Bencana, Ayat, dan Telinga yang Tertutup

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan mereka berkata, ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.’ Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk: 10–12)
Memasuki pekan keempat pascabanjir bandang di Sumatera, jumlah korban jiwa telah mencapai seribu lebih, sementara ratusan orang dinyatakan hilang. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah, mengingat banyak akses jalan yang masih terputus, minimnya alat berat untuk evakuasi, serta luasnya wilayah terdampak bencana. Deretan angka itu mungkin tak berarti bila kita tidak mendengar kisah yang ada di baliknya: ungkapan kehilangan, kekhawatiran, dan pengharapan yang keluar dari lisan mereka. Padahal mereka menyadari, dengan kondisi yang kini dihadapi, kemungkinan menerima kabar baik sangatlah kecil.
Mendengar adalah hal mendasar dalam kehidupan kita. Namun, mendengar, terlebih mendengarkan, sering kali justru sulit kita lakukan. Padahal, banyak orang lebih membutuhkan untuk didengarkan daripada ditawari berbagai alternatif penyelesaian.
Pentingnya Mendengar
Mendengar sejatinya merupakan bagian paling penting dari segala sesuatu yang kita lakukan. Semua data yang masuk ke dalam akal dan hati berawal dari pendengaran. Pendengaran adalah gerbang pertama yang harus dilalui sebelum kemudian menjadi input yang diolah oleh akal dan hati.
Bagaimana dengan penglihatan? Mata atau penglihatan sejatinya merupakan penguat dari input yang diterima oleh telinga. Data yang diperoleh melalui penglihatan hanya akan menjadi setumpuk kata atau sederet angka bila tidak diolah dengan mendengar. Karena itu, menjadi “wajar” bila banyak orang tidak mampu mengubah data menjadi ilmu atau paradigma yang mendorong tindakan, sebab apa yang diterima oleh akal dan hati tidaklah utuh.
Hal inilah kiranya yang membuat banyak pemangku kebijakan menjadi manusia tanpa hati dalam menyikapi bencana. Mereka hanya melihat angka, data, foto, dan video, tanpa mendengarkan kengerian, ketakutan, kehilangan, serta harapan yang keluar dari jerit dan ratapan para korban bencana.
Dalam literatur sejarah Islam, kita dapat melihat bahwa banyak pembesar Quraisy menolak Islam karena mengabaikan apa yang mereka dengar, baik yang masuk ke telinga maupun yang berbisik di dalam hati. Padahal, sebagian dari mereka, seperti Abu Sufyan, kerap mengendap-endap mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan Rasulullah Muhammad saw. di rumah Al-Arqam.
Mereka mengabaikan input yang masuk ke dalam pendengaran, sehingga terblokirlah apa yang seharusnya diolah oleh akal dan hati. Akal dan hati yang kosong dari cahaya Allah Azza wa Jalla inilah yang akhirnya membuat seseorang bertindak berdasarkan hawa nafsu, yang berujung pada kerusakan dan bencana di mana-mana, termasuk kelak menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam neraka yang menyala-nyala (sa‘ir).
Sampai di sini, kita memahami mengapa mendengar menjadi landasan bagi akal dan pendorong bagi hati. Oleh karena itu, mengetahui pentingnya pendengaran sebagai landasan akal dan penggerak hati, patutlah kita berhati-hati dan waspada terhadap apa yang masuk ke dalam pendengaran kita.
Pilihlah yang Didengar
Mari kita bandingkan orang yang terbiasa mendengar hal-hal lucu atau penuh khayalan dengan orang yang terbiasa mendengar fakta, berita bencana, atau kisah-kisah yang menggugah hati. Orang yang terbiasa mendengar komedi yang mengada-ada atau kisah khayalan cenderung menjadi lalai dan terbiasa santai. Sebaliknya, mereka yang terbiasa mengolah data dan mendengar kesulitan orang lain akan menjadi pribadi yang terbiasa mencari kebenaran serta bertindak cepat dan tepat sesuai kebutuhan.
Layaknya seorang anak yang terbiasa mendengar arahan gurunya, ia akan sigap mengerjakan tugas ketika tiba di rumah. Ia tidak menunda karena mendengar perintah gurunya, dan akalnya dengan mudah menalar akibat: jika menunda, ia akan mengantuk saat mengerjakannya di malam hari dan sulit berkonsentrasi. Jika tidak dikerjakan, esok hari ia akan menerima hukuman. Berbeda dengan anak yang tidak mendengarkan gurunya karena bercanda, bermain-main, atau sibuk berkhayal. Ia akan melanjutkan kesenangan itu di rumah, hingga akhirnya tugas tidak dikerjakan dan hukuman pun diterima.
Oleh karena itu, berhati-hatilah ketika kita “alergi” terhadap peringatan dalam Al-Qur’an. Waspadalah terhadap kecenderungan menghindari larangan dan kata “jangan”, lalu hanya memperbanyak pujian dan harapan. Sikap ini dapat membuat kita, terutama anak-anak, menjadi pribadi yang tidak waspada terhadap tipu daya dan perangkap setan serta manusia yang menjadi kaki tangannya. Kita pun menjadi lalai terhadap akhirat karena menghindari ayat-ayat yang mengingatkan tentang siksa neraka, alam kubur, hari Kiamat, dan kehidupan abadi di akhirat. Akibatnya, kita menjalani hidup dengan mengikuti hawa nafsu dan angan-angan semata.
Ingatlah, Allah Ta‘ala akan meminta pertanggungjawaban atas pendengaran, penglihatan, dan hati kita. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36)
Jadilah orang-orang yang mau mendengar. Sejatinya, mereka yang mau mendengar adalah orang-orang yang peka, mampu memprediksi, dan bersedia mengambil tindakan terhadap sesuatu yang bahkan belum mereka lihat. Dan yang terpenting, orang-orang yang mau mendengar adalah mereka yang takut kepada Allah Ta‘ala meski Dia tidak tampak oleh mata.
Sebaliknya, mereka yang tidak mau mendengar peringatan Allah Ta‘ala dan Rasul-Nya tidak akan memiliki rasa takut. Inilah perkara paling krusial yang menentukan bagaimana kita menjalani kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk: 12).*