Sya’ban Melatih Rindu pada Al-Qur’an

Oleh KH Bachtiar Nasir
Sya’ban, waktunya kita melatih kerinduan kepada Al-Qur’anul Karim.
Rindu di sini konotasinya adalah kecanduan kepada Al-Qur’an. Tidak ada charger terbaik dalam hidup, kecuali Al-Qur’an, karena itulah satu-satunya sumber spirit hidup kita. Al-Qur’an puncaknya pada asma-asma Allah. Allahummarhamna bil Qur’an.
Karakteristik utama antara Bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya adalah Al-Qur’an, karena di bulan itulah Al-Qur’an diturunkan. Firman-firman yang suci bukan saja diturunkan oleh Zat Yang Suci, tetapi dibawa oleh malaikat terpilih, Jibril. Bagi yang membacakan pun harus orang-orang yang sudah mensucikan diri.
Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ
Artinya: Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (wafat 795 H) menjelaskan bahwa, para ulama salafussaleh memanfaatkan Bulan Sya’ban untuk memperbanyak tilawah Al-Qur’an.
Salamah bin Kuhail berkata: Dahulu salafussaleh menjadikan Bulan Sya’ban sebagai bulannya para pembaca Al-Qur’an. Ramadhan adalah bulannya para quro, orang yang ilmunya memiliki otoritatif untuk mengatakan isi Qur’an benar atau palsu.
‘Amr bin Qais, apabila telah masuk bulan Sya’ban, ia menutup tokonya dan mengkhususkan dirinya untuk membaca Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah ruh
Nama lain Al-Qur’an adalah ruh. Fungsi ruh adalah tempat bergantungnya kehidupan. Jika badan kita tanpa ruh, seperti bangkai berjalan saja.
Jika kalbu kita tidak diisi dengan bacaan Al-Qur’an, setanlah yang akan mengisinya. Akan membutuhkan waktu lama untuk kembali kepada Al-Qur’an, kecuali jika kita cepat tersadar.
Sekejap saja kita beralih dari Al-Qur’an, langsung hati kita akan diambil alih kendalinya oleh setan.
Tanpa ruh Al-Qur’an, seseorang akan menjadi lemah dan mati hatinya.
Lihat Surat Asy-Syura Ayat 52:
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِى مَا ٱلْكِتَٰبُ وَلَا ٱلْإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلْنَٰهُ نُورًا نَّهْدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Artinya: Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Mari jadikan Sya’ban sebagai momen mengambil alih hati kita sendiri dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai ruh.
Ada kisah di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Suatu hari anak perempuannya sedih. Lalu ditanya oleh ayahnya penyebab kesedihannya. “Sebentar lagi hari raya dan aku tidak punya baju baru.”
Padahal dia anak seorang Khalifah, pemimpin negara dan saat itu Baitul Mal makmur, dan tidak ada orang miskin.
Umar bin Abdul Aziz ingin meminjam uang lewat bendahara negara agar dapat membelikan baju baru untuk anak perempuannya itu. Tetapi jawaban bendahara sungguh menyentak hati amirul mukminin. “Wahai Amirul Mukminin, Anda ingin meminjam dari kas negara? Apakah Anda yakin, umur Anda masih hidup sampai bulan depan sehingga Anda berani berhutang?”
Umar bin Abdul Aziz adalah ayah yang bijaksana. Dia berkata kepada anaknya, “Mana yang kamu pilih, kamu memakai baju baru di hari raya, tetapi ayah masuk neraka atau kamu masuk surga meskipun memakai baju yang tidak baru?”
Sang anak berkata, “Aku memilih masuk surga bersamamu, Ayah. Aku tidak apa-apa memakai baju lama di hari raya.”
Inilah anak-anak yang sejak kecil sudah diisi ruhnya dengan Al-Qur’an. Dia akan punya pertimbangan lain yang tidak sekadar terpaku pada apa pendapat orang.
Kembali kepada Bulan Sya’ban sebagai bulan melatih rindu pada Al-Qur’an.
Maka barangsiapa yang ingin Ramadhannya hidup, mulailah sejak Sya’ban berinteraksi dengan Al-Qur’an, dan menjadikan Sya’ban sebagai bulan Qur’an-nya.
Al-Qur’an bukan sebagai bacaan saja, tetapi karena menyakini bahwa Allah-lah yang menjadikan Qur’an sebagai ruh kehidupan.
Tanpa Al-Qur’an, orangnya hidup tetapi hatinya mati. Karena itulah banyak orang yang merasa di keramaiannya hati hidupnya sepi, karena ruhnya tidak dikasih asupan.
Banyak orang yang pulang ke rumah, tetapi hakikatnya hanya jasadnya saja yang pulang sementara dia tidak menikmati istirahat. Itu karena hatinya kosong, ruhnya tanpa Al-Qur’an.