Tadabbur

Belajar dari Palestina: Memahami Hikmah Kehidupan

Oleh:

KH. Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al Imran ayat 191).

Sebagaimana malaikat bertanya, mengapa Allah Azza wa Jalla menciptakan manusia yang gemar membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Mungkin, kita juga bertanya, mengapa Allah tidak menghentikan genosida yang menimpa saudara-sudara kita di Palestina? Mengapa justru semakin banyak manusia yang mengidentifikasi diri sebagai hewan, berbuat dzalim, dan berperilaku tanpa akal dan nurani yang jernih; berkeliaran di muka bumi ini?

Bukan Tanpa Maksud
Sungguh, Allah Azza wa Jalla tidak pernah menciptakan segala sesuatu yang ada dan terjadi di muka bumi ini, tanpa maksud dan sia-sia. Meski itu terkadang menyesakkan dada dan membuat hati terasa sakit, tetapi tidak ada yang tanpa maksud Allah ciptakan dan biarkan di atas bumi ini.

Keberadaan alam semesta beserta segala apa yang ada dan terjadi di muka bumi ini tak lain adalah bagian dari efek asma (nama) Allah Yang Maha Indah dan sifat-Nya Yang Maha Tinggi. Hingga, jika terjadi apa-apa yang tidak selaras dengan apa yang “seharusnya” dalam perspektif kita, maka itu adalah ujian yang menantang kita untuk dapat memahami hikmah yang ada dibaliknya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman di surat Al-Baqarah ayat 214, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?

Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Datangnya pertolongan, salah satu sebab yang terkuat adalah musibah, derita, dan kesengsaraan; itu pasti tidak selaras dengan apa yang kita inginkan. Di sinilah akan terbaca betapa terbatasnya sudut pandang dan cakrawala definisi yang mampu dicapai otak dan hati kita sebagai manusia. Bahwa sesungguhnya Allah dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahiimnya tidak pernah meninggalkan seorang hamba dalam kesusahan. Bahwa, sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat. Itulah janji Allah Ta’ala yang pasti. Dan, sesungguhnya ujian – seperti apa pun bentuknya; tak lain adalah seleksi masuk surga. Untuk megetahui siapa yang pantas dan yang tidak.

Oleh karena itu, seperti apa pun cerdasnya kita dan seindah apa pun quote yang dilontarkan oleh manusia, tidak akan pernah mampu melampaui keindahan dan ketinggian ilmu serta hikmah dari nama dan sifat Allah Ta’ala.

Meski kita pun tidak boleh tinggal diam terhadap kekejaman yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina dan di belahan manapun dunia ini, pandanglah itu sebagai ujian. Sebagai tantangan yang Allah berikan untuk membuktikan seperti apa bukti nyata pembelaan kita pada mereka dan untuk membuktikan siapa yang pantas mendapatkan surga.

Saudara-saudara kita di Palestina hingga anak-anak mereka yang masih balita, mengerti betul ilmu dan hikmah yang Allah berikan ini. Sehingga mereka dengan keteguhan jiwanya mengguncang hati manusia sedunia. Berdiri dengan menjadikan jiwa mereka sebagai perisai hidup Masjidil Aqsha. Berjanji menjadi penjaga Masjidil Aqsha dan tak rela menjadikan tanah para nabi menjadi hunian kaum babi dan kera.

Ibadah Sesuai Asma dan Sifat-Nya
Berbekal kesadaran bahwa apa pun yang ada dan terjadi di dunia ini adalah bagian dari efek dan konsekuensi agungnya nama dan sifat Allah Azza wa Jalla, maka berprasangka baiklah kepada Allah Ta’ala atas setiap apa pun yang kita alami dalam perjalanan di dunia ini. Yakinlah, seburuk apa pun menurut kita, itu adalah jalan terbaik agar kita selalu mendekat kepada-Nya. Tidak ada yang sia-sia dari apa yang telah kita upayakan dan yang menjadi hasilnya.

Yakinlah bahwa Allah-lah Al-Mani’. Di saat kita telah mengupayakan segalanya sebaik mungkin, tetapi musibah itu masih saja menghampiri; di saat itulah kita harus meyakini bahwa ada Allah Al-Mani’ yang Maha Menahan, melindungi, dan menjadi perisai bagi kita. Entah dari keburukan apa yang akan menimpa, bila Allah tidak menahan langkah kita dan sesuatu itu mewujud seperti apa yang diinginkan. Seperti terbatasnya akal dan pemahaman kita, seterbatas itu pula kendali kita atas hidup dan apa yang terjadi di dalamnya. Dalam urusan pribadi sekalipun.

Sedemikian terbatasnya juga akal dan pemahaman kita, hingga tak lepas-lepasnya kita melakukan maksiat kepada Allah Ta’ala karena lupa bahwa sejatinya apa yang terjadi dan ada di dalam hidup kita adalah efek dari indahnya asma Allah dan tingginya sifat Allah. Kita merasa hebat karena lupa bahwa ada Allah Al-Jabbar. Kita merasa selalu sehat karena mampu menerapkan hidup sehat, padahal Allah-lah Asy-Syafi’ yang telah menyembuhkan terlebih dahulu penyakit-penyakit yang tersembunyi di dalam tubuh kita.

Kita lebih mengandalkan akal dari pada merenungkan dan berusaha menangkap hikmah dari setiap nama dan sifat Allah yang ada di dalam setiap maksud peristiwa. Sehingga jauhlah kita dari keberkahan nama dan sifat Allah Ta’ala. Padahal nama dan sifat-Nya adalah sumber ilmu dan hikmah.

Oleh karena itu, marilah mulai sekarang, kita beribadah sesuai dengan asma dan sifat-Nya. Tidak ada yang sia-sia dari asma dan sifat-Nya. Sebutlah selalu asma Allah Azza wa Jalla dan ingatlah setiap apa yang terjadi dan ada, tidaklah lepas dari agungnya maksud dan ketentuan Allah di dalam setiap nama dan sifat-Nya. Dengan memahaminya, setiap manusia akan sadar dalam situasi hidup bagaimana pun, kita membutuhkan Allah dan pertolongan-Nya. Termasuk kelak, dihindarkan dari api neraka.*