Istighfar Berbobot

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Bagaimana agar istighfar kita berkualitas, berbobot? Selama ini apa motif kita beristighfar? Karena merasa bersalah? Merasa bersalah kemudian kita ampun. Apa tujuannya? Agar diampuni dosa-dosa. Memangnya jika tidak diampuni kenapa? Kita akan terancam dan merasa ketakutan.
Jadi, kalau alasan beristighfar karena takut ada ancaman, maka sejatinya itu sudah benar. Beristighfar yang benar itu berasal dari rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu dulu yang harus muncul pada benak kita.
Ada beristighfar tetapi bukan dilandasi rasa takut. Hal ini juga bagus. Sebab istighfarnya orang-orang tidak disertai rasa takut seperti orang yang baru berdosa, dia memiliki kenikmatan.
Beristighfar orang semacam ini menjadi life style, gaya hidup. Pada tingkatan spiritual tertentu, jika mereka tidak beristighar, maka seperti ada yang kurang dalam hidup. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menikmati istighfar. Bertaubatnya 70 kali sehari, beristighfarnya minimal 100 kali. Jadi ketika tidak beristighar itu seperti ada sesuatu yang hilang.
Ketika kita terus beristighar, akan ada impact perubahan-perubahan besar dalam hidupmu. Terutama aspek kebahagian batin. Ketentraman batin. Kesejahteraan batin. Inilah sebetulnya yang luput dari ibadah-ibadah kita selama ini.
Kita sangat fokus shalat tepat waktu, itu bagus. Tetapi kita tidak disiplin dan konsisten untuk rutin beristighfar setiap waktu. Pada awal pagi misalnya. Padahal ini sangat penting sekali, kita melakukan ibadah qalbiyah. Semoga kita termasuk orang-orang yang gemar beristighar. Aamiin. Wallahu ‘alam bish shawab.*
