KSPTadzkirah

Ramadhan, Ketika Wahyu Bertemu dengan Sains

Oleh KH Bachtiar Nasir­

Sekarang begitu banyak krisis jiwa yang dialami manusia modern. Boleh jadi kita termasuk mengalaminya, sebagai manusia modern yang memiliki krisis jiwa yang signifikan pengaruh negatifnya.

Belum pernah dalam sejarah manusia, pikiran terstimulasi dengan gadget yang berisi hiburan, atau biusan konsumtif belanja. Terstimulasi adalah kondisi di mana seseorang, sistem, atau objek menerima rangsangan (stimulus) yang memicu respons, peningkatan aktivitas, atau reaksi tertentu

Kita hidup dalam keterhubungan permanen, di mana layar gadget hidup sejak pagi sampai malam. Notifikasi memecah keheningan seperti burung yang memecah kesunyian. Informasi begitu membanjiri kesadaran kita, seolah-olah semua informasi adalah penting.

Kita terinformasi tetapi tidak tertransformasi. Kita terhubung dengan informasi tetapi tidak tertambat olehnya. Kita produktif tetapi hati tidak damai. Ketergantungan dofamin menjadi epidemi sunyi.

Lihatlah, kelelehan mental bukan lagi hal aneh, tetapi sudah menjadi gaya hidup.

Lalu, apa kaitannya dengan Ramadhan?

Kelelahan mental bukan lagi pengecualian, tetapi sudah menjadi gaya hidup anak-anak dan orang dewasa sekarang ini. Gangguan kecemasan meningkat.

Namun di balik semua kebisingan itu, ada krisis yang lebih dalam dan tersembunyi, yakni krisis makna.

Sains telah mencerdaskan otak, mampu memperpanjang usia. Namun sains belum bisa menjawab pertanyaan kita yang sangat hakiki: kenapa jiwa tetap saja kosong?

Kita ingat Surah Ar-Rad ayat 28:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ۝٢٨

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.

Di sinilah kita sadar, ada yang mampu meregulasi hati. Tiba-tiba dengan satu konsep, orang-orang yang kosong jiwanya dan kehilangan makna tersentak dengan ayat ini.

Kenapa kita mencari kebahagiaan dengan cara yang salah? Kesadaran ini akan didapat saat kita berzikir, seperti yang Allah katakan pada Surah Ar-Rad ayat 28.

Ada regulasi hati yang kalau kita amalkan, jiwa yang kosong akan terisi kembali, hati akan tenang kembali, yakni zikrullah. Apalagi ditambah dengan tilawatil Qur’an, berpuasa, dan ibadah-ibadah Ramadhan.

Al-Qur’an tidak menafikan tubuh, dan tidak menolak akal. Al-Qur’an tidak menyangkal kerja manusiawi.

Salah satu resep terdalamnya adalah puasa

Ramadhan bukanlah sekadar bulan menahan lapar dan minum. Ramadhan lewat puasa, ada kalibrasi ulang tubuh manusia (direset kembali).

Saat Shiyam dan qiyam, out put-nya adalah takwa kepada Allah.

Ramadhan adalah rekonstruksi moral, Ramadhan adalah pengingat adanya peradaban besar yang harus kita bangun.

Ramadhan secara neurosains

Neurosains modern mempengaruhi jalur Dopamin. Sirkuit dalam otak mengatur keinginan dan sistem penghargaan.

Ketika tubuh dilatih untuk menunda kepuasan, otak mengatur ulang kontrol impulsif nya, kontrol emosi menguat, maka disiplin menjadi karakter.

Sains hari ini mengenal takwa sebagai kemampuan mengatur regulasi diri.

Al-Qur’an mengatakan pada surah Al-Baqarah ayat 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Takwa sering diterjemahkan sebagai kesadaran kepada Allah. Namun dalam perjalanan hidup dan pengalaman, ternyata makna takwa lebih dalam lagi. Bukan sekadar kesadaran akan Allah tetapi kemampuan untuk berhenti sebelum mengikuti dorongan dari diri kita.

Berkaitan dengan pengalaman hidup kita, takwa membentuk kesadaran sebelum bertindak. Ini adalah kecerdasan moral yang menghindari manusia untuk menghancurkan dirinya sendiri. Dia punya kemampuan berhenti sebelum terbawa arus dorongan nafsu.

Ketika lisan menahan diri dari gibah, ia menghancurkan racun sosial.

Ketika mata ditundukkan dari stimulasi visual, maka konsentrasi kita dipulihkan. Banyak orang tidak bisa konsentrasi, karena banyaknya stimulasi visual yang didapat dan dilihatnya.

Ketika perut dikosongkan, maka rasa syukur diperluas.

Ketika malam dipendekkan untuk qiyam, maka tujuan hidup akan dibangkitkan.

Inilah maqoman mahmudah, kedudukan tinggi dan terpuji yang diberikan Allah karena menghidupkan malam dengan ibadah.

Puasa adalah disain dari langit, Sang Pencipta Manusia.

Ramadhan menghadirkan arsitektur sakral penyadaran diri dan ini melampirkan psikologi modern berabad-abad.

Jadi puasa mengintruksikan keseimbangan metabolik, empati sosial, pengendali konsumsi, meningkatkan ketaqwaan kita.

Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

Puasa adalah perisai. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kenapa Rasulullah menyebut puasa adalah perisai? Sebenarnya perisai apa? Sebagai perisai diri dari amarah, perisai diri dari ego, dari kerusakan moral. Itulah Ashaumu junnah.

Tanpa perisai, kemampuan diri melemah, dan kebijaksanaan berkurang. Boleh jadi keterhubungan meluas tetapi belas kasih menyempit.

Ramadhan datang untuk menghentikan arah yang salah ini. Kalau kita berpuasa, kita sedang mereset diri, tidak terbawa arus orang banyak.

Ramadhan menghadapkan ego diri sendiri. Ramadhan membongkar ilusi konsumsi tanpa batas pada dirinya sendiri.

Di dalam puasa, lapar bukan menjadi momok kesedihan, tetapi lapar mengarjakan empati, kendali diri, dan kerendahan hati.

Penelitian modern menunjukkan bahwa puasa akan mengkontrol autophagy, yakni mekanisme pembersihan sel oleh sel dalam tubuh itu sendiri, untuk membersihkan sel-sel yang rusak, tua, atau tidak berfungsi.

Al-Qur’an memakai bahasa yang berbeda untuk pembersihan jiwa, yakni tazkiyatunnafs atau pencucian jiwa. Bahasa neuro-nya adalah autophagy.

Puasa bukan cuma pencucian sel, tetapi pencucian niat.

Pertemuan antara wahyu dan sains, antara teori puasa dan autophagy, dan tazkiyatunnafs bukanlah suatu kebetulan. Tetapi saling menguatkan.

Kebenaran tidak terpecah, justru saling menguatkan.

Selama berabad-abad ulama Islam memahami bahwa syariah memiliki Maqashid atau tujuan luhur yakni menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta.

Kenapa harus ada ahli ekonomi? Tujuannya agar bisa menjaga harta, bukan menjadi pelaku korupsi. Kenapa harus ada dokter? Untuk menjaga keturunan.

Ada lima hal dari maqashid yang harus dijaga menurut syariah, karenanya Ramadhan bukanlah ritual musiman, tetapi membangun kembali manusia dari dalam dirinya.

Exit mobile version