Tadzkirah

Jangan Sampai Pipa Rahmat Kita Tersumbat

Ilustrasi

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

ADA kalanya hidup terasa begitu kering. Rezeki terasa sempit, persoalan datang silih berganti, hati gelisah, sementara doa-doa yang dipanjatkan belum juga menemukan jawaban sebagaimana yang diharapkan.

Dalam keadaan seperti itu, manusia mudah bertanya, mengapa rahmat Allah SWT seolah jauh?

Padahal, Allah SWT tidak pernah kekurangan rahmat. Dia adalah Ar-Rahman, Yang Maha Pengasih, dan Ar-Rahim, Yang Maha Penyayang. Rahmat-Nya tidak mengenal batas dan tidak pernah habis.

Lalu, mengapa kehidupan seorang hamba terkadang terasa jauh dari ketenangan dan keberkahan?

Boleh jadi, persoalannya bukan pada sumber rahmat, melainkan pada saluran yang menghubungkan kita dengannya.

Ustaz Bachtiar Nasir dalam kajiannya mengibaratkan rahmat Allah seperti samudra yang tidak bertepi. Sementara ittiba’ur rasul, mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, merupakan “pipa” yang mengalirkan rahmat tersebut ke dalam kehidupan seorang mukmin.

Metafora sederhana ini mengandung pesan yang dalam.

Air yang melimpah tidak akan mengalir ke sebuah rumah apabila pipa tidak tersambung. Rumah bisa tetap kering meskipun sumber air berada begitu dekat.

Begitu pula rahmat Allah. Bukan karena rahmat-Nya sedikit, tetapi bisa jadi kehidupan kita belum tersambung dengan jalan yang mengantarkan rahmat tersebut.

Menghidupkan Sunnah

Mengikuti Rasulullah SAW bukan sekadar menghafal sunnah atau mengenalnya dalam berbagai kajian. Ittiba’ berarti berusaha menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam menjalani kehidupan.

Cinta kepada Rasulullah SAW semestinya melahirkan keinginan untuk mengikuti beliau.

Sebab, cinta yang hanya berhenti di lisan belum sempurna. Ia perlu diwujudkan dalam ketaatan.

Karena itu, ketika seseorang merasa berat menghidupkan sunnah, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah memperbanyak shalawat. Dengan shalawat, hati diharapkan semakin dekat dengan Rasulullah SAW dan tumbuh kecintaan kepada teladan yang beliau wariskan.

Mengikuti sunnah juga bukan perkara tambahan yang tidak memiliki tujuan. Di dalamnya terdapat upaya menjaga agama, memperbaiki ibadah, menguatkan penghambaan kepada Allah, menjaga kehidupan, serta membangun persatuan umat.

Sunnah mengajarkan bagaimana seorang Muslim menjalani kehidupan secara utuh.

Bahkan, Al-Qur’an secara tegas menghubungkan ketaatan kepada Allah dan Rasul dengan datangnya rahmat.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 132:

“Wa athi’ullaha war-rasula la’allakum turhamun.”

“Dan taatilah Allah dan Rasul, agar kamu diberi rahmat.”

Pesan yang sama juga terdapat dalam Surah An-Nur ayat 56, ketika Allah memerintahkan orang-orang beriman mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menaati Rasul agar mendapatkan rahmat.

Dengan demikian, rahmat bukan sekadar sesuatu yang kita tunggu. Ada jalan yang diperintahkan untuk ditempuh.

Rahmat Tidak Selalu Berupa Materi

Sering kali manusia mengukur rahmat dari apa yang tampak.

Ketika rezeki bertambah, kita menyebutnya rahmat. Ketika mendapatkan rumah, pasangan, pekerjaan, atau kesehatan, kita merasa sedang mendapatkan kasih sayang Allah.

Semua itu memang dapat menjadi bentuk rahmat.

Namun, ada rahmat yang jauh lebih besar dan sering kali tidak kita sadari: ketika Allah memberi kita pemahaman terhadap Al-Qur’an, membuka hati untuk menerima kebenaran, lalu memberi kemampuan untuk mengamalkannya.

Sebab, memiliki banyak hal belum tentu membuat seseorang dekat kepada Allah. Sebaliknya, sedikit harta tetapi hati yang tenang, iman yang terjaga, dan kemampuan menjalankan ketaatan merupakan karunia yang sangat besar.

Karena itu, jangan hanya meminta agar masalah hidup kita selesai. Mintalah pula agar Allah memberi kita petunjuk dalam menghadapi masalah tersebut.

Jangan hanya memohon agar rezeki dilapangkan. Mohonlah agar rezeki itu membawa keberkahan.

Jangan hanya meminta kehidupan yang mudah. Mintalah hati yang mampu menerima ketetapan Allah dengan sabar dan ikhlas.

Periksa Kembali Sambungan Kita

Ketika rumah terasa kering, orang biasanya memeriksa saluran air. Apakah pipanya tersumbat? Apakah sambungannya terputus? Apakah kerannya sudah dibuka?

Demikian pula ketika kehidupan terasa jauh dari ketenangan.

Ada baiknya kita berhenti sejenak dan memeriksa diri.

Bagaimana shalat kita? Bagaimana hubungan kita dengan Al-Qur’an? Seberapa dekat kita dengan sunnah Rasulullah SAW? Apakah shalawat masih menjadi bagian dari keseharian? Bagaimana akhlak kita kepada orang tua, pasangan, tetangga, dan orang-orang di sekitar?

Jangan-jangan kita terlalu sibuk meminta hujan, tetapi lupa memperbaiki saluran air di dalam rumah.

Jangan-jangan kita menyalahkan langit karena kehidupan terasa kering, padahal “pipa” yang menghubungkan kita dengan sumber rahmat justru tersumbat oleh kelalaian, kesombongan, maksiat, dan jauhnya kita dari tuntunan Rasulullah SAW.

Rahmat Allah tidak pernah habis.

Yang perlu kita lakukan adalah terus memperbaiki hubungan dengan-Nya dan mengikuti jalan yang telah ditunjukkan Rasulullah SAW.

Sebab, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar rahmat Allah yang mampu kita rasakan di dalamnya.

Barangkali, ketika hidup terasa kering, bukan hujannya yang perlu kita tunggu. Pipa rahmat dalam diri kitalah yang perlu kita periksa kembali.*