Berdakwah, Jalan Hidup Bergengsi

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
DAKWAH adalah mengajak manusia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maksudnya kepada Allah seperti apa? Lewat mana? Ya, mengajak ke agama Allah. Agama Allah itu yang mana? Agama Allah itu adalah Islam.
Islam kita itu adalah Islam yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Apakah perlu mukmin didakwahi terus menerus? Perlu. Munafik bagaimana? Perlu sekali. Kafir juga sangat perlu kita dakwahi.
Dakwah itu bisa bentuk verbal (lisan dan tulisan). Bisa juga dakwah bil hal. Setiap muslim bisa berdakwah di mana saja dan kapan saja. Intinya, apa saja bisa kita lakukan agar kita bisa mengajak manusia kepada Allah Ta’ala. Inilah jalan hidup para Nabi dan Rasul. Berawal dari dakwah kemudian membangun peradaban mulia.
Walaupun jadi politisi dan penguasa itu kelihatan hebat, tetapi sejatinya bukan mereka yang membangun peradaban. Walaupun menjadi ekonom dan orang kaya itu keren, tetapi itu tidak ada nilainya jika tidak ada upaya mengajak manusia kepada Allah Ta’ala.
Peradaban mulia dibangun oleh mereka yang menapaki jejak para Nabi dan Rasul. Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Sirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn. Aamiin.
Amat rugi jika kita tidak mengambil hidup bervisi dakwah. Anda akan keluar dari jalan kehidupan para Nabi, para Rasul, para shiddiqin, para syuhada, dan para shaleh.
Perlu diingat, berdakwah itu tidak mesti ceramah. Kita bisa melakukan dakwah dengan cara mendukung pejuang-pejuang dakwah yang bergerak di jalan Allah, mendukung lembaga-lembaga yang sungguh-sungguh berjuang di jalan Allah, mendukung kegiatan yang mengajak manusia kepada Allah Ta’ala.
Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Ali Imran ayat 52.
فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ ٱلْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِىٓ إِلَى ٱللَّهِ ۖ قَالَ ٱلْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.”
Kekufuran pada masa Nabi Isa merajalela. Ketika Nabi Isa mengajak kaumnya kepada Allah, tetapi Nabi Isa malah hendak diserang dan dibunuh. Isa berkata, man ansari Illallah? Lalu dijawab oleh para hawariyyin seraya berkomitmen menjadi bagian penolong agama Allah.
Para Nabi dan Rasul itu tidak takut dibunuh. Dan dia sudah mendapat jaminan surga dari Allah Ta’ala. Mereka yang berjuang di jalan Allah sudah jelas jalan hidupnya. Kalau hidup adalah memilih cara mati, tidak ada cara mati kecuali di jalan dakwah. Dengan keyakinan ini kita bisa menjadi konsisten. Wa la tamutunna illa wa antum muslimun.
Tidak ada cara hidup yang membuat kita mati dalam keadaan berserah diri kecuali kita konsisten di atas jalan dakwah. Mengajak manusia kepada Allah. Serta bergabung mendukung, bergerak bersama orang-orang yang Berjuang di jalan Allah. Dan mendukung perjuangan mereka menegakkan agama Allah.
Mari kita ikuti jejak hawariyyin, orang-orang setianya Isa Al Masih. Ikuti jejak para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbaiat di Baitul Ridwan. Sahabat Nabi dari kalangan Muhajirin dan Anshar itu adalah orang-orang hebat dunia, orang elit dunia. Mereka orang hebat cara berfikirnya. Hidup mereka idak mudah terprovokasi, tidak mudah terombang ambing. Mari kita tanamkan, bahwa tidak ada jalan hidup yang bergengsi kecuali berdakwah. Wallahu ‘alam bish shawab.