Tadzkirah

Menjaga Lisan, Menyelamatkan Iman dan Kehormatan

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

BANYAK orang besar yang hancur bukan karena kelemahan fisik atau kekurangan harta, melainkan karena tidak mampu menjaga lisannya. Sejarah mencatat, tidak sedikit pejabat tinggi, pemimpin, bahkan orang berilmu yang reputasinya rusak karena ucapan yang tidak terkendali.

Kata-kata kasar, hinaan, fitnah, atau janji palsu sering kali menjadi bumerang. Seseorang yang telah berjuang membangun nama baik bertahun-tahun, bisa kehilangan kehormatannya hanya karena satu kalimat yang keluar tanpa pertimbangan.

Berapa banyak pejabat yang kehilangan jabatan karena pernyataan kontroversial? Berapa banyak tokoh yang dicabut kepercayaannya karena lidahnya sendiri? Bahkan di media sosial, sering kali seseorang tersandung masalah hukum hanya karena status atau komentar yang tidak pantas.

Ucapan yang salah bukan hanya merusak diri sendiri, tetapi juga bisa menciptakan kegaduhan, memecah belah persatuan, dan menimbulkan permusuhan.

 

Anugerah Allah

Lisan adalah salah satu anugerah Allah yang sangat besar bagi manusia. Dengannya manusia bisa berkomunikasi, menyampaikan ilmu, menebar salam, bahkan berdakwah di jalan Allah. Namun, lisan juga bisa menjadi sebab kehancuran bila tidak dijaga. Lidah yang terpelihara dari ucapan sia-sia dan menyakitkan adalah tanda kebijaksanaan dan kematangan iman.

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Lisan ibarat pedang bermata dua. Bila engkau menjaganya, ia akan menjagamu. Namun bila engkau biarkan, ia akan menjerumuskanmu.”

Al-Qur’an telah menegaskan peran lisan dalam kehidupan seorang Muslim, “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)

Betapa sering manusia terjatuh karena lisannya sendiri. Sebuah ucapan yang dianggap ringan, bisa berbuah dosa besar. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang ia anggap remeh, tetapi karena kalimat itu ia terjerumus ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak timur dan barat.” (HR. Bukhari & Muslim).

Sejarah maupun kehidupan nyata membuktikan, banyak orang besar tergelincir bukan karena lemahnya fisik atau kurangnya harta, melainkan karena lisannya.

Berapa banyak pejabat yang kehilangan jabatan karena pernyataan kontroversial? Berapa banyak tokoh yang reputasinya hancur karena ucapan yang menyinggung rakyat atau menyepelekan penderitaan? Bahkan di era media sosial, tidak sedikit orang berurusan dengan hukum hanya karena status, komentar, atau gurauan yang tidak bijak.

Ucapan yang salah bukan hanya merusak diri sendiri, tetapi bisa menciptakan kegaduhan, menimbulkan permusuhan, bahkan memecah belah persatuan bangsa. Karena itu para ulama salaf sangat hati-hati dalam berbicara.

Imam al-Hasan al-Bashri berkata, “Lisan seorang mukmin berada di belakang hatinya. Bila ia ingin berkata, ia renungkan dahulu dalam hatinya. Jika baik baginya, ia ucapkan; jika buruk, ia tahan. Adapun orang munafik, lisannya berada di depan hatinya. Ia berkata tanpa berpikir.”

 

Diam Adalah Keselamatan

Rasulullah ﷺ memberikan kaidah emas dalam menjaga lisan. “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim).

Diam adalah pilihan selamat bila ucapan hanya akan melahirkan dosa atau mudarat. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata, “Jika engkau ingin berbicara, pikirkanlah. Bila engkau yakin tidak ada mudaratnya, bicaralah. Bila engkau ragu, lebih baik diam.”

Orang yang mampu menjaga lisannya akan terjaga pula kehormatan dan martabatnya. Ucapan yang baik menebarkan kedamaian, memperkuat persaudaraan, dan mendatangkan pahala. Dengan lisan, manusia bisa masuk surga; dengan lisan pula manusia bisa tergelincir ke neraka.

Ibnul Mubarak rahimahullah pernah menasihatkan, “Betapa banyak orang yang menyesali kata-kata yang ia ucapkan. Namun jarang sekali orang menyesali kata-kata yang ia tahan.”

Menjaga lisan adalah bagian dari kesempurnaan iman. Ia bukan sekadar etika sosial, melainkan ibadah yang mendatangkan ridha Allah. Satu kata bisa mengangkat derajat, dan satu kata pula bisa menghancurkan segalanya. Karena itu, jadikan lisan sebagai sarana menebar kebaikan, bukan alat menebar fitnah, kebencian, atau kehancuran.*