Apakah Puasa Ramadhan Menghapuskan Dosa Besar?

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
BANYAK sekali hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkaitan dengan bulan Ramadhan. Menjelaskan bahwa salah satu ganjaran atau balasan dari ibadah-ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan adalah ampunan dari Allah Ta’ala atas dosa-dosa yang telah kita lakukan. Di antara hadits-hadits itu adalah:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ ، إِيمَانًا ، وَاحْتِسَابًا ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menghidupkan malam bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ، وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Abu Hurairah ra. meriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَانَ يَقُولُ : الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Antara sholat lima waktu, Jum’at ke Jumat, Ramadhan ke Ramadhan akan menghapuskan dosa-dosa antaranya jika dosa-dosa besar dijauhi.” (Riwayat Muslim).
Semua itu adalah karena Allah Ta’ala dengan rahmat dan kasih sayang-Nya ingin memberikan ampunan dan menerima taubat para hamba-Nya. Jadi ini adalah kehendak Allah yang ingin agar orang beriman memaksimalkan kesempatan yang diberikan-Nya dan tidak menyia-nyiakannya. Sehingga ia tidak termasuk orang-orang yang merugi. Allah Ta’ala berfirman:
وَاللَّـهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا
“Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (Surat AN-Nisa` [4]: 27).
Tentu kita akan menjadi orang yang sangat merugi, dimana kita sudah diberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan kembali, namun ketika bulan Ramadhan berlalu kita tidak mendapatkan ampunan dari Allah. Sebagaimana yang digambarkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa di antara doa Jibril yang diaminkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:
قَالَ لِي جِبْرِيلُ : أَرْغَمَ اللَّهُ أَنْفَ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ دَخَلَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، فَقُلْتُ : آمِينَ
Malaikat Jibril berkata kepadaku: “Semoga Allah mencelakakan hamba atau menjauhkannya, (yaitu) orang yang mendapatkan bulan Ramadan, tetapi dirinya tidak mendapatkan ampunan”. Maka aku (Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) katakan, “Amiinn”. (Riwayat Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Khuzaimah, ini lafadz Ibnu Khuzaimah).
Tetapi, sebagaimana yang disebutkan dalam salah satu hadits di atas bahwa dosa-dosa kita akan dihapuskan selama kita menjauhi dosa-dosa besar. Hal itu berarti bahwa jika kita pernah melakukan dosa-dosa besar, maka agar kita diampuni tidak cukup hanya dengan puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Tetapi harus dengan taubat yang sebenarnya kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Al-Furqan, dimana setelah menyebutkan dosa-dosa besar, Allah berfirman:
إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَـٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّـهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّـهُ غَفُورًا رَّحِيمًا ﴿٧٠﴾ وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّـهِ مَتَابًا ﴿٧١
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. (Surat al-Furqan [25]: 70-71).
Kita harus mengingat dosa-dosa besar yang dulu pernah kita lakukan. Lalu kita menyesali semua dosa itu dan berjanji dan bertekad tidak akan pernah lagi melakukan dosa-dosa tersebut. Dan jika ada hak manusia yang kita ambil secara batil, maka kita harus mengembalikannya kepada yang memilikinya.
Di antara hal yang menghalangi kita untuk bertaubat dari dosa besar adalah anggapan kita bahwa kita tidak pernah berbuat dosa besar. Kita mengira bahwa dosa-dosa besar itu hanyalah syirik, membunuh, berzina, minum khamar, mencuri, sihir, makan harta anak yatim, lari dari medan perang. Kita tidak menyangka bahwa ada perbuatan yang mungkin setiap hari kita lakukan termasuk dosa besar, seperti dosa durhaka terhadap kedua orang tua. Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditegaskan:
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا ؟ قَالُوا : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ ، وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا ، فَقَالَ : أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ ، قَالَ : فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ
“Maukah aku beritahukan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?” Beliau mengulangi tiga kali. Lalu mereka berkata: “Iya wahai Rasululah.” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua. Beliau lalu duduk yang tadinya bersandar seraya mengatakan: “Ketahuilah! dan persaksian palsu.” Abu Bakrah berkata: “Rasulullah SAW. terus mengulangi sehingga kami mengatakan: ‘seandainya beliau berhenti.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Para ulama mengatakan bahwa durhaka kepada orang tua itu adalah ketika seorang anak menyakiti salah satu orang tuanya dengan melakukan perbuatan yang jika dilakukan kepada orang lain, maka ia termasuk dosa-dosa kecil. Tetapi jika dilakukan terhadap orang tua menjadi dosa besar.
Banyak di antara kita yang durhaka kepada orang tuanya, tetapi tidak merasa bahwa ia telah berbuat durhaka. Sering kali kita menyakiti hati orang tua kita, dan kita tidak merasa bahwa kita telah berbuat durhaka.
Maka agar kita betul-betul mendapatkan ampunan di bulan Ramadhan ini dari segala dosa kita, baik dosa kecil maupun dosa besar maka kita harus betul-betul menjalankan ibadah puasa dan segala amal ibadah lainnya dengan penuh keimanan kepada Allah Ta’ala dan janji-janji-Nya serta keikhalasan hanya beribadah untuk dan karena Allah Ta’ala. Serta bertaubat dengan taubat yang sebenar-benar dari dosa-dosa besar yang pernah kita lakukan. Wallahu a’lam bish shawab.*