Cinta yang Tak Salah Alamat

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
BANYAK manusia merasa telah mencintai Allah hanya berbekal getaran batin dan romansa perasaan. Tatkala bermunajat, air mata menetes. Hati bergetar. Lalu seketika muncul keyakinan bahwa cinta kepada Allah telah utuh bersemayam di dalam dada.
Namun, benarkah cinta kepada Sang Pencipta hanya sebatas suasana hati yang mudah datang dan pergi?
Cinta sejati semestinya melahirkan tindakan nyata. Dalam Islam, cinta bukan sekadar klaim di lisan, tetapi harus diwujudkan dalam amal. Inilah yang dapat disebut sebagai tahqiqul mahabbah, membuktikan cinta melalui perbuatan.
Allah memberikan ukuran yang sangat jelas dalam Alquran: “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu’.” (QS Ali Imran: 31).
Ayat ini tidak semata-mata mengajarkan kita untuk memperbesar rasa cinta di dalam hati. Lebih dari itu, Allah memberikan jalan untuk membuktikannya: mengikuti Rasulullah SAW.
Cinta kepada Allah harus menemukan bentuknya dalam ittiba’, yaitu mengikuti jejak, tuntunan, dan sunnah Rasulullah SAW. Ketika ketaatan itu diwujudkan, balasannya sungguh luar biasa. Cinta yang kita persembahkan kepada Allah dibalas dengan cinta-Nya, disertai ampunan atas dosa-dosa kita.
Di sinilah sunnah Rasulullah SAW memiliki kedudukan penting. Ia bukan sekadar pelengkap dalam kehidupan seorang Muslim, tetapi menjadi petunjuk agar kecintaan kepada Allah diwujudkan dalam bentuk ibadah yang benar.
Sebab, tidak sedikit orang yang memiliki niat baik untuk mendekat kepada Allah, tetapi cara yang ditempuh tidak sesuai dengan tuntunan. Niatnya lillahi ta’ala, tetapi bentuk ibadahnya justru mengikuti tradisi, hawa nafsu, atau selera pribadi.
Ibadah tanpa tuntunan sunnah ibarat seseorang yang mendorong mobil mogok dengan sekuat tenaga, tetapi ke arah yang salah. Semakin keras ia mendorong, semakin jauh ia dari tujuan. Tenaga terkuras, tubuh kelelahan, tetapi kendaraan tidak kunjung sampai ke tempat yang semestinya.
Karena itu, dalam perkara ibadah mahdhah, seorang Muslim tidak cukup hanya bermodal niat baik. Ada tuntunan yang harus diikuti. Ibadah bersifat tauqifi, yakni bentuk dan tata caranya memiliki landasan syariat yang tidak ditentukan berdasarkan perkiraan atau selera manusia.
Dalam urusan dunia, Islam memberi ruang luas bagi manusia untuk berkreasi dan berinovasi. Tetapi dalam urusan ibadah mahdhah, ukuran kebenarannya bukan seberapa kreatif manusia membuat bentuk ibadah, melainkan seberapa sesuai ia dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Maka, jangan memandang syariat dan sunnah sebagai beban yang membatasi kehidupan. Justru di dalamnya terdapat rahmat Allah. Tuntunan Nabi Muhammad SAW membantu kita menjaga langkah agar niat yang baik tidak berakhir dengan cara yang keliru.
Sebab, mencintai Allah bukan hanya tentang seberapa dalam hati kita bergetar ketika menyebut nama-Nya. Cinta itu harus terlihat dalam ketaatan, tercermin dalam akhlak, dan dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah SAW.
Jangan sampai kita merasa sedang berjalan menuju Allah, tetapi tanpa sadar mengambil jalan yang menjauh dari-Nya.
Cinta yang benar bukan hanya cinta yang terasa di hati. Cinta yang benar adalah cinta yang tahu jalan untuk sampai kepada-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.*
