Dunia Tidak Layak Dikejar

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)
Dunia ini ibarat panggung sandiwara. Segalanya tampak indah karena hiasan-hiasannya. Rumah-rumah megah, kendaraan mewah, perhiasan berkilau, deretan gelar, dan angka pengikut di layar-layar kecil yang kita genggam. Semua memukau, membuat manusia berlomba-lomba menambah, mengungguli, dan membanggakan. Namun, semua hanyalah fatamorgana. Rasa puasnya singkat, rasa bangganya rapuh, rasa senangnya fana. Ujungnya hanyalah lelah, sebab bosan dan rasa tersaingi cepat menggerogoti hati.
Betapa singkat dunia ini. Terlalu kecil untuk diperjuangkan mati-matian. Cukuplah ia sekadar bekal agar kita mampu menegakkan diri dalam ibadah. Selebihnya, serahkanlah kepada Sang Pemilik Hidup, karena hanya Dia yang menjamin kecukupan.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, meriwayatkan firman Allah:
“Wahai anak Adam, persembahkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi dadamu dengan kekayaan dan menutup kemiskinanmu. Jika tidak, Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan, dan tidak akan menutup kemiskinanmu.” (HR. At-Tirmidzi)
Dunia yang kita kejar dengan kerja keras tak henti, pada akhirnya tetap akan meninggalkan kita. Anak yang kita besarkan dengan sepenuh kasih, bisa jadi tak selalu menemani di masa tua. Segala yang kita genggam akan luruh di hadapan ajal. Sungguh, dunia bukanlah milik abadi, melainkan sekadar titipan yang pasti pergi.
Jalan Menuju Kesuksesan Sejati
“Barang siapa menghendaki keuntungan akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya. Dan barang siapa menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya, tetapi ia tidak mendapat bagian di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20)
Maka, kesuksesan sejati bukanlah harta yang menumpuk, bukan pula ilmu yang tak henti digenggam. Kesuksesan itu ada pada iman yang teguh, takwa yang dalam, ibadah yang ikhlas, dan manfaat yang nyata bagi semesta.
“Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An‘am: 162)
Inilah jalan para hamba yang bahagia. Mereka tenang dengan masa lalunya, bahagia di hari ini, dan tidak gentar menatap hari kematiannya. Sebab hidup mereka seluruhnya hanyalah untuk Allah, bersama Allah, karena Allah.
Sebagaimana Khalid bin Walid berkata: “Barangsiapa berperang karena banyaknya tentara, maka ia sedikit. Namun bila kita sedikit tapi bersama Allah, dibersamai Allah, dan karena Allah; maka kita menang.”
Bekal yang Ditinggalkan
Ada seorang sahabat yang wafat belum lama ini. Anak-anaknya memberinya rumah megah seharga tujuh miliar. Namun ia memilih mewakafkannya untuk jalan dakwah. Ia tetap tinggal di rumah sederhana, dan di sanalah ia menutup mata. Bahkan untuk kuburnya pun ia meminta agar dibuat rata, tanpa tabur bunga, tanpa hiasan dunia.
Kisah itu adalah cermin. Kematian selalu menjadi nasihat paling ampuh. Bahwa setiap hidup pasti akan mati. Dan yang terbawa hanyalah jejak iman, takwa, ibadah, dan manfaat. Harta dan ilmu hanya bernilai bila berubah menjadi manfaat: ilmu yang diamalkan, harta yang disedekahkan.
Hidup adalah perjalanan menuju perjumpaan dengan Allah. Sukses sejati bukanlah panjangnya daftar kepemilikan, melainkan husnul khatimah dalam ridha-Nya.
Maka, jangan sibuk menambah yang fana. Tambahlah imanmu, dalamkan takwamu, perbanyak ibadahmu, perluas manfaatmu. Karena hanya itulah bekal abadi, yang akan menyinari kubur dan mengantarkanmu pada kemenangan hakiki.*
