Tadzkirah

Tiga Proyek Langit Penjemput Keberuntungan

Ilustrasi

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

DI TENGAH perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, manusia kerap disibukkan dengan berbagai proyek duniawi. Mengejar materi, membangun karier, memperluas jaringan, hingga mencari posisi yang dianggap menjanjikan masa depan. Semua itu tidak salah. Namun, ada satu pertanyaan yang sering luput: apakah semua ikhtiar tersebut telah disertai rahmat Allah SWT?

Sebab, sebesar apa pun pencapaian duniawi, tanpa rahmat Allah, ia dapat kehilangan makna. Harta yang melimpah belum tentu menghadirkan ketenteraman. Jabatan yang tinggi belum tentu melahirkan keberkahan. Bahkan, ilmu dan kekuasaan sekalipun dapat berubah menjadi sumber petaka ketika tidak berada dalam naungan rahmat-Nya.

Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya membangun proyek-proyek dunia. Ia juga perlu membangun “proyek langit”, yakni berbagai ikhtiar yang menjadi sebab turunnya rahmat dan keberkahan Allah SWT.

Salah satu pintu keberuntungan itu dijelaskan Allah SWT dalam firman-Nya:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran [3]: 104).

Ayat tersebut mengandung tiga amanah yang saling berkaitan: menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari kemungkaran. Ketiganya bukan sekadar tugas dakwah, melainkan jalan membangun kehidupan yang diridhai Allah.

 

Menyeru kepada Kebaikan

Proyek pertama adalah mengajak manusia kepada al-khair, kebaikan yang membawa maslahat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Dakwah tidak semestinya dimulai dengan kemarahan, hardikan, atau sikap menghakimi. Sebelum seseorang diajak meninggalkan keburukan, ia perlu diperkenalkan dengan keindahan kebaikan.

Di sinilah pentingnya menghadirkan dakwah yang mampu menyentuh kesadaran. Kebaikan tidak hanya disampaikan sebagai teori, tetapi ditawarkan sebagai jalan hidup yang membawa ketenteraman, kemaslahatan, dan keselamatan.

Dakwah yang kaya dengan narasi kebaikan akan membuka pintu hati. Sebaliknya, dakwah yang hanya menghadirkan kemarahan berisiko membuat pesan kebenaran kehilangan daya sentuhnya.

 

Menegakkan Kebajikan

Kebaikan tidak boleh berhenti sebagai wacana. Ia harus turun menjadi kenyataan.

Inilah makna amar makruf. Nilai-nilai yang diyakini harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari: ibadah yang tertib, kejujuran dalam bekerja, kebersihan, amanah dalam memegang tanggung jawab, serta keadilan dalam memperlakukan sesama.

Masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang kebaikan. Mereka membutuhkan teladan yang dapat dilihat dan dirasakan.

Karena itu, amar makruf sejatinya bukan sekadar aktivitas menyuruh orang lain berbuat baik. Ia menuntut kesediaan untuk terlebih dahulu menghadirkan kebaikan tersebut dalam kehidupan.

Kebaikan yang hidup dalam perilaku akan memiliki kekuatan dakwah yang jauh lebih besar daripada nasihat yang hanya berhenti di lisan.

 

Mencegah Kemungkaran

Setelah kebaikan diperkenalkan dan ditegakkan, proyek berikutnya adalah mencegah kemungkaran.

Nahi mungkar merupakan bagian penting dalam menjaga masyarakat agar tidak terbawa arus kerusakan. Kemungkaran yang dibiarkan dapat berkembang dan menjadi kebiasaan. Karena itu, diperlukan keberanian untuk mengingatkan dan mencegahnya.

Namun, mencegah kemungkaran juga membutuhkan hikmah dan perhitungan. Jangan sampai niat membendung kemungkaran justru melahirkan kerusakan yang lebih besar.

Karena itu, amar makruf dan nahi mungkar membutuhkan ilmu, kesabaran, keteladanan, serta kemampuan membaca keadaan. Tujuannya bukan sekadar memenangkan perdebatan atau menunjukkan siapa yang benar, melainkan menghadirkan perbaikan.

Ketiga amanah tersebut merupakan satu kesatuan.

Mengajak kepada kebaikan tanpa menegakkan kebaikan akan menjadikan dakwah berhenti sebagai gagasan. Menegakkan kebaikan tanpa mencegah kemungkaran membuat kebaikan mudah tergerus. Sementara mencegah kemungkaran tanpa terlebih dahulu menawarkan jalan kebaikan dapat membuat dakwah terasa hanya berisi larangan.

Karena itu, ketiganya perlu berjalan secara seimbang.

Inilah yang kemudian membutuhkan kehadiran sebuah komunitas atau kelompok yang secara sungguh-sungguh mengkhidmatkan diri untuk kemaslahatan umat. Bukan kelompok yang sibuk mencari pengaruh, melainkan barisan yang bekerja untuk menghadirkan kebaikan, menghidupkan kebajikan, dan mencegah kerusakan.

Pada akhirnya, keberuntungan yang dijanjikan Allah bukan sekadar keberhasilan mendapatkan sesuatu yang bersifat duniawi. Al-falah adalah keberuntungan yang lebih luas: keselamatan, keberkahan, dan keridhaan Allah SWT.

Maka, di antara kesibukan membangun proyek-proyek dunia, jangan sampai kita lupa membangun proyek langit. Sebab, ketika kebaikan diserukan, kebajikan ditegakkan, dan kemungkaran dicegah dengan cara yang benar, seorang hamba sedang mengetuk pintu rahmat Allah.

Dan dari sanalah keberuntungan sejati bermula.*