Al-Wa’du dan Al-Wa’idu
Oleh KH Bachtiar Nasir

Ingat selalu di hati, kata-kata Abdul Qodir Jaelani dalam kitab Fathur Rabbani:
Al-Wa’du dan Al-Wa’idu
Kalau ingin hidup benar, ingatlah akan tiga hal:
1. Ada aturan Allah dan Rasul-Nya yang harus ditaati dan dijalankan.
2. Ada larangan Allah dan Rasul-Nya yang harus dijauhi dan ditinggalkan.
3. Ada takdir yang harus kita ridhoi. Takdir selalu ada dalam hidup kita, karenanya harus terima dan kita ridhoi.
Kita, meski sudah berada di jalan benar, tetapi masih rentan karena kita masih akan selalu menghadapi ujian-ujian.
Supaya kita tetap kuat dan tahan menghadapi ujian, perlu bersandar dan dilindungi dengan dua: Al-Wa’du dan Al-Wa’idu.
Apakah Al-Wa’du dan Al-Wa’idu?
Al-Wa’du, artinya meyakini dan membenarkan janji-janji Allah kepada orang yang taat dengan ganjaran yang baik, pahala dan surga.
Al-Wa’idu, artinya meyakini dan membenarkan semua ancaman-ancaman Allah bagi orang-orang yang berbuat maksiat dengan adzab dan mencerminkan yang pedih.
Kadang sebagian kita masih ada yang berkata, “Larangan Allah sih benar, tapi kan….”
Nah, poin yang ketiga, kita ini cenderung hanya mau menerima takdir yang kita sukai. Kalau mengalami takdir yang tidak kita sukai, kita menolak dan tidak meridhoi.
Bagaimana cara memproteksi hal yang ketiga itu? Caranya adalah, pertama, membenarkan janji-janji Allah (Al-Wa’du). Kedua, meyakini dan membenarkan semua ancaman Allah (Al-Wa’idu).
Dalam sayyidul istighfar disebutkan:
أَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَاسْتَطَعْتُ
“Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, tidak ada sesembahan yang hak kecuali Engkau. Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu, dan aku di atas ikatan janji-Mu (yaitu selalu menjalankan amal ketaatan kepada-Mu)…”
Satu hal yang tidak boleh kita tinggalkan adalah berorientasi pada akhirat. Bagaimana supaya kita tetap Istiqomah? Tetaplah akhirat oriented.
Lihat Asy-Syura ayat 20:
مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْاٰخِرَةِ نَزِدْ لَهٗ فِيْ حَرْثِهٖۚ وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۙ وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ ٢٠
“Siapa yang menghendaki balasan di akhirat, akan Kami tambahkan balasan itu baginya. Siapa yang menghendaki balasan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (balasan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian sedikit pun di akhirat.”