Tadzkirah

Makna Thagut

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

 

DARI segi bahasa thagut berasal dari thugyan yang berarti melampau batas. Adapun yang dimaksudkan dengan thagut secara istilah disebutkan dalam kamus lisan al-Arab bahwa thagut adalah sesuatu yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan setiap kepala kesesatan adalah thagut.

Ibnu Jarir al-Thabari menjelaskan bahwa thagut adalah segala sesuatu yang melampaui batas terhadap Allah sehingga dia disembah disamping Allah. Apakah itu melalui paksaan dari dia terhadap orang sehingga menyembahnya ataupun ketaatan orang yang menyembah itu secara sukarela. Baik yang disembah selain Allah itu berupa manusia, syaitan, berhala, patung, maupun yang lainnya.

Ibnu Taimiyyah mendefinisikan thagut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah dan yang disembah itu menerimanya dan tidak menolaknya.

Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya I’lamul muwaqqi’in ‘an rabbil ‘alamien menyebutkan bahwa Thagut adalah apa saja yang diperlakukan hamba secara melampaui batas. Berupa sesuatu yang disembah (diibadahi), diikuti, maupun ditaati. Thagut setiap kaum adalah yang mana mereka berhukum kepadanya selain Allah, atau mereka mengibadahinya selain Allah atau mereka mengikutinya tanpa bashirah (penerang) dari Allah atau mereka mentaati dalam apa yang tidak mereka ketahui bahwa itu adalah ketaatan kepada Allah.

Inilah thagut-thagut dunia, bila engkau mengamatinya dan mengamati keadaan manusia di sekitarnya maka engkau akan melihat mayoritas mereka berpaling dari menyembah Allah kepada menyembah thagut. Dari berhakim kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi berhakim kepada thagut serta dari mentaati Allah serta mengikuti Rasul-Nya menjadi mentaati dan mengikuti thagut.

Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat dipahami bahwa setiap yang yang disembah atau ditaati selain Allah dan dia menerima untuk disembah dan ditaati adalah thagut. Dan thagut itu sudah jelas kekafirannya karena dia menjadi saingan Allah untuk disembah dan ditaati perintah-perintahnya. Inti daripada tauhid adalah mengesakan Allah dalam penyembahan dan menjauhi sesembahan selain Allah yang dalam Alquran sering disebut sebagai thagut.

لَا إِكْرَ‌اهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّ‌شْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ‌ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّـهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْ‌وَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّـهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Baqarah [2]: 256).

اللَّـهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِ‌جُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ‌ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُ‌وا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِ‌جُونَهُم مِّنَ النُّورِ‌ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَـٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ‌ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah thagut (syaitan), yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Surat Al-Baqarah [2]: 257).

أَلَمْ تَرَ‌ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِ‌يدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُ‌وا أَن يَكْفُرُ‌وا بِهِ وَيُرِ‌يدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (Surat An-Nisa` [4]: 60).

Tapi bukan berarti bahwa semua yang disembah dan ditaati selain Allah itu adalah thagut karena nabi, wali Allah dan orang-orang shaleh ada juga yang disembah. Begitu juga,  kuburan dan patung mereka dijadikan sebagai sesembahan selain Allah. Bukankah kemusyrikan pertama yang berlaku di atas dunia adalah kemusyrikan yang dilakukan umat Nabi Nuh yang membuatkan patung bagi orang-orang shaleh mereka dan kemudian menyembahnya.

Hal itu karena para nabi, wali Allah dan orang-orang shaleh itu tidak pernah meminta atau memerintahkan manusia untuk menyembah mereka dan mempersekutukan Allah dengan mereka. Bahkan mereka mengajak dan berdakwah kepada manusia agar hanya menyembah dan beribadah kepada Allah SWT serta memberi peringatan kepada manusia agar menjauhi segala sesembahan selain Allah Ta’ala.

وَإِذْ قَالَ اللَّـهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْ‌يَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّـهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (Surat Al-Maidah [5]: 116).

Wallahu a’lam bish shawab.*