Tadabbur

Seperti Air, Menjadi Sumber Kehidupan

 

Oleh: 

KH Bachtiar Nasir 

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiyaa: 30).

Kita hidup di era digital yang serba cepat, ketika kecerdasan buatan dan blockchain memaksa manusia berlari mengejar perubahan. Segala sesuatu bisa dijangkau dalam sekejap, dilakukan tanpa harus bertatap muka, tanpa ruang yang kompleks. Namun, justru karena itulah kita sering kehilangan kejernihan membaca persoalan. Kita lebih sibuk dengan deviasi, hingga keputusan dan tindakan yang diambil jauh dari esensi yang sebenarnya dibutuhkan.

Kini, di tengah bias nilai, pudar norma, dan resonansi kebenaran yang semakin kabur, kita mesti jujur mengakui: hidayah saja tidak cukup. Kita membutuhkan taufiq dari Allah Azza wa Jalla, keselarasan antara kehendak kita dengan kehendak-Nya. Bahkan lebih dari itu, kita butuh irsyad, panduan langsung dari-Nya, agar jalan yang kita tapaki benar-benar berada di bawah ketentuan-Nya, dalam naungan ridha-Nya, hingga mengantarkan kita selamat dalam perjumpaan dengan-Nya.

Sungguh, mengambil keputusan yang bebas dari nafsu dan syahwat bukanlah perkara mudah. Tetapi keputusan yang dilumuri nafsu justru lebih berbahaya, ia menipu diri, menyesatkan orang lain, dan menjauhkan kita dari Allah. Alangkah ruginya bila amal yang kita upayakan dengan segenap tenaga ternyata hanyalah kosong, ditunggangi riya, dibakar ego, hingga di Hari Perhitungan tak tersisa apa pun selain murka-Nya.

Sering kali, dalam mengambil keputusan, saya hanya bisa meminta cahaya. Matahari pagi memang terang, mudah ditangkap oleh mata. Tetapi bagi saya, cahaya malam kerap lebih jernih. Di kesunyian itu, Allah menurunkan kasih sayang-Nya. Irsyad yang hanya bisa ditangkap oleh ainul bashirah, mata hati yang melihat dengan cahaya dari panduan-Nya.

Dan ketika merenungi kondisi umat hari ini, melihat para pemimpin negeri-negeri Muslim yang sering tergelincir, serta rekayasa global yang melemahkan kompetensi umat, saya kembali pada ayat yang agung bahwa segala sesuatu yang hidup berasal dari air.

Mengapa air? Karena ia menyuburkan yang mati, menghidupkan yang gersang. Air menumbuhkan tunas di tanah tandus, mengubah gurun menjadi taman. Air menyimpan jejak sejarah di kedalaman samudera, sekaligus mengantarkan manusia menuju peradaban baru. Kehilangan air berarti kehilangan kehidupan itu sendiri.

“Dialah yang menurunkan air hujan dari langit untukmu; sebagiannya menjadi minuman, dan sebagiannya menyuburkan tumbuh-tumbuhan, tempat kamu menggembalakan ternakmu. Dengan air itu, Dia menumbuhkan untukmu tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. An-Nahl: 10-11).

Belajar dari Air

Saya selalu bertanya pada diri sendiri: bagaimana caranya kita bisa menjadi seperti air? Menjadi sumber kehidupan bagi semesta. Bukankah setiap diri diberi potensi yang unik? Maka seharusnya setiap kita hadir dengan performa terbaik, laksana air yang memberi manfaat di mana pun ia mengalir.

Air juga menciptakan arus. Demikian pula kita: mestilah menjadi pembuat arus perubahan menuju kebaikan. Bukan sekadar mengikut, tetapi menjadi pemimpin, pionir, dan penggerak. Arus yang membawa manfaat bagi umat.

Air juga memiliki sifat lain,  ia selalu relevan dengan wadah apa pun yang menampungnya. Maka kita pun harus luwes, relevan dengan keadaan, agar amal kita tepat guna. Relevansi ini menjadikan kita bukan sekadar pemberi harapan, melainkan penebar manfaat nyata, ibarat embun yang menyejukkan spiritualitas umat yang gersang, atau sungai yang menyalurkan daya bagi peradaban.

Kita lahir dari umat, tumbuh di tengah umat, dan akhirnya harus kembali bekerja untuk umat. Asal kita tidak berubah, esensi kita tetap sama. Meski dunia dicekik oleh teknologi dan digitalisasi, kita tetap berasal dari air, sumber sejati kehidupan. Yang transenden dalam diri kita, Allah, Rasul-Nya, dan Al-Qur’an, tak akan pernah berganti. Yang boleh berubah hanyalah kompetensi. Karena tanpa Allah, kita bukan siapa-siapa, dengan-Nya, barulah kita berarti.

Sebagaimana pesan Khalid bin Walid kepada Abu Ubaidah: “Bila ukuran kemenangan ada pada jumlah pasukan, tentu pasukan Romawi lebih banyak dari kita. Tetapi bila pasukan kita karena Allah, bersama Allah, dan dibersamai Allah; insyaAllah kita-lah pemenangnya, dengan taufiq dan irsyad-Nya.”

Maka, jadilah seperti air, memberi kehidupan, mengalirkan manfaat, membentuk arus perubahan, dan selalu relevan dengan zamannya, namun tetap setia pada asalnya.*