KSPTadzkirah

Takwa dari sudut Sains: Puasa, Neuroplastisitas, dan Rekonstruksi jiwa

Oleh KH Bachtiar Nasir

Bagaimana hubungan antara puasa, neuroplastisitas, dan rekonstruksi jiwa?

Neuroplastisitas adalah kemampuan luar biasa otak untuk mengatur ulang struktur, fungsi, dan koneksi sarafnya sebagai respons terhadap pengalaman, pembelajaran.

Coba lihat Surah Al-Baqarah ayat 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Kita perhatikan struktur ayat 183 Surah Al-Baqarah ini:

1. Ya ayyuhalladzina aamanu kutiba ‘alaikumush-shiyamu يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ, kalimat ini merupakan seruan identitas iman. Puasa bukan proyek biologis, tetapi proyek iman.

2. Kamaa kutiba ‘alalladzoona min qablikum كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ, artinya secara sains puasa adalah kewajiban lintas sejarah dalam rangka pembentukan moral umat-umat. Ini hukum yang universal.

3. La‘allakum tattaquun لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ, maknanya adalah inilah tujuan akhir puasa, agar menjadi orang bertakwa.

Jadi, tujuan puasa bukanlah lapar, bukan lemah, bukan sekadar mencari pahala. Tetapi goal-nya adalah agar menjadi orang bertakwa.

Menurut tafsir Ibnu Asyur, puasa mendidik atau men-tarbiyah kekuatan kehendak atau kekuatan keinginan. Tanpa itu, kita akan kalah oleh dorongan-dorongan dari diri sendiri.

Ketika dorongan paling alami manusia ditunda dengan kesadaran iman, maka jiwa dilatih untuk mengendalikan seluruh dorongan lainnya.

Dengan kata lain, puasa adalah melatih kehendak nafsu biologis dengan kehendak rasional.

Menurut tafsir Al-Alusi melihat puasa dari sisi batin. Puasa mematahkan dominasi nafsu amarah, sehingga cahaya ruh memperoleh ruang untuk memancarkan cahaya.

Jika dorongan tubuh (biologis) diikuti terus, maka ruh akan tenggelam. Sebaliknya, jika dorongan tubuh dikendalikan, maka ruh akan menang.

Pertanyakan pada diri kita sendiri, apakah kita sedang menjalani perjalanan ruh atau perjalanan jasad?

Puasa membuat kita menjadi orang yang berbeda, karena keinginan kita didasarkan rasional, bukan didasarkan nafsu semata.

Inilah maqashid dari shaum. Terjadinya harmonis antara lahir dan batin. Dan orang yang hidupnya ingin bertakwa tidak akan mau membuang waktunya dengan segala hal yang sia-sia.

 

Exit mobile version