Jalan Menenangkan Jiwa

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
HIDUP di dunia tidak selalu berjalan sebagaimana yang kita rencanakan. Ada harapan yang belum terwujud, rencana yang harus tertunda, bahkan keinginan yang berakhir pada kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Dalam keadaan seperti itu, hati mudah diliputi kecewa, sedih, dan gelisah.
Padahal, seorang mukmin memiliki pegangan yang membuatnya tidak mudah kehilangan arah. Pegangan itu adalah keyakinan kepada Allah SWT dan keridaan menjadikan-Nya sebagai Rabb, Dzat Yang Maha Mengatur, Memelihara, dan Menentukan perjalanan kehidupan.
Radhitu billahi rabba—aku rida Allah sebagai Tuhanku—bukan sekadar kalimat yang diucapkan. Keridaan kepada Allah semestinya hadir dalam cara seorang hamba menerima ketetapan-Nya, menaati hukum-Nya, dan menyikapi segala pemberian-Nya.
Ada tiga wilayah Rububiyah yang penting untuk dihayati dalam kehidupan.
Pertama, rida terhadap tadbir-Nya.
Manusia boleh menyusun rencana, menentukan tujuan, dan mengerahkan seluruh kemampuan untuk meraihnya. Namun, ketika hasil akhirnya berbeda dari yang diharapkan, seorang mukmin hendaknya menyadari bahwa ada ketetapan Allah yang bekerja di balik setiap peristiwa.
Apa yang kita inginkan belum tentu menjadi sesuatu yang terbaik bagi kita. Begitu pula sesuatu yang tidak kita sukai boleh jadi menyimpan kebaikan yang belum mampu kita pahami.
Rida terhadap ketetapan Allah bukan berarti berhenti berikhtiar. Rida adalah sikap hati setelah segala upaya dilakukan. Seorang hamba menerima keputusan Allah dengan lapang dada, sembari tetap percaya bahwa Allah SWT tidak pernah keliru dalam menetapkan sesuatu.
Kedua, rida terhadap hukum-Nya.
Keridaan kepada Allah juga tercermin dalam kesediaan untuk tunduk kepada aturan-Nya. Tidak semua perintah dan larangan agama selalu sejalan dengan keinginan manusia. Ada kalanya syariat terasa berat karena bertentangan dengan hawa nafsu, kebiasaan, kepentingan, atau tekanan lingkungan.
Di situlah keimanan menemukan ujiannya.
Seorang yang rida kepada Allah tidak menjadikan selera manusia sebagai ukuran utama kebenaran. Ia berusaha menjadikan petunjuk Allah sebagai pedoman, meskipun untuk menjalankannya diperlukan kesabaran dan perjuangan.
Sebab, iman bukan hanya tentang mengakui Allah sebagai Tuhan, tetapi juga tentang kesediaan menundukkan diri kepada petunjuk-Nya.
Ketiga, rida terhadap pemberian-Nya.
Kegelisahan juga sering muncul ketika manusia terlalu gemar membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain. Melihat orang lain memperoleh lebih banyak, memiliki kehidupan yang tampak lebih mudah, atau mendapatkan sesuatu yang belum dimilikinya, hati dapat dipenuhi rasa tidak puas.
Jika dibiarkan, perasaan tersebut dapat berkembang menjadi iri dan dengki.
Padahal, setiap manusia memiliki takaran rezeki masing-masing. Allah memberikan karunia dengan hikmah yang terkadang tidak langsung dapat dipahami oleh manusia. Karena itu, rida terhadap pemberian Allah melahirkan sikap qanaah, yakni merasa cukup dan bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan, tanpa berhenti berikhtiar untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Qanaah bukan berarti tidak memiliki cita-cita. Qanaah berarti tidak membiarkan keinginan menguasai hati hingga membuat seseorang lupa mensyukuri nikmat yang telah dimiliki.
Ketika tiga sikap tersebut tumbuh dalam diri, hati akan memiliki ketahanan menghadapi berbagai keadaan. Ia tidak mudah runtuh ketika kehilangan dan tidak mudah terlena ketika mendapatkan. Sebab, sandarannya bukan semata-mata keadaan, melainkan Allah SWT.
Kebahagiaan sejati bukanlah ketika seluruh keinginan terpenuhi. Kebahagiaan sejati adalah ketika hati tetap tenang dalam berbagai keadaan karena yakin bahwa Allah selalu memiliki hikmah dalam setiap ketetapan.
Maka, mari menghadirkan Radhitu billahi rabba bukan hanya dalam ucapan, tetapi juga dalam kehidupan. Rida terhadap ketetapan-Nya, tunduk kepada hukum-Nya, dan bersyukur atas pemberian-Nya.
Sebab, hati yang telah belajar rida kepada Allah tidak mudah dikalahkan oleh keadaan. Ia boleh menangis ketika kehilangan, boleh bersedih ketika diuji, tetapi tidak akan kehilangan harapan. Di dalam hatinya tetap ada keyakinan bahwa Allah SWT adalah sebaik-baik Pengatur kehidupan.*
