Tadzkirah

Membersihkan Hati, syarat mendapatkan Ampunan Allah

Oleh KH Bachtiar Nasir

Pembersihan jiwa, lebih khusus untuk mendapatkan pengampunan di bulan Sya’ban adalah hal penting sebelum memasuki Ramadhan.

Nabi berkata, ampunan Allah yang dijanjikan Allah di Bulan Sya’ban, tidak diberikan tanpa syarat.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ فِيي اللَّيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ “

Dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah memperhatikan hamba-Nya (dengan penuh rahmat) pada malam nisfu Sya’ban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyahin (orang munafik yang menebar kebencian antara sesama umat Islam) (HR Thabrani fi Al Kabir no 16639, Daraquthni fi Al Nuzul 68, Ibnu Majah no 1380, Ibnu Hibban no 5757, Ibnu Abi Syaibah no 150)

Syarat mendapatkan ampunan

Lantas apa syaratnya demi mendapat ampunan Allah di Bulan Sya’ban? Tidak berlaku bagi orang-orang yang syirik atau musyrik atau orang-orang yang menyimpan permusuhan. Mereka tidak mendapatkan ampunan.

Jadi ampunan memiliki syarat, yaitu hati bersih dari kemusyrikan dan hanya bergantung dan menghamba kepada Allah. Syirik adalah dosa besar dan aib yang buruk.

Selain itu, hati kita juga mesti bebas dari dengki dan permusuhan dengan sesama.

Allah tidak akan menerima amal kita selama masih ada kesyirikan, baik amalan wajib atau sunah.

Lihat Surah Al-Maidah ayat 72:

اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوٰىهُ النَّارُۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَا.

Artinya: Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.

Kita harus membersihkan hati dari kemusyrikan, sebab itu hanya akan mendorong hamba ke neraka.

Kita juga diperintahkan membersihkan hati dari kedengkian dan permusuhan.

Dendam adalah sifat kotor yang memberatkan hati. Seseorang yang dendam tak bisa tenang kalau belum terlampiaskan nafsunya untuk menghilangkan hal yang membuatnya iri terhadap orang lain.

Dunia ini ringan bagi orang yang bersih hatinya, dan terasa berat bagi yang kotor hatinya.

Seruan agar orang-orang beriman membuat kekuatan semacam barisan, dengan menjauhi permusuhan.

Lihat Surah Al-Hijr ayat 71 tentang penghuni surga yang bersih hatinya dari dendam:

وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ اِخْوَانًا عَلٰى سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِيْنَ ۝٤٧

Artinya: Kami mencabut segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka. Mereka bersaudara (dan) duduk berhadap-hadapan di atas dipan.

Untuk itu senantiasalah berdoa,

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا

Allahumma Asti nafsu taqwaha, wa zakkihaa, anta waliyyuha wa maulaha.

Artinya: Allah, datangkanlah pada jiwaku ini ketakwaan dan bersihkanlah ia. Engkaulah sebaik-baik yang dapat membersihkannya, Engkaulah Pelindungnya dan Rabbnya. 

Ampunan engan singgah pada hati yang memiliki dendam, karena dendam melelahkan jiwa, mengeruhkan pikiran dan merampas ketenangan. Hidupnya tak tenang kalau belum menyakiti. Padahal memaafkan adalah ketenangan bagi hati.

Lepaskan itu sebelum Ramadhan tiba. Buang permusuhan dengan cinta, kasih sayang, perhatian, dan empati.

Ibadah yang tidak menumbuhkan akhlak hanyalah gerak tubuh yang tidak ada artinya.

Exit mobile version