Puasa adalah Proyek Takwa

Oleh KH Bachtiar Nasir
Maqashid Surah Al-Baqarah ayat 183
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Sapaan kepada orang-orang Beriman
Ayat 183 ini dibuka dengan dengan kalimat sapaan يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا , “Wahai orang-orang yang beriman.”
Ayat ini tidak dibuka dengan sapaan, “Wahai manusia”, tetapi ditujukan kepada orang-orang beriman. Ini memberi makna maqashid, bahwa puasa bukan untuk alasan kesehatan. Tetapi puasa adalah identitas orang beriman dan dilakukan karena Allah.
Ada dorongan dalam diri kita yang harus kita hadapi dengan kesadaran rasional.
Secara ruhani, jika iman adalah identitas, maka puasa menjadi kunci konsistensi sebagai orang beriman.
Nabi mengatakan, puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan hawa nafsu. Ya, Puasa adalah perisai. Maka jangan berkata kotor, jangan bertindak bodoh, jagalah dan kendalikan hawa nafsu.
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa adalah perisai.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Puasa adalah perisai lisan, perisai mata, perisai pendengaran, dan itu semua satu paket.
Kita harus punya kontrol yang datangnya dari dalam diri untuk mengendalikan hawa nafsu.
Jika ada faktor gangguan dari luar yang bisa memancing nafsu kita, jadikan sebagai perisai dan katakan, “Aku sedang berpuasa.” Maknanya adalah bahwa, aku dengan kesadaran rasional, aku harus bisa mengontrol itu semua.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘Aku sedang berpuasa” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Inilah inti orang yang berpuasa, mengendalikan hawa nafsu.
Banyak orang yang menahan lapar tetapi tidak bisa menahan diri di media sosial lewat jari tangan yang tak dapat dikendalikan. Puasa bisa batal bukan karena makanan, tetapi karena emosi dari dalam diri sendiri.
Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang berpuasa tetapi tidak bertransformasi ke arah lebih baik, sehingga puasa hanya aktivitas yang kosong dari makna.
Puasa, kewajiban lintas era
Bagian kedua dari ayat 183 Surah Al-Baqarah,
كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ
“Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.”
Puasa adalah kewajiban lintas era, lintas sejarah.
Kalimat ini menempatkan, bahwa puasa menjadikan pelajaran lintas zaman. Inilah inti pendidikan dari Sang Pencipta untuk semua makhluk.
Tujuannya (maqashid) dari puasa, pertama secara moralitas kita sangat membutuhkan menahan diri atau meregulasi diri.
Kedua, umat yang kuat dari masa ke masa bukanlah umat yang memiliki kekayaan alamnya, tetapi adalah yang mampu mengendalikannya.
Contoh Indonesia kaya akan hasil alam tetapi tidak mampu mengendalikannya, korupsi merajalela dan akibatnya terjadi kerusakan alam.
Masyarakat yang konsumtif dan impulsif cenderung mudah dibeli oleh iklan, mudah konsumtif, dan mudah dibeli.
Puasa dihadirkan sebagai kurikulum massal untuk segenap insan bangsa ini, untuk satu out put, yaitu pembentukan kesadaran diri.
Jika itu diterapkan Indonesia akan menjadi bangsa yang besar.
Jika Ramadhan dijadikan training center, puasa akan menjadi pusat latihan pengendalian diri.
Pengendalian diri dimulai dari self control, untuk mengasah kecerdasan diri.
Inilah kurikulum dari ilahi yang teruji oleh kaum-kaum terdahulu. Ada kaum yang dihancurkan karena tidak punya kemampuan mengendalikan diri.
Kita bersyukur punya lembaga besar bernama Ramadhan. Tidak ada ruang pembinaan sehebat ruang suci Ramadhan yang sangat singkat ini.
Ya Allah, masukkan kami untuk mendapatkan hal hebat di ruang Ramadhan ini.
Jangan sampai setiap Ramadhan kita tidak naik kelas, karena tahun-tahun berlalu tanpa bekas, hanya ritual tarawih dan puasa.
Tujuan puncak: takwa
Bagian akhir dari ayat 183 Surah Al-Baqarah berbunyi,
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Agar kamu bertakwa.”
Inilah puncak tujuan, puncak maqashid. Tujuan puncak puasa adalah takwa, bukan lapar, bukan haus, atau lemas.
Di balik lemas dan lapar memang ada perbaikan tubuh secara metabolisme. Tetapi itu bukan tujuannya.
Dari Imam Bukhari dan Muslim, hadits shahih berbunyi:
عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wasallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”
Inilah maqashid atau tujuan puasa yang melahirkan ikhlas, merasa diawasi oleh Allah, karena kata Allah, “Puasa untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”
Bagaimana dengan kita Saat lapar, apakah kita lebih sabar atau marah? Saat lelah, apakah mudah melakukan dosa-dosa kecil daripada sabar? Saat tidak ada yang melihat, apakah kita tetap menahan diri? Inilah tolak ukur yang praktis dan banyak dilupakan oleh orang-orang yang berpuasa.
Takwa dan kaitannya dengan sains
Otak membangun ulang koneksi berdasarkan pola yang berulang-ulang .
Menurut teori neuroplastisitas, perubahan bisa terjadi jika dibiasakan. Orang yang biasa istiqomah kecil, akan memperkuat jalur kontrol diri.
Neuroplastisitas untuk takwa, adalah istiqomah kecil dan menjadi kebiasaan baru yang berulang.
Ada data riset, Ramadhan sebagai laboratorium alami, sebagai sarana latihan pengendalian diri, inhibitory control.
Inhibitory control (kendali penghambatan) adalah fungsi eksekutif otak yang krusial, memungkinkan individu menekan dorongan impulsif, mengabaikan gangguan, dan berhenti sejenak sebelum bertindak.
Inilah bukti secara sains, puasa menjadi pusat latihan pengendalian diri. Lebih dari itu, tujuan puasa adalah takwa. Dengan takwa kita akan terbiasa mengendalikan diri.