dan Mahamulia: pemilik dari segala puja dan puji keagungan.
Termasuk manakala kita merespon atau menyikapi takdir Allah Ta’ala, manakala anak atau cucu kita terlahir dalam keadaan difable atau anak berkebutuhan khusus; atau dalam hal merawat orangtua kita yang sudah dalam keadaan renta atau bahkan pikun – yang sudah tidak mampu mengurus dirinya sendiri lagi; berdasarkan asma dan sifat Allah Ta’ala. Melihatnya, melalui asma dan sifat Allah.
Lima Asma wa Shifat
Anak berkebutuhan khusus dan orangtua yang pikun dan tidak mampu merawat dirinya sendiri; sejatinya adalah ladang ibadah. Alih-alih melihatnya sebagai kondisi yang menyedihkan atau memalukan, akan lebih baik jika kita melihatnya sebagai ladang pahala, investasi akhirat, dan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Inilah sikap kita seharusnya, sebagai orang-orang yang bertauhid kepada Allah Ta’ala dan sungguh-sungguh mengesakan-Nya. Yaitu, merespon sesuai dengan asma dan sifat Allah. Ada lima asma dan sifat-Nya yang sangat indah untuk diterapkan dalam kondisi ini.
Pertama adalah nama-Nya Al-Afuwu yang artinya Dialah yang berulang-ulang memaafkan kesalahan hamba-Nya. Kita harus bersungguh-sungguh meminta maaf kepada-Nya karena kita yang justru seringkali bersalah dalam menyikapi ujian atas anak atau cucu yang terlahir dalam keadaan berkebutuhan khusus. Kita yang seringkali tidak mengerti dan salah memahami maksud-Nya. Sehingga respon yang kita berikan seringkali tidak seharusnya dan tak jarang kita mempertanyakan, mengapa kondisi ini harus kita yang menerimanya.
Padahal kita tidak boleh mempertanyakan perbuatan Allah Azza wa Jalla. Justru kitalah yang harus dipertanyakan, mengapa kita tidak merespon takdir-Nya yang selalu baik dengan kesabaran dan perasangka terbaik. Sungguh, tidak ada sesuatu apa pun yang tercipta di bumi ini kecuali sebagai cerminan asma-Nya yang Maha Suci dan sifat-Nya yang Maha Tinggi.
Tataplah wajah anak kita yang tak sempurna. Di balik kebutuhan khususnya, pastilah tersimpan rahasia takdir-Nya yang luar biasa. Saat dada terasa terhimpit karena melihat kondisi orangtua kita yang tak lagi sempurna, maka ingatlah bahwa inilah ibadah yang dapat mengantarkan kita ke surga. Sekaligus sebagai penebus kesalahan yang selalu kita lakukan saat kecil hingga dewasa dalam pengasuhan kedua orangtua yang kini telah renta. Mohonlah maaf pada mereka, juga mohonlah ampun kepada Allah Al-Afuw karena dosa-dosa yang senantiasa kita lakukan dan seringnya kita salah merespon ujian yang Allah Ta’ala berikan.
Kedua, nama Allah Ash-Shabur yang berarti Yang Maha Sabar dan Maha Membalas hamba-hamba-Nya yang bersabar. Ujian anak berkebutuhan khusus dan orangtua yang kembali seperti anak kecil, sesungguhnya adalah media untuk kita belajar meneguhkan hati dan tulus mencurahkan kasih sayang pada orang-orang yang tidak bisa kita harapkan balasannya. Inilah mengapa ibadah merawat anak berkebutuhan khusus dan orangtuanya yang renta itu disebut juga dengan ibadah yang paling jernih.
Akhlak yang Mulia
Belajar bersabar ini bersumber dari asma yang selanjutnya: Allah Yang Maha Rahman dan Rahiim, Sang Pemilik kasih sayang yang benar-benar suci kasih sayang-Nya tanpa tendensi dan tanpa mengharap imbal balik. Allah, Ar-Rahman-Ar-Rahiim. Kita yang telah berpeluh payah mengasuh anak berkebutuhan khusus dan orangtua yang telah banyak kesulitannya, mintalah pertolongan dan taufiq-Nya dengan menyebut asma-Nya Ar-Rahman dan Ar-Rahiim. Untuk bisa mengendalikan amarah dan kuat memberikan kasih sayang yang paling tulus, mintalah dari sumbernya Yang Maha penyantun. Allah Al-Haliim. Inilah asma-Nya yang juga bisa kita sebutkan manakala kesulitan menghimpit.
“Dan ketahuilah bahwasanya Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada -Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah ayat 235).
Mintalah pertolongan dari-Nya Yang Maha Memberi dengan penuh kelembutan, hingga kita bisa bertahan memberikan kasih sayang dan kelembutan, sekaligus bersyukur meski yang kita hadapi tidak mudah dan berat. Mintalah rasa syukur itu ditiupkan ke dalam hati kita agar jalan yang tidak mudah itu terasa bernilai dan menggembirakan hati kita yang lelah. Juga agar kekuatan syukur itu senantiasa berbuah pahala yang sempurna dan karunia yang berlipat ganda.
“Allah akan menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha mensyukuri.” (QS. Fathir ayat 30).
Mintalah pertolongan dari-Nya agar senantiasa memiliki dada yang lapang dan hati yang penuh untuk bisa selalu memberi. Agar hati kita tidak sempit untuk menerima keberadaan anak yang istimewa dan orangtua lansia yang sudah banyak kesulitannya. Dialah Al-Jawwad yang Maha Dermawan yang tidak pernah berhitung dalam memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Maka, demikian pula seharusnya kita dalam memperlakukan anak difabel yang menjadi keturunan kita dan orangtua yang sudah rentan di usia senjanya.
“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Jawwad (Maha Dermawan) menyukai kedermawanan. Dan Dia mencintai akhlak mulia dan tidak menyukai (akhlak) yang rendah.” (HR. Baihaqi)
Sejatinya, kita kelak juga akan berada di dalam keadaan yang lemah. Oleh karena itu, bersikaplah lemah-lembut, penyayang, dan berakhlak mulia kepada orang-orang lemah yang ada di bawah tanggung-jawab kita. Karena, orang tidak menyayangi tidak akan disayangi.*