Bashirah, Cahaya Hati yang Menuntun Ketaatan

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Ingatlah hamba-hamba Kami Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub yang mempunyai kekuatan dalam taat kepada Allah dan penglihatan mata hati yang jernih.” (QS. Shaad ayat 45)
Di usia yang semakin menua, sering kali hati kita bertanya. Mengapa di waktu yang kian dekat dengan ajal, justru terasa berat untuk menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla dan menjauhi larangan-Nya. Bahkan, kewajiban pun sering tertunda dengan banyak alasan, apalagi amalan sunah. Kondisi ini kemungkinan besar disebabkan masih adanya syubhat yang melekat pada hati dan perilaku hidup kita.
Syubhat itu beraneka ragam, bisa pada pemikiran kebiasaan makanan hingga ibadah. Ia adalah perkara yang samar hukumnya yang sering muncul dalam kebutuhan sehari-hari. Untuk menghadapinya, dibutuhkan kejernihan hati keluasan ilmu serta ketaatan yang kokoh.
Seorang mukmin yang mendapat cahaya hati dari Allah Azza wa Jalla akan memiliki bashirah, yaitu mata hati yang terang yang membuatnya mampu mendeteksi dan meninggalkan perkara syubhat. Orang yang memiliki bashirah meyakini sepenuhnya bahwa perintah dan larangan Allah Azza wa Jalla selalu baik baginya meski mungkin merugikan kepentingan dunia. Karena itu, para rasul Allah seperti Ibrahim Ishaq dan Ya‘qub menjadi teladan hamba yang kokoh dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dalam kondisi apa pun.
Keluasan Ilmu dan Hikmah
Dalam tafsir Ibnu Abbas ayat 45 surat Shaad menjelaskan bahwa Ulil Aydi adalah orang-orang yang kuat dalam beramal saleh. Sedangkan Ulil Abshar adalah orang-orang yang kokoh dalam pemahaman agama.
Komitmen dan konsistensi beribadah sangat dipengaruhi oleh kemampuan hati dan akal dalam membedakan yang benar dan yang salah, yang halal dan yang haram, yang baik dan yang buruk. Kemampuan ini hanya bisa lahir dari cahaya Al-Qur’an dan sunnah, serta hidayah yang Allah Azza wa Jalla turunkan ke dalam hati seorang hamba.
Rasulullah ﷺ bersabda Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya Allah akan memahamkannya dalam agama (HR Bukhari dan Muslim). Tanpa bashirah yang lahir dari komitmen dan pemahaman agama manusia akan mudah terseret dalam syubhat dan syahwat.
Janji dan Ancaman Allah
Bashirah tertinggi adalah hati yang tercerahkan ketika menyikapi janji dan ancaman Allah Azza wa Jalla. Hati yang lapang meyakini bahwa janji Allah Azza wa Jalla pasti benar dan tidak pernah berubah. Allah Azza wa Jalla akan membalas setiap amal baik maupun buruk di dunia sebagai darul amal dan di akhirat sebagai darul jaza.
“Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik surga.” (QS An-Najm ayat 31)
Setiap balasan amal tidak hanya ditentukan oleh perbuatan hamba, tetapi juga merupakan bagian dari uluhiyah dan rububiyah Allah Azza wa Jalla dari keadilan dan hikmah-Nya.
Orang yang diberi bashirah tidak pernah berkonflik dengan keputusan Allah Azza wa Jalla. Hatinya ringan menerima takdir, karena ia yakin balasan Allah Azza wa Jalla adalah yang terbaik baginya. Walaupun hatinya sempat bertanya tetaplah keputusan Allah dan Rasul-Nya yang ia ikuti.
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah dan jika ada kebajikan sebesar zarrah niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (QS An-Nisaa ayat 40)
Jalan Mendapatkan Bashirah
Bagaimana cara agar Allah Azza wa Jalla menganugerahkan bashirah ke dalam hati kita. Sesungguhnya bashirah adalah karunia yang Allah Azza wa Jalla berikan hanya kepada hamba-hamba pilihan yaitu mereka yang dekat dengan-Nya mengenal-Nya percaya bersandar serta menjalin hubungan baik dengan-Nya.
Apa pun masalah yang kita hadapi di dunia ini termasuk persoalan dengan sesama manusia perbaikilah dulu hubungan kita dengan Allah Azza wa Jalla maka Dia akan memberikan kesudahan terbaik.
Mulailah dengan shalat dan tilawah. Shalat adalah saat perjumpaan kita dengan Allah Azza wa Jalla di dunia sedangkan tilawah adalah waktu bercengkerama dengan firman-Nya memahami perintah-Nya dan meneguhkan komitmen untuk menjadi lebih baik sesuai tuntunan-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda Barang siapa yang beramal untuk akhiratnya Allah akan mencukupkan urusan dunianya. Barang siapa yang memperbaiki urusan pribadinya dengan Allah Allah akan memperbaiki apa yang tampak darinya. Barang siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.
Dengan demikian, bashirah bukan sekadar kecerdasan akal melainkan cahaya hati yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Ia akan menjaga kita dari syubhat menuntun dalam ibadah menguatkan dalam menghadapi ujian dan meneguhkan keyakinan pada janji serta ancaman Allah Azza wa Jalla.*