Tadabbur

Allah Sebaik-baik Penolong dan Pelindung

Oleh:

KH. Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (QS Al Imran ayat 173).

Menghadapi hiruk-pikuk dunia yang semakin melelahkan dan menjauhkan kita dari Allah Azza wa Jalla, membutuhkan tonggak-tonggak kekuatan jiwa yang mampu menopang dan menguatkan ketika kita hampir menyerah. Apalagi melihat kekuatan iblis-iblis menyerupai manusia yang kini mencengkeram saudara-saudara kita di Palestina. Rasanya tak ada tempat memohon pertolongan dan kembali menguatkan jiwa, kecuali kembali pada keyakinan kita bahwa Allah Azza wa Jalla tidak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya yang beriman.

“(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzzamil ayat 9).

Kita tidak diciptakan untuk berjalan tanpa arah dan sendirian. Allah Azza wa Jalla telah menciptakan semesta ini dengan berbagai kesempurnaannya. Salah satunya adalah penciptaan matahari yang terbit di Timur dan kelak tenggelam di Barat. Dalam perjalanan dari masyriq menuju maghrib itu terdapat berbagai pelajaran yang Allah berikan kepada orang-orang beriman agar mau bersyukur dan senantiasa merundukkan pundaknya menyembah Allah Ta’ala.

Pertolongan Allah Ta’ala

Salah satunya adalah ketika Raja Namrudz yang zalim menonjolkan kekuasaannya dan menantang Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim AS kemudian menantangnya dengan sebuah pertanyaan yang cerdik yaitu mampukah Namrudz menerbitkan matahari dari Barat kemudian memperjalankannya ke tempat tenggelamnya di Timur? Maka, tercenganglah Namrudz dengan pertanyaan Nabi Ibrahim tersebut. Semua orang yang hadir tahu dengan pasti bahwa matahari terbit dari Timur dan akan tenggelam di Barat. Dan, tak seorang pun selain Allah Azza wa Jalla yang mampu melakukannya, apalagi membalikkan arahnya. Pertanyaan Ibrahim as yang diilhami oleh kekuasaan Allah ini membuat semua orang mempertanyakan kekuatan Namrudz. Yang bila benar ia adalah Tuhan, pastilah ia mampu melakukannya.

Namrudz yang dipukul telak oleh Nabi Ibrahim AS tidak dapat menjawabnya dan tersulutlah kemurkaannya. Dia memerintahkan bala tentaranya menyiapkan api besar yang akan melahap tubuh Nabi Ibrahim dalam kobarannya.

Dan, benarlah Nabi Ibrahim AS dilemparkan bala tentara Namrudz ke dalam api besar yang sedang berkobar-kobar. Namrudz yang bodoh terhadap jati dirinya dan tak tahu malu kepada Tuhannya lupa, bahwa semesta ini adalah milik Allah Ta’ala; termasuk api yang sedang menyala. Manakala api tersebut menyambut tubuh mulia Rasul-Nya, seketika ia menjadi dingin atas perintah Allah Azza wa Jalla. Dan, Ibrahim AS pun selamat dari upaya dzalim Namrudz beserta bala tentaranya.

Itulah perlindungan dari Allah Azza wa Jalla yang pasti datang kepada hamba-hamba-Nya yang telah berjuang sepenuh jiwa dan raga; memasrahkan diri untuk memberikan yang terbaik pada Tuhan-Nya. Layaknya saudara-saudara kita di Palestina yang juga telah menjadikan diri mereka sebagai tameng-tameng pelindung Al-Aqsha. Mereka yang masih hidup berjuang di antara kesengsaraan yang terus ditimpakan oleh penjahat-penjahat Zionis, sementara yang telah menjemput syahid kembali kepada Tuhannya dengan senyum kemenangan.
Satu jiwa yang gugur diantar dengan tangis haru dan kegembiraan karena ia kelak akan menggandeng 70 kerabatnya untuk menjadi penghuni surga.

“Sesungguhnya para syuhada mendapatkan enam kemuliaan di sisi Allah: Allah akan mengampuninya pada waktu darahnya keluar pertama kali dari tubuhnya, diperlihatkan untuknya tempat duduknya di surga, diberi hiasan dengan perhiasan iman, dinikahkan dengan tujuh puluh dua orang bidadari dari surga, diselamatkan dari siksa kubur, mendapatkan keamanan dari ketakutan yang sangat besar (kegoncangan di padang mahsyar), dipakaikan baginya mahkota kerendahan hati yang sebutir mutiaranya lebih baik dari dunia seisinya, dan diperbolehkan baginya untuk memberikan syafaat bagi tujuhpuluh orang kerabatnya.” (HR. Sa’id bin Mansur dan Baihaqi dalam Su’ab al Iman–lihat pula Silsilah Hadits Shahihah No.3213).

Sumber Kekuatan Jiwa

Sementara yang masih hidup mempesona jutaan manusia di dunia dengan kekokohan jiwa mereka menghadapi nestapa di luar nalar manusia. Apa yang sebenarnya menegakkan jiwa-jiwa mereka? Tak lain adalah menjadikan Allah Ta’ala sebagai tujuan dan menjadikan Allah satu-satunya pelindung dari apa pun marabahaya di dunia.

Menjadikan-Nya sebagai satu-satunya tujuan dan tidak lagi bergantung kepada sesama hamba sungguh adalah kekuatan yang sangat dahsyat. Di tengah kepungan manusia dan mesin pembunuh serta hujan bom yang tidak pernah usai; mereka tidak pernah mempertanyakan mengapa saudara-saudara seiman mereka diam saja, mengapa para pejuang melakukan perlawanan sehingga mereka yang menjadi korbannya, dan mengapa Allah Ta’ala memberikan tugas yang sangat berat itu kepada mereka.

Kini, pemimpin mereka juga telah menjumpai syahid. Meski ini adalah pukulan berat, tetapi dunia telah mengetahui bahwa satu jiwa yang gugur akan menyiramkan pupuk keberanian dan membangkitkan semangat ribuan pejuang Palestina. Inilah yang membuat dunia terpesona dan memanggil jutaan orang untuk kembali pada fitrahnya. Kembali pada Islam.

Meski tak semua orang mendapatkan kehormatan untuk syahid di jalan jihad, tetapi setiap orang bisa mendapatkan sumber kekuatan jiwa ini. Syaratnya tentu menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dan Al-Wakil dalam kehidupan.

Bagaimana caranya, Al-Quran menjawabnya di surat Al-Ahzab ayat 1-3,
“Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan bertawakkallah kepada Allah. Dan, cukuplah Allah sebagai Pemelihara.”

Kekuatan jiwa datang dari ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Jangan mengikuti keinginan orang kafir dan munafik. Ikutilah apa yang Allah wahyukan di dalam Al-Quran karena sesungguhnya Allah Ta’ala Mahatahu apa yang kita lakukan dan apa yang kita butuhkan. Bertawakal saja hanya kepada-Nya dan Dialah satu-satunya Pemelihara kita dari berbagai marabahaya dan tipu daya.

Jadi inilah caranya. Ikutlah Allah saja dengan berbekal “peta” Al-Quran, maka Allah akan cukupkan apa yang kita butuhkan. Serahkan segalanya hanya kepada Allah saja. Luruskan hati kita untuk menuju hanya pada-Nya. Dengan izin-Nya, kita akan terpelihara dari berbagai bahaya dan tipu daya.*